
"Syifa kamu gak pa-pa?" tanya Lily yang baru saja masuk ke dalam kamar Syifa. Lily khawatir setelah mendengar duo rusuh bercerita.
"Enggak ma." jawab Syifa. Lily memeluk putrinya dengan sayang.
"Dia di gangguin si Bayu lagi, mbak."
"Bayu anaknya pak Danu?" tanya Lily. Santi mengangguk.
"Anak itu memang bandel! Harus di kasih peringatan, ini udah keterlaluan!" geram Lily. Lalu menatap kotak obat di samping Santi.
"Sudah aku kasih peringatan sama pengasuhnya mbak. Dan dia takut tadi. Maaf kalau saya lalai, mbak. Tadi ada telfon dari kampung." wajah Santi mendadak sendu.
"Ada apa?" tanya Lily. Santi hanya diam saja.
"Umm, Syifa turun dulu ke bawah ya. Main dulu sama kak Yumna. Mama mau bicara sama ibu Santi, boleh kan?" Syifa mengangguk lalu setengah berlari keluar dari kamarnya.
"Ada apa?" tanya Lily kemudian.
"Suami saya, ingin menggugat cerai. Saya di suruh datang buat ikut ngurus ke pengadilan." Mata Santi mulai berkaca-kaca. Lily terkejut. Pasalnya Santi selalu bilang kalau suaminya sangat baik dan penyayang.
"Bagaimana bisa?"
Santi menceritakan segala halnya. Suaminya sudah ketahuan berselingkuh sedari lama, mungkin salahnya juga karena dirinya jauh. Tapi apalah daya jika lagi-lagi masalah ekonomi yang membuat jarak di antara keduanya.
__ADS_1
Ibunya Santi sakit-sakitan, adiknya juga banyak. Dua adiknya sudah menikah, tapi ekonomi mereka tidak jauh berbeda, dan seorang lagi yang belum menikah hanya bekerja serabutan. Dan dua yang terakhir masih bersekolah di tingkat SMA dan SMP. Sang ayah hanya pengrajin anyaman bambu, itupun tidak setiap hari ada yang membeli. Sekalinya ada yang membeli di tawar dengan harga murah.
Belum lagi mereka juga harus menanggung hidup mertua yang juga tidak bekerja. Penghasilan yang di dapat sang suami hanya cukup untuk makan sehari-hari bahkan kalau tidak ada pekerjaan mereka harus makan ubi singkong, dan juga dapat cercaan dari sang mertua. Maka dari itu dulu Santi nekat bekerja ke kota.
"Kamu sabar ya." Lily mengelus lengan Santi, ikut merasa iba.
"Iya mbak."
"Kenapa gak pernah cerita?"
Santi menunduk.
"Malu buat ceritain aib keluarga mbak."
Keesokan harinya Santi izin untuk pulang, Lily memberikan izin sampai Santi menyelesaikan urusannya.
***
Lily dan keluarga besarnya berkumpul untuk sarapan bersama. Yumna makan dengan tenang di samping Bima. Syifa yang meradang karena kedua adiknya terus menjahilinya.
Lily merasa pusing. Setiap hari seperti ini lah keadaan keluarganya. Ramai.
"Arkhan! Azkhan!" tegur Bima saat keduanya tidak mau diam.
__ADS_1
"Cepat selesaikan makan kalian! Jangan ganggu Syifa, atau kalian akan dapat hukuman tidak mendapat uang jajan hari ini!"
"Iya papa!" seru keduanya lalu duduk dengan tenang dan menghabiskan makanan mereka. Bima tersenyum pada sang istri.
Selesai makan mereka pun melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Bima mengantar Yumna ke sekolah karena searah, dan Lily kini yang mengantar Syifa dan duo rusuh menggantikan Santi.
Mereka sudah sampai di sekolah. Lily menitipkan ketiga putra putrinya pada sang guru. Sebelum pulang Lily mencium satu persatu dari mereka.
"Dah mama." Syifa melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam kelas.
"Arkhan. Azkhan Gak mau cium mama?" tanya Lily sambil merentangkan tangannya.
"Gak, ah malu! Masa jagoan di cium!" ujar Arkhan, tapi beda dengan sang adik yang mendekat pada ibunya. Lily memeluk Azkhan dan mencium pipinya. Arkhan hanya melotot melihat sang adik yang tidak konsisten. Padahal tadi sudah sepakat!
"Bener gak mau cium?" goda Lily.
Arkhan memalingkan wajahnya tapi kakinya melangkah ke arah sang mama.
"Cepat nanti ada yang lihat!"
Lily tersenyum dengan tingkah sang anak.
Setelah selesai dengan segala urusannya di kampung Santi kembali ke rumah Lily untuk bekerja. Beruntung anak-anak yang sangat menyenangkan bisa sedikit mengalihkan kesedihan dirinya. Lily dan Bima juga majikan yang baik, dan juga rekannya yang lain sesama asisten di rumah Lily mereka juga sangat baik dan selalu menghibur dirinya disaat sedih
__ADS_1