Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 143


__ADS_3

Bima mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, tapi nyatanya tidak bisa. Yang mereka berdua lakukan di luar sana membuatnya tidak bisa fokus dengan pekerjaan di pangkuannya. Pelukan mesra dan ciuman di pucuk kepala Lily membuat hatinya terasa panas. Tapi dia juga tidak bisa egois. Lily juga berhak mendapatkan kebahagiaan.


(Dasar Bima tukang ngintip!! 😒)


***


Bima Satria.


Sial sekali, hari ini aku harus meeting tapi hal penting untuk pembahasan meeting itu tertinggal rumah Dena. File yang sudah susah payah aku kerjakan semalam sampai aku tidur hampir dini hari.


Sudah dua malam ini Dena menginap di rumah mamanya. Ah seperti aku tidak punya istri jika Dena sangat sering pergi, ke Bandung lah, ke mana lah, dan sekarang ke rumah mama. Lain kali aku akan protes, biar saja jika Dena marah, aku hanya ingin perhatiannya!


"Lho kok tuan kembali lagi?" bibik datang menyambut kedatanganku dengan heran, pasalnya aku baru berangkat tiga puluh menit yang lalu.


"Ada yang ketinggalan!" ucapku dengan nada kesal. Dan bibik tidak berani lagi bertanya mungkin karena melihat raut wajahku. Dia memilih pergi dan menuju tempatnya di dapur, atau mungkin di rumah belakang. Entahlah.


Dengan cepat aku membuka laci meja. Obat lagi. Dan ini lebih banyak daripada kemarin! File yang aku cari tidak ada. Apa mungkin aku simpan di lemari? Masak sih? Bisa saja kan?!


Aku mulai menyusuri kotak demi kotak lemari yang penuh dengan pakaian kami. Membukanya dengan kasar, hingga tak sengaja beberapa baju jatuh ke lantai. Berlanjut pada lemari yang lain. Tidak ada! Tapi aku menemukan sesuatu yang membuat keningku berkerut. Sebuah amplop coklat besar dengan tulisan nama rumah sakit terkenal di Jakarta.


Heran. Kenapa amplop ini di simpan disini? Lemari yang sangat jarang sekali aku buka karena berisikan baju lama milik ku dan Dena. Seperti sengaja di sembunyikan.


Aku melemparnya di atas kasur lalu kembali mencari file yang aku butuhkan, tapi ternyata ujung mataku selalu tertuju pada amplop itu. Apa sih isinya? Membuat aku penasaran saja!


Foto rontgen. Dan aku tidak mengerti dengan istilah-istilah disana. Dena bilang dulu pernah di operasi untuk pengangkatan kanker pada hatinya. Mungkin ini miliknya dulu, sebelum kami menikah. Tapi dari kertas yang lain menunjukan kalau tanggal yang tertera disana adalah dua bulan yang lalu.


Deg.


Tiba-tiba saja aku seperti terhempas ke luar angkasa dan lubang hitam siap akan menelanku kapan saja.


Obat itu? Mungkinkah?!


Aku segera membuka laci yang berisikan beberapa obat, lalu mencecerkan obat-obat itu di atas kasur, mengambil salah satu obat dan membaca nama obat yang aku tidak tahu obat apa itu.


Sebut saja obat itu XX. Zaman sekarang meskipun tidak harus menemui dokter untuk bertanya toh ada 'Simbah Google' yang lebih cepat menjawab dari gawai, dimanapun, dan kapanpun.


Tanganku bergetar saat membaca fungsi obat tersebut. Tidak salah lagi. Salah satu obat untuk penderita kanker. Tapi kenapa...

__ADS_1


Sekali lagi aku membaca kertas putih dengan logo khas rumah sakit. Dena Abigail Usman. Nama istriku. Gak mungkin! Tapi kenapa Dena menyembunyikan ini? Sejak kapan?


Segera ku hubungi nomor Dena, tidak aktif, lalu nomor sopirnya. Sama saja. Tidak aktif juga! Ada apa ini?


Mama.


Ku telfon mama mertuaku, tapi bilang Dena tidak berkunjung kesana, bahkan sudah lama mereka tidak bertemu.


Apa yang terjadi? Bukankah dua minggu lalu Dena baru saja menginap tiga hari disana?


Hahh. Ya ampun. Dadaku sesak rasanya. Mataku memanas. Apa yang Dena sembunyikan? Apa mungkin dia disini? Ku tatap kertas putih di tanganku. Lalu segera memasukannya kembali ke dalam amplop.


Suara teriakan bibik dari belakang tidak ku hiraukan. Aku segera masuk ke dalam mobilku dan segera melesat dengan kecepatan tinggi.


Suara telfon berbunyi beberapa kali, tapi tidak ku hiraukan karena aku ingin segera cepat sampai disana.


Lagi telfon berbunyi, kali ini aku angkat karena mobil ku terjebak lampu merah. Lily. Oh ya aku lupa dengan meeting hari ini.


"Bisa undur waktu meeting besok? Aku ada perlu mendadak!" lalu hp ku matikan tanpa mendengar protes atau jawaban apapun dari Lily. Dan pastilah dia sekarang sedang marah-marah atau sedang mengutuk diriku dari meja kerjanya. Biasanya itu yang aku lihat saat dia harus mengatur ulang jadwal ku. Apalagi ini adalah meeting yang akan kami laksanakan di jam sepuluh ini. Maafkan aku Ly, tapi aku benar-benar tidak bisa datang sekarang! Ku serahkan urusanku hari ini sama kamu!


Mobil berhenti di parkiran yang sudah ramai kendaraan disana, segera ku langkahkan kakiku ke resepsionis dan menanyakan nama seorang dokter. Beruntung hari ini memang jadwalnya kerjanya pagi. Resepsionis itu menunjukan ku jalan ke arah ruangannya.


Setengah berlari aku menghampirinya, nafas ku terengah.


Ku angkat amplop coklat di tanganku. Matanya membulat, lalu ku lihat dia menggigit bibir bawahnya. Sepertinya dugaanku benar!


"Mana istriku?" tanyaku tanpa basa basi. Dia masih diam. Wajahnya seperti bingung dan entah apa lagi.


"MANA ISTRIKU?!" teriakanku membuat beberapa orang yang ada disana menoleh pada kami. Mataku sudah memanas sedari tadi dan siap meluncurkan cairan bening yang sudah tidak bisa aku tahan sedari pergi meninggalkan rumah tadi.


"Please, jangan bohong!" Wina menghela nafas pelan, lalu tanpa bicara dia berjalan entah kemana, aku hanya mengikutinya dari belakang. Kami berdua sama-sama diam, aku tetap mengikutinya.


Semakin lama langkahku terasa semakin berat. Tidak sanggup jika benar apa yang aku fikirkan terjadi. Aku harap ini hanya drama, hanya permainan istriku. Dena hanya ingin ngeprank aku seperti dalam video-video youtube orang lain yag tegang di awal tapi akan tertawa di akhir videonya.


Langkahku terhenti saat Wina sudah berhenti di sebuah ruangan. Dia terdiam menatapku yang sebenarnya ragu dan takut. Tanganku menggantung di handle pintu, takut. Aku berharap jika di dalam sana adalah orang lain. Tapi ucapan Wina malah mematahkan hatiku, membuatku harus melihat kebenaran yang ada di dalam sana. Harus mamastikan kalau bukan istriku yang disana.


"Dena ada di dalam." Rasanya tubuhku lemas. Lututku bergetar hebat, tapi aku menahan semuanya untuk benar-benar memastikan.

__ADS_1


Dengan segenap sisa kekuatan yang aku miliki, aku membuka pintu itu. Pemandangan yang sangat miris untukku, Dena sedang berpelukan dengan seorang pria. Dengan senyum tersungging di bibirnya, matanya tertutup, seperti sedang menikmati pelukan itu, sedangkan pria itu tak hentinya mengelus dan mengecupi pucuk kepala istriku.


"Sialan!!" Aku bergegas maju, tubuhku kembali kekuatannya. Menarik dia dari pelukan Dena lalu menarik kerah bajunya, memukul wajahnya hingga ia terhuyung ke belakang, menabrak meja nakas dan membuat nampan makanan dan gelas terjatuh ke lantai. Berantakan. Tidak ku hiraukan teriakan Dena yang memohon untuk melepaskannya. Aku gelap mata, bagaimana aku melepaskan orang lain yang sudah memeluk istriku, dan menciuminya. Siapa dia? Dia hanya sopir!!


"Mas please. Lepasin dia!" bahkan istriku memohon dengan sangat untuk melepaskannya. Apa mereka punya hubungan di belakangku?


Kembali ku layangkan tinjuku tepat di pipinya hingga ku lihat darah segar dari sudut bibirnya. Tapi aku tidak puas begitu saja. Tanganku masih cukup tenaga bahkan untuk membuatnya sekarat saat ini juga!


"Mas, Bima. Tolong lepaskan dia!" Entah sejak kapan Dena sudah memeluk kakiku. Dia tidak lagi di atas ranjang. Tetap tidak aku hiraukan. Dan sekali lagi aku akan melayangkan tinjuku pada lelaki yang sepertinya tidak berniat membalasku ini. "Dia kakakku, mas!" tepat di depan hidungnya, tanganku terhenti.


Kakak?


Aku menoleh pada Dena yang melantai lalu pada pria di depanku ini.


"Lepasin mas, dia kakak aku!" Dena tak sadarkan diri. Infus di tangannya terlepas entah sejak kapan. Dan oksigen yang terpasang di hidungnya tidak ada lagi. Tubuh lemahnya terbaring tak berdaya di lantai.


*


Ku tatap wajah Dena yang pucat, wajahnya semakin tirus. Pantas saja. Karena penyakitnya membuat Dena kehilangan berat badannya. Tangannya yang ku pegang semakin kecil dalam genggamanku. Tatapan matanya semakin hari semakin sayu.


Suami macam apa aku ini yang tidak perhatian dengan Istriku, dan bahkan aku juga percaya dengan segala kebohongannya.


Sudah satu jam ini Dena belum sadarkan diri. Dia masih setia dengan mimpinya. Bibirnya mengulas senyum


"Maafkan aku Bima!" suara pria tadi akhirnya. Setelah aku mendengar semua ceritanya bagaimana dia bisa jadi kakak kandung dari istriku. Bahkan aku tidak tahu istriku punya kakak. Dan aku dengar karena suatu masalah dia bersembunyi dari ibunya, dan menjadi sopir pribadi adiknya sendiri. Kenapa orang tua Dena tidak mengenali anaknya sendiri. Masalah apa yang mereka punya sebenarnya? Kenapa hidup Dena menjadi rumit? Mas Rian, sekarang aku harus memanggilnya begitu kan, menolak untuk bercerita.


Dena wanita yang kuat, aku yakin dia akan sembuh meski kata dokter kecil kemungkinannya, tapi aku yakin kecil bukan berarti tidak bisa kan?


Dena membuka mata, membuatku senang karena bisa melihat lagi bola mata indahnya.


"Lily." lirihnya.


"Kenapa Na?" aku mendekat untuk mendengar suaranya lebih jelas lagi.


"Maafin aku...Lily... Kamu harus bahagiakan dia." setitik air bening menetes dari mata indahnya.


"Janji mas. Kamu akan bahagia dan kuat sama Lily, meskipun aku udah gak ada!" suaranya lirih, bahkan setengah berbisik, membuatku tidak sadar aku sudah menangis sedari tadi.

__ADS_1


"Jangan nangis." ucapnya. Tangannya terulur mengusap air mata di pipiku.


"Kamu gak akan ninggalin aku kan?! Kita ke luar negeri. Kita cari dokter yang hebat supaya kamu sembuh, oke?" ku genggam tangannya dengan kuat, memberikan kekuatan dan harapan padanya. Dia hanya tersenyum tanpa memberiku jawaban.


__ADS_2