
Lily menyimpan kembali hp itu ke atas meja. Matanya terasa panas. Hatinya sakit. Dia mulai memikirkan hal-hal yang lain. Pantas saja Bima akhir-akhir ini selalu aneh, dan apa mungkin ini alasannya ke Jogja karena ingin menemui wanita itu?
Kenapa harus ajak kita kalau cuma mau ketemu wanita?! geram Lily meremas baju kotor di atas pangkuannya.
"Sayang, kamu disini ternyata." Lily menahan tangisnya.
"Ehm, kebetulan anak-anak pergi. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Aku mau ngenalin kamu sama seseorang." ucap Bima sambil duduk di atas kasur.
"Aku sangat senang sekali akhirnya mendapatkan kabar bagus dari dia sama keluarganya. Aku gak sabar unt..."
"Kamu mau nikah lagi mas?" Bima terdiam menatap sang istri.
"Eling mas. Anak kamu itu udah banyak! Kamu mau cari yang gimana lagi? Oke aku udah gak seksi lagi, aku udah gak cantik lagi, tapi kamu pikirin juga anak-anak kamu. Gimana perasaan mereka?! Kalau aku gak punya anak sih itu terserah kamu mau nikah lagi sama siapa juga. Lah ini anak udah gede-gede mau kawin lagi. Mau cari lubang anak cacing? Mau cari gunung...hemmbbb" Bima menutup mulut Lily dengan satu tangannya.
"Maksud kamu apa?" tanya Bima bingung. Lily melepaskan tangan Bima dari mulutnya.
"Mas mau kenalin aku ke wanita yang akan jadi istri kedua kamu kan?"
Bima tertawa terbahak, mendengar penuturan sang istri. Lily bingung karena suaminya malah semakin keras tertawa.
"Kamu cemburu ya?"
__ADS_1
"Au ah!" Lily kesal.
"Lucu deh kalau cemberut gitu jadi pengen..."
"Pengen apa?" Lily mendelik.
"Pengen cium. Siapa tahu kalau cium nanti ada bonusnya! hehe.." ujar Bima.
"Emmohhh!!! Sana minta sama calon istri baru kamu, jangan sama aku!" Lily meradang kesal.
"Tapi aku sama maunya sama kamu! Mama, sayang." Bima meraih tangan istrinya.
Bima meraih tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang menciumi leher dan pundak Lily. Lily berontak.
"Kenapa kamu mikir aku mau kawin lagi hem?"
"Emang iya kan. Kamu telfonan sama cewek akhir-akhir ini, senyum, ketawa, bahagia banget!" ucap Lily kesal. Lily yang sekarang bukanlah Lily yang dulu, cengeng dan akan menangis.
"Haha, tentu aku bahagia, dapat kabar dari dia. Ini kabar bagus sayang!" ucap Bima mencium pipi Lily. Lily mengusap pipi bekas ciuman Bima dengan kasar.
"Kapan pernikahan kalian aku dan anak-anak gak akan datang! Minggir!" usir Lily akan bangkit, tapi Bima menahan tubuh istrinya.
__ADS_1
"Kita ketemu dia dulu! Kamu juga pasti akan senang!" sahut Bima.
"Dasar tukang kawin!" Bima tertawa terbahak.
Ih dasar. bangga di sebut tukang kawin? Lily.
Padahal dia juga sama. batin Bima tertawa dalam hati.
Akhirnya meskipun kesal dan merasa sakit hati, Lily mengikuti kemauan suaminya. Dia harus menguatkan hati. Mungkinkah Bima sudah tidak cinta lagi sama Lily? Tapi apa yang setiap hari Bima sampaikan dengan kata cinta itu?
Meski dalam hati Lily tidak percaya jika Bima...
Lily penasaran!
Lily dan Bima sampai di sebuah kafe. Wajah Lily cemberut. Marah, kesal, takut, sakit. Nano-nano!
Tak lama seorang wanita datang, wanita yang ada di foto itu. Cantik. Bahkan wajahnya seperti bule. Pantas saja jika Bima suka padanya.
Wanita itu mengulurkan tangannya di sambut tak acuh oleh Lily. Ketika wanita itu baru saja duduk seorang pria datang menghampiri.
"Sayang maaf, kamu jadi berangkat sendirian." ucap pria itu mengecup puncak kepala wanita di depan Lily. Lily hanya melongo menatap Bima, sedangkan Bima menahan tawa.
__ADS_1