Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 141


__ADS_3

Lily sedang sibuk memasak sedangkan Yeni kembali ke ruang tv, dan menenggak jus yang sudah tidak dingin lagi. Yeni merasa heran dengan dengan pintu kamar yang sedikit terbuka, padahal tadi kamar itu tertutup. Dia mendekat ke arah kamar itu, sekilas melihat bayangan siluet seorang pria yang sedang sibuk mencari entah apa, mengacak-acak lemari lalu menutupnya, dan kemudian entah kemana.


Dada Yeni berdebar kencang, takut kalau-kalau itu maling. Dia sudah siap dengan vas bunga kecil di tangannya.


Pintu terbuka. Yeni melayangkan vas di tangannya ke arah orang yang baru saja keluar dari dalam sana, mata Yeni terpejam takut. Laju tangannya terhenti karena di tahan oleh orang itu. Yeni berteriak ketakutan.


Lily yang mendengar teriakan Yeni berlari dari arah dapur dan terkejut dengan kejadian itu, apalagi melihat Bima sedang memegang pergelangan tangan Yeni. Vas di tangan Yeni berada tepat di depan wajah Bima.


"Lily ini siapa?" Bima melepaskan tangan Yeni. Yeni yang mengenali suara itu lantas membuka matanya, lalu membulat saat melihat sosok yang menjadi idola di kantornya itu.


"Pak Bima?" hanya itu yang bisa Yeni keluarkan dari mulutnya. Sedangkan Bima keningnya mengkerut karena tidak mengenali siapa di depannya. Dia menatap Lily dengan tatapan dingin dan tajam.


"Eh, mas." Lily salah tingkah. "Ini Yeni, temen kantor Lily." Bima memutar bola mata malas, lalu pergi ke arah dapur untuk mengambil minum.


"Tunggu disini sebentar, oke!" titah Lily. Yeni hanya mengangguk tidak percaya dengan yang dilihatnya.


Lily menyusul Bima ke dapur untuk menjelaskan soal Yeni yang akan menginap di rumah ini.


"Ya, terserah kamu." ucap Bima akhirnya, setelah selesai minum.


"Makasih mas. Lily pastikan Yeni itu gak ember mulutnya kok. Dia bisa jaga rahasia. Um, mas ngapain kesini?" tanya Lily heran.


"Mau cari berkas., kalau gak salah kemarin di bawa pulang tapi lupa dimana." ucap Bima akhirnya. Dia melihat ada kulit bawang merah di rambut Lily lalu menyingkirkannya dengan tangannya. Lily kecewa ia kira Bima akan... Ah ternyata hanya mengambil kulit bawang.

__ADS_1


"Aku pulang ya." Lily mengangguk lalu mengantar Bima ke teras, sedangkan Yeni merasa tidak enak dia tersenyum ke arah Bima tapi tidak ada respon dari sang atasan, bahkan hanya tersenyum pun tidak.


Mobil Bima di parkir di luar. Pantas saja Lily tidak mendengar saat Bima pulang. Mobil itu lalu pergi menjauh.


"Kamu hutang penjelasan sama aku!" suara Yeni mengagetkan Lily yang masih terdiam di teras. Lily menoleh hanya tersenyum dengan kikuk.


Lily dan Yeni duduk di meja makan, setelah Yeni mandi dan mengganti baju. Mereka makan dengan diam. Lily lebih banyak menunduk atau membuang pandangan saat Yeni terus saja memandang dirinya dengan tatapan tajam yang penuh intimidasi.


"Ih gue udah gak tahan!" Yeni menggebrak meja, membuat Lily terlonjak kaget.


"Apa sih lo?" tanya Lily melihat wajah Yeni yang kesal.


"Jujur deh! Jadi yang selama ini gosip di kantor itu bener, pak Bima nikah lagi sama orang kantor kita itu ternyata kamu?" Lily menyimpan sendoknya lalu mengangguk pelan.


"Ya ampun. Sahabat gue..." Yeni menyandarkan dirinya di sandaran kursi.


"Aku bisa jelasin kok."


"Harus!" ucap Yeni kemudian.


Yeni manggut-manggut sambil memeluk bantal guling di depan perut buncitnya setelah mendengarkan cerita Lily, tapi soal kontrak itu Lily tidak berniat menceritakannya. Dia jadi faham sekarang.


"Ya jadi bukan pelakor dong! Hanya orang ketiga. Kayak di novel aja."

__ADS_1


"Sorry. Lily udah rahasiain ini." Lily menunduk tangannya memilin ujung selimut.


"Tadinya Lily juga udah minta pisah, tapi Lily gak tega mungkin ini permintaan terakhir mbak Dena. Lily bingung Yen!" seru Lily lalu merebahkan dirinya di kasur. Yeni menatap sahabatnya dengan iba.


"Tapi kenapa sih pernikahan kalian harus di rahasiain segala? Kan kamu jadi kayak gak di hargain gitu." Lily terdiam. Memang benar apa yang katakan Yeni, tapi mengingat siapa Bima, seorang pengusaha muda yang sedang naik daun, tidak mungkin akan merusak citranya dengan status punya dua istri.


"Iya Yeni faham. Pak Bima lagi naik daun sekarang. Dan itu pasti akan merusak citra dia kan?" Lily mengangguk Yeni seperti bisa membaca fikirannya.


"Mas Bima bilang tunggu waktu yang tepat buat kenalin Lily ke publik." ucap Lily terpaksa berbohong. Yeni bisa ngamuk kalau tahu semua detil cerita mereka.


"Tapi dia baik kan sama kamu?" Lily mengangguk. "Gimana malam pertama kalian?" Yeni menggerakan kedua alisnya naik turun dengan cepat menggoda Lily.


"Ih yeni..!!" seru Lily, memukul lengan Yeni dengan bantalnya pelan karena takut terkena perutnya.


"Eh pak Bima itu kayaknya tipe yang romantis ya?" Tanya Yeni dengan menyangga kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. " Tadi itu di dapur kalian ciuman kan? Cieee serasa dunia milik berdua gak inget ada aku disana?!" bibir Yeni menyunggingkan senyum jahil.


Lily teringat apa yang tadi di lakukan Bima padanya. Mungkin tadi saat itu yang Yeni maksud.


"Ih, Yeni ngintip ya! Jahat!" seru Lily pura-pura cemberut. Yeni hanya tertawa terkekeh.


"Gimana gak kelihatan coba orang dapurnya juga terbuka gitu! Makanya lain kali bikin dapur yang tertutup biar sekalian bisa ena-ena di...hmpttt." Ucapan Yeni terhenti karena Lily bangun dari pembaringannya dan membekap mulutnya dengan mata yang di buat melotot.


"Udah deh!" ucap Lily kesal lalu kembali menarik tangannya, Yeni tertawa keras melihat wajah Lily yang semerah tomat.

__ADS_1


Andai Yeni tahu apa yang tadi mas Bima lakukan. Kulit bawang! haha.


__ADS_2