
Ratih datang berkunjung ke rumah Lily. Yumna sedang menikmati makan siang di suapi Santi dan baby Syifa juga sama, Ratna pengasuhnya, sedang menyuapinya dengan bubur bayi. Sekarang usia Syifa sudah tujuh bulan dan sudah lancar merangkak.
"Cucu neneeekk!!!" Ratih berseru setelah masuk ke dalam rumah. Syifa yang sedang asyik makan seketika menoleh dan merangkak mendekati sang nenek. Suara Syifa terdengar memanggil meski belum jelas berucap.
Ratih dengan cepat menggendong Syifa dan menciumi pipi batita itu dengan gemas. Syifa senang akan perlakuan neneknya dan tertawa dengan sangat renyahnya.
Ratih duduk di atas karpet. Ruangan itu sengaja di kosongkan dan hanya di gelar karpet dari balok puzzle untuk area bermain Yumna dan Syifa. Di ruangan itu hanya ada tv berukuran besar pada lemari, dan ada pula kasur busa untuk sekedar berbaring sambil menonton tv. Lily dan Bima ingin memastikan anak-anak mereka tidak terluka saat terjatuh.
Ratih mengambil mangkuk bubur dari Ratna dan menyuapi cucunya. Syifa menerima suapan dari neneknya, sesekali dia melonjak senang dari duduknya dan betceloteh tidak jelas.
"Una dan Bima mana?" tanya Ratih pada Santi.
"Biasa Nya. Lagi tanding!" Santi berujar dengan santainya, membuat Ratna menahan tawanya. Santi memang sudah biasa seperti itu dengan Ratih.
"Bola sodok lagi?" Santi dan Ratna mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Ya ampun!! Bukannya kerja, malah tanding lagi. Dari kapan?"
"Ad sejam Nya!"
"Ckckck." Ratih berdecak. "Kamu juga kenapa gak ngingetin mereka, jangan terlalu sering. Una itu harus jaga kesehatannya. Jangan keseringan main bola sodok. Bima juga kenapa gak ngerti!" wajah Ratih terlihat kesal, tapi sedetik kemudian wajah itu berubah lembut saat menyuapi Syifa.
"Santi mah gak berani Nya. Orang mbak Lily nya juga sekarang mah galak, suka marah-marah, lebih cerewet. Pak Bima juga kalah, kalau mbak Lily udah ngeluarin taringnya."
Yumna yang sedari tadi diam, menarik baju sang nenek. Dia merasa penasaran akan sesuatu.
"Itu permainan yang bikin capek Yumna, Yumna gak bisa main itu, susah. Umm nanti Yumna main sama Bu Santi saja ke taman yuk. Mau? Main ayunan?!" bujuk Santi sebelum Yumna semakin banyak bertanya hal yang tidak bisa mereka jawab.
Yumna menjawab dengan anggukan lalu kembali membuka mulutnya menerima suapan dari Santi.
Ratih bernafas dengan lega.
__ADS_1
Lily dan Bima baru saja keluar dari dalam kamar, badan mereka sudah segar, rambut mereka juga basah. Mereka berjalan ke arah dapur. Pergulatan mereka membuat keduanya sangat lapar.
Lily mengambilkan nasi untuk Bima beserta lauknya. Mereka makan dengan lahap tidak mengetahui dengan kedatangan mama Ratih.
"Bima. Una!" keduanya menoleh dan mendapati Ratih di belakang dengan kedua tangan di pinggang.
"Eh mama. Mama kapan datang? Mau makan?" tanya Lily.
Ratih duduk di meja makan. Lily mengambilkan nasi untuk Ratih sekalian lauk pauknya juga.
Mereka makan dengan diam.
Bima dan Lily merasa mama Ratih setelah ini akan berpidato panjang lebar.
Semua selesai dengan makan siangnya.
__ADS_1
"Bima. Una. Ikut mama sekarang!" ucap Ratih. Dan benar saja setelah sampai di ruang kerja Bima, mama Ratih berpidato dengan indahnya.