
Bima berkendara dengan perasaan kesal. Teringat saat Adit dan Lily mencuci piring bersama. Mereka saling tertawa dan melemparkan senyum. Rasanya sesak sekali hingga Bima sulit bernafas. Bima melonggarkan simpul dasinya.
Sampai di kantor. Bima tidak melihat Lily di mejanya. Menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi Lily tidak ada. Hanya ada tasnya yang terlihat di atas kursi Lily.
'Kenapa juga aku ini?' Bima melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan kerjanya. Bima membuka berkasnya, dan mulai memeriksa lembar perlembar.
Tok. Tok.
"Masuk!" ucap Bima tanpa menolehkan pandangannya.
"Hei mas. Kamu lagi sibuk?" Dena datang dengan membawa sebuah kotak bekal untuk Bima. Bima menoleh lalu tersenyum untuk istrinya.
"Kamu kesini?" Bima berdiri dan mendekat ke arah Dena lalu mencium kening istrinya dengan sayang.
"Maaf ya semalam, aku pasti bikin kamu khawatir!" Dena tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa sih mas?" Dena menarik tangan Bima untuk duduk di sofa.
"Untung semalam Lily telfon kamu udah ketemu. Aku takut kamu kenapa-napa!" seru Dena sambil melabuhkan kepalanya di pundak suaminya.
"Aku cuma kecewa karena kerjasama yang aku ajukan di tolak." Bima mengelus rambut Dena. Rasanya menenangkan sekali. Ia menyesal seharusnya semalam ia tidak pergi ke klub dan mabuk disana. Nyatanya pelukan Dena sangat bisa menenangkan dirinya. Seketika ia teringat tapi samar tentang kejadian semalam. Di mobil. Mungkinkah dia memeluk Lily? Ahh paling hanya mimpi.
__ADS_1
"Kenapa mas?" tanya Dena dengan mengangkat kepalanya saat Bima menggelengkan kepala. Di pandangnya Bima yang duduk di sampingnya.
"Enggak."
"Kamu udah sarapan? Aku bawa makanan buat kamu."
"Aku udah sarapan tadi." jawaban Bima membuat Dena menundukan kepalanya. Bima menyesal harusnya tadi dia berbohong saja. "Tapi aku lapar lagi." ucapnya lalu membuka kotak bekal yang Dena bawa. Bima kembali sarapan untuk kedua kalinya, dia tidak mau Dena kecewa dan sedih, meskipun sebenarnya perutnya sudah tidak kuat lagi.
"Mas. Kalau masih kenyang jangan diteruskan!" Sesal Dena yang seharusnya juga tidak menanyakan perihal sarapan. Tentu saja Lily juga tidak akan membuat Bima kelaparan kan!
Bima masih meneruskan makannya, hingga tinggal beberapa suap lagi. Untung saja porsi yang Dena bawa tidak terlalu banyak.
"Enak!" ucap Bima sambil menyimpan wadah kosong di atas meja. Dena tersenyum simpul.
"Gak pa-pa. Kamu udah susah payah bikin buat aku." Bima tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Dena mengerti akan kemauan Bima, dia mendekat dan kembali menyandarkan tubuhnya di dada Bima.
Pintu terbuka.
"Pak, ini ada...Eh mbak Dena?" Lily terkejut karena melihat Dena di sana.
"Kapan mbak Dena datang, Lily gak tahu." tanya Lily.
__ADS_1
Dena menjauhkan dirinya dari Bima karena merasa tidak enak pada Lily. "Baru saja Ly. Tadi kamu gak ada." ucap Dena.
"Oh mungkin tadi Lily lagi di pantry. Mas tolong tanda tangan ini." Lily menyerahkan berkas kepada Bima. Dengan cepat Bima menandatangani dan menyerahkannya kembali.
"Apa hari ini ada jadwal meeting?" tanya Bima.
"Gak ada mas."
"Aku mau pulang cepat siang ini."
"Mas sakit?" tanya Dena dan Lily bersamaan menatap suami mereka.
"Enggak. Mungkin masih terpengaruh alkohol. Kepalaku agak sedikit pusing."
***
Dena merengut sebal. Sekarang Dena dan Bima ada di dalam mobil.
"Kamu kenapa sih, Na?" tanya Bima saat melihat bibir istrinya mengerucut.
"Kamu bohong kan mas!" Dena menatap tajam Bima yang sedang menyetir. Di belakang mereka mengikuti mobil Dena yang di kendarai Rian.
__ADS_1
"Apa?!"
"Kepala kamu gak pusing kan?!" Bima terkekeh pelan. Dena memang selalu tahu akan dirinya. Ini hanya alasan saja karena hari ini Bima ingin bersama Dena. Seharian.