Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 76


__ADS_3

Dena pergi tidak menghiraukan Lily yang akan protes. Lily terdiam melihat Dena yang pergi keluar dari kamar.


Lily menatap sekeliling. Menghela nafas lega. Untung saja sebagian besar barangnya masih belum ia pindahkan ke kamarnya di atas.


Beberapa saat lamanya, Dena kembali ke dalam kamar kali ini bersama Bima di belakangnya. Bima dengan sikap santai, kedua tangannya di masukan ke dalam celana bahannya.


"Mas kamu itu. Lily sakit bukannya menanyakan kabar Lily!" protes Dena sambil memukul lengan sang suami. Bima merasa enggan, tapi tetap mengeluarkan tangan kanannya dan menempelkannya di kening Lily.


"Udah baikan, kan?" tanya Bima tapi pandangannya tertuju pada Dena. Pertanyaannya seperti meminta Dena yang menjawab.


"Yang sakit Lily, bukan aku!" sarkas Dena kesal. Lily tersenyum melihat kelakuan pasangan suami istri di depannya ini. Rasanya aneh melihat suami sendiri mesra dengan istrinya. Aduh! Resiko istri kedua!


Bima duduk di tepi ranjang yang lain sambil memainkan hpnya, sedangkan Lily dan Dena saling mengobrol dengan santai. Sesekali mereka tertawa, Bima melirik ke arah kedua istrinya. Mendengus kesal saat dirinya menjadi bahan pembicaraan menarik untuk mereka berdua.


"Sshhh." Dena menahan sakit pada perutnya dengan tangan kanannya, matanya terpejam. Hal itu tidak luput dari perhatian Lily.


"Mbak, masih sakit?" Bima menoleh karena mendengar pertanyaan Lily. Lalu pandangannya beralih pada istri pertamanya.

__ADS_1


"Ahh, mbak cuma sakit perut. Kayaknya tadi mbak kebanyakan makan sambal. Iya. Karena sambal mungkin." ucap Dena lalu bangkit berdiri.


"Kamu kenapa, Na?" Bima sudah berdiri dari tempatnya. Khawatir dengan Dena.


"Aku mau ke toilet dulu, mas. Jaga Lily ya." Lalu Dena memilih pergi ke luar kamar Bima, untuk menggunakan toilet yang berada di dekat dapur.


Lily dan Bima saling berpandangan. Lalu kembali pada fokus mereka masing-masing.


Sudah hampir setengah jam, Dena belum kembali juga ke kamar.


"Mas,"


"Mbak Dena kok udah lama gak keluar? Kamu lihat gih!" titah Lily. Bima melihat jam tangannya dan bangun dari atas kasur.


Bima berjalan ke arah kamar mandi di belakang. Suara Dena tidak terdengar dari dalam sana.


"Na!" panggil Bima sambil mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Bima lagi.


"Sakit perut mas. Tunggu di kamar aja, sebentar lagi aku keluar kok!" seru Dena dari dalam kamar mandi. Terdengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi. Bima segera berlalu dari sana menuju ruang tamu setelah merasa keadaan Dena baik-baik saja.


Sementara itu di dalam kamar mandi.


"Akh, ya ampun!" lirih Dena sambil terus memegangi perutnya. Dena sedang duduk di atas toilet yang di tertutup. Matanya terpejam, bibirnya ia gigit agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat heboh seisi rumah. Tangan kanannya erat memegangi kran air yang menempel di dinding. Air mata Dena perlahan keluar.


Dena meraih hpnya di dalam tas. Lalu menelfon seseorang dengan suara sepelan mungkin.


".... Tunggu aku disana."


'Oke!' jawab suara di seberang sana.


Dena menguatkan dirinya. Rasa sakit di perutnya masih terasa hebat. Suara ketukan di luar membuatnya mencoba untuk berdiri walaupun dengan tangan menopang kran air.


"Iya!" serunya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik aja kan, Na?" suara Bima mulai terdengar khawatir dari luar. Dena membuka kran di wastafel, ia mencuci wajahnya lalu mengelapnya wajahnya dengan menggunakan tisu.


"Udah ini mas, lagi cuci tangan!" seru Dena.


__ADS_2