
"Mbak udah anggep kamu kayak adik mbak sendiri. Jadi kamu jangan sungkan ya!" Lily tersenyum dan mengangguk pelan mendengar penuturan Dena.
Tak lama dokter datang. Dena turun dari ranjang Lily memberikan ruang kepada sang dokter untuk memeriksa keadaan Lily. Sang dokter bernama Melati tersenyum pada keduanya.
"Sudah enakan?" Tanya dokter setelah selesai memeriksa Lily.
Lily mengangguk pelan seraya membalas senyuman dokter cantik itu.
"Dokter, apa mungkin Lily hamil?" tanya Dena dengan antusias. Dia lupa kalau tadi pagi Bima bilang Lily sedang datang bulan.
Lily terkejut, sedangkan Dokter Melati mengerutkan keningnya.
"Sebentar ya, kita periksa dulu." ucap dokter Melati kemudian meraba perut bagian bawah Lily.
"Mbak. Lily sedang datang bulan." ucap Lily malu. Dena langsung merubah raut wajahnya, menurunkan bibirnya yang melengkung ke atas. 'Aku lupa kalau tadi Mas Bima juga bilang begitu.'
"Ibu Lily hanya demam biasa. Sepertinya kurang menjaga kesehatan." Dokter menjelaskan.
"Semalam Lily kehujanan mbak." jelas Lily membenarkan dengan cengiran khas di bibirnya.
Lily berbaring di kamar Bima. Sebenarnya Dena tidak setuju Lily pulang ke rumah. Dia masih khawatir dengan kesehatan Lily. Tapi Lily bersikeras ingin pulang, gak tahan dengan bau obat katanya! Maka setelah Lily makan bubur dengan disuapi Dena mereka pulang bersama sopir pribadi Dena.
"Mas Bima sebentar lagi pulang. Tadi sesudah mengantar ke rumah sakit dia kembali ke kantor gak bisa nemenin kita." ucap Dena sambil membantu menyelimuti Lily.
__ADS_1
"Maaf ya mbak. Lily jadi repotin mbak Dena!" Dena tersenyum lalu menggeleng.
"Gak repotin kok. Kalau gak sama saudara sama siapa lagi?" tanya Dena membuat mata Lily berkaca-kaca.
"Hei, kenapa nangis?" Lily mendongak lalu memeluk tubuh Dena yang semakin kurus.
"Makasih mbak. Mbak memang kakak aku yang paling baik!" ucap Lily di sela tangisannya. Dena mengusap kepala Lily dengan sayang.
Beberapa saat lamanya Dena membiarkan Lily menumpahkan kesedihannya. Dena sudah tahu perihal masa lalu Lily dan merasa iba.
"Mbak."
"Hem?"
"Mbak, kenapa mau Lily jadi istri kedua mas Bima?" Lily memberanikan diri. Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama ingin ia tanyakan. Dena hanya tersenyum.
"Memangnya kenapa? Kamu gak bahagia?" tanya Dena, tangan kanannya mengelus pipi Lily lembut.
"Lalu mbak? apa mbak bahagia berbagi suami dengan aku? Kenapa mbak mau membagi suami mbak dengan orang lain?"
"Aku cuma mau kebahagiaan untuk kita semua. Kamu lupa kenapa aku minta kamu untuk menikah dengan Mas Bima?" Lily terdiam. "Aku ingin punya anak, Ly. Anak kamu dan mas Bima. Dan aku juga gak akan khawatir dengan keadaan kamu! Kamu udah aku anggap seperti adik aku sendiri. Aku mau kamu ada yang jaga. Kamu gak bahagia hem?" tanya Dena lagi. Lily sebenarnya bingung mau menjawab apa.
"Aku bahagia mbak. Tapi aku juga merasa salah karena udah nerima pernikahan ini!" Lily menunduk, tidak berani menatap Dena.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan mas Bima? Apa mbak gak pernah nanyain perasaan mas Bima?"
"Gak perlu di tanyain lagi Ly. Aku tahu mas Bima udah cinta sama kamu."
Lily mendongak, tidak menyangka Dena berbicara seperti itu dengan santai.
'Tidak mungkin, mbak. Kalau saja mbak tahu bagaimana kami selama ini!' batin Lily.
Lily memperhatikan wajah Dena yang sedikit pucat, Dena juga seperti menahan sakit pada perutnya. Dia meremas perutnya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Mbak sakit? mukanya pucat!" tanya Lily. Dena menggelengkan kepala.
"Kayaknya lambung mbak kumat lagi." ucap Dena sambil meringis tapi bibirnya berusaha untuk tersenyum.
"Mbak belum makan?" tanya Lily. Dena menggelengkan kepala.
"Aku lupa." ucapnya.
"Lily bawakan makanan ya!" seru Lily berusaha bangun tapi di cegah Dena.
"Udah kamu tiduran aja. Mbak akan ambil makanan sendiri."
"Tapi mbak..!"
__ADS_1
Dena pergi tidak menghiraukan Lily yang akan protes. Lily terdiam melihat Dena yang pergi keluar dari kamar.