
Matahari sudah muncul ke permukaan. Lily terbangun karena merasa silau saat sinar sang surya menerpa wajahnya. Kepala Lily terasa sedikit berat dan ia memutuskan untuk mandi.
Lily berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Rumah inj sangat luas berbeda dengan kediamannya yang hanya ada beberapa ruangan. Beberapa asisten juga sudah mulai dengan pekerjaannya.
Lily terus melangkah turun. Beberapa asisten menatap heran pada Lily yang baru saja lewat. Pasalnya tidak banyak yang tahu kalau nyatanya sang majikan punya istri yang lain. Hanya kepala pelayan dan bibik yang di percaya saja yang tahu akan status Lily.
"Nyonya dan tuan sudah menunggu anda di meja makan." ujar seorang wanita paruh baya, sambil tersenyum ramah. Lily tersenyum dan mengangguk lalu mengikuti kemana arah wanita tadi berjalan.
Di meja makan sudah tersedia beberapa hidangan. Terlihat Bima dan Dena sedang bercanda sesekali tertawa. Mereka belum tahu kedatangan Lily. Dan mereka diam saat bibik datang dan melaporkan Lily sudah siap untuk sarapan bersama.
Lagi. Lily harus merasa sesak melihat kenyataan ini bahwa Bima sangat sayang dan perhatian pada Dena. Lihat mereka, bahkan saat makan pun bukti cinta mereka terlihat nyata dalam segala perbuatannya.
Detik itu juga rasanya Lily ingin bumi terbelah menjadi dua dan menenggelamkannya di inti bumi.
"Ly. Mau kan kamu tinggal disini? Kamu bisa pakai kamar di atas." ucap Dena membuat Lily mengangkat pandangannya dari piringnya. Lily tersenyum kecut. Lama Dena tidak mendengar suara Lily.
"Na, jangan paksakan kalau Lily tidak mau. Lagi pula kasihan juga kalau Lily disini. Kamu juga kadang gak pulang dan sibuk di butik, kan?"
Dena memberengut, tapi kemudian mengiyakan. Lily bisa bernafas lega. Semalam saja di sini ia merasa tidak nyaman, apalagi jika harus tinggal disini.
Dena melepas kepergian suami dan madunya. Mereka sudah naik ke dalam mobil. Dia berjalan cepat ke arah kamar dan membuka laci nakas paling bawah. Mengambil beberapa obat dan menenggaknya dengan bantuan air. Dena terduduk di lantai dengan punggung bersandarkan ranjang, dia memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
***
Sore hari Bima pulang. Wajahnya terlihat lelah. Dia melepaskan sepatunya dan sama sekali tidak berniat menyimpannya di rak sepatu yang berada tidak jauh disana. Melepaskan jasnya dan melemparnya ke sembarang arah, begitu juga dengan dasi merah yang ia kenakan, tergeletak begitu saja di lantai. Tas kerja ia lempar ke atas sofa.
Bima merentangkan kedua tangannya lalu merebahkan dirinya dengan kasar di atas kasur. Nyaman sekali. Rasa penat di otaknya sedikit demi sedikit terkikis menghilang.
Matanya hampir tertutup sempurna, tapi kemudian kembali terbuka saat bayangan gadis kecil lagi-lagi terlintas di kepalanya.
'Kenapa sih? Selalu aja mengganggu. Please tinggalin aku. Kamu hanya masa lalu ku kan?'
Rasanya Bima lelah. Dia tidak ingin terus di bayangi oleh senyuman gadis kecil itu.
Obat? Kenapa banyak sekali? batin Bima memandang beberapa obat berukuran besar yang membuatnya merinding. Lalu dia membuka laci lebih lebar lagi dan menemukan apa yang ia cari.
Sebuah origami kusut dengan warna pink yang ia simpan di dalam kotak kayu dengan kaca di bagian atas. Bima tersenyum memandang origami tersebut.
Bima Satria.
'Sebenarnya dimana kamu, Una? Padahal ini sudah sangat lama, tapi bayangan kamu masih saja selalu mengikuti aku sampai sekarang. Bahkan aku juga tidak bisa melupakan kamu meski sekarang aku sudah bahagia dengan Dena! Kalau saja aku bisa menemukan kamu sebelum bertemu dengan Dena. Pastilah kita akan hidup bahagia kan? Maaf aku sudah ingkar dengan janjiku. Aku gak bisa nemuin kamu dimanapun waktu itu. Kenapa kamu menghilang Na? Harusnya kamu tunggu aku datang.'
'Aku sempat frustasi saat itu. Bayang-bayang kamu selalu aja ikutin aku ke segala arah, di setiap waktuku yang aku pikirin cuma kamu. Meskipun aku selalu berusaha mengenyahkan fikiran aku tentang kamu. Sampai aku bertemu dengan seorang gadis, dia baik. Cantik. Ramah. juga sopan. Dena. Sedikit demi sedikit dia bisa membuat aku lupain kamu. Aku berusaha bahagia sama dia, karena aku gak mau gila terus-terusan mikirin kamu! Tapi kenapa kamu masih ada disini, selalu mengganggu aku. Apa kamu gak mau aku bahagia? Janji? Apa karena janji? Itu janji bodoh kan!'
__ADS_1
'Harusnya aku gak usah janji waktu itu. Biar saja kalau kamu nangis saat aku pergi. Biar saja kalau kamu benci aku. Harusnya aku gak peduli kan! Mungkin kalau aku pergi kamu gak akan manja lagi! Gak akan ada anak manja yang selalu ikutin aku kemanapun aku pergi.'
Ku pegang erat kotak kaca itu, mataku terasa panas, tidak terasa satu bulir air mata jatuh tanpa bisa ku mengerti kenapa. Aku membanting kotak kayu itu hingga membentur dinding dan pecah berserakan di lantai. Origami burung itu tergeletak tak jauh dari kotaknya.
"Mas!" panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar. Dena baru saja pulang. Dia terdiam melihat kekacauan yang aku buat. Tatapannya nanar tertuju pada origami kesayangan yang selama ini masih aku simpan.
Aku sama terdiam menatap Dena, wanita yang selama ini mendampingi aku di saat aku terpuruk.
Dena mendekat dan memelukku. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan melabuhkan kepalaku di dadanya. Tangannya mengusap kepalaku lembut.
"Dia tetap gak mau pergi, Na." aku mengadu. Dena masih mengusap kepala ku dengan sayang. Air mata ku semakin deras mengalir tanpa bisa aku tahan.
"Dia gak mau pergi! Aku gak bisa lupain dia. Maaf. Maaf."
Dena terdiam. Lalu kurasakan sentuhan lain di kening ku. Hangat rasanya, menenangkan.
"Kalau gitu jangan di lupain. Aku udah bilang kan dari dulu, kenangan manis itu jangan di lupain."
"Tapi ini menyiksa, Na. Aku ngerasa udah hianatin kamu." lirihku. Dena duduk di pangkuanku, dan membingkai wajahku dengan tangannya. Mangusap air mata ku dengan kedua ibu jarinya.
"Aku terima kamu apa adanya. Oke!" sinar matanya begitu menyejukan. Aku mengangguk, dan memeluknya dengan erat. Air mataku sudah tidak keluar lagi.
__ADS_1