
Rian menutup matanya, teringat akan pertemuan pertama kali dengan Dena. Gadis yang sudah membuatnya tersadar dan kembali ke kehidupan yang lebih baik. Gadis yang sudah memberikannya perhatian dan kasih sayang yang selama ini ia dambakan.
Flashback of Rian.
"Mas rian ya?" tanya seorang gadis padaku, saat aku duduk sendirian di taman dengan danau buatan yang ada di depanku. Senyumannya manis sekali dengan deretan gigi putih yang sangat rapih. Rambutnya pendek sebatas bahu dengan poni yang menutupi kedua alisnya. Matanya bulat dengan manik mata coklat gelap, mirip denganku. Bibir tebal mempesona dengan wajahnya yang kemerahan karena udara panas.
Tanpa permisi dia duduk tepat di sampingku. Apa dia tidak tahu sopan santun! Aku hanya diam cuek, tidak menanggapi, tapi dalam diam aku memperhatikan dia yang sudah berani duduk di sampingku dengan senyum yang merekah dari bibirnya.
"Ini mas Rian, kan?" dia bertanya lagi. Aku heran beberapa hari ini gadis ini selalu mengikuti ku. Aku disini dia ada. Aku disana, gak lama juga dia ada, sekedar menyapa atau hanya melambaikan tangan padaku. Aishh, apa dia penguntit?
Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Sebungkus coklat dengan isian kacang di dalamnya.
__ADS_1
"Ini! Mas suka kan?" ucapnya sambil menyodorkan coklat tersebut, dia kembali tersenyum. Manis sekali. Apa dia salah satu penggemarku?
Senyumnya mereda saat aku tidak juga mengambil coklat itu dari tangannya. Dia terlihat kecewa. Entah kenapa aku jadi kasihan padanya.
"Gak mau, ya?" nada suaranya berubah sendu. Tangannya ia turunkan ke atas pangkuannya, bahunya merosot ke bawah, begitu pula dengan wajahnya yang ia tundukan.
Ya ampun kenapa rasanya tidak tega, padahal aku ahlinya mematahkan hati wanita.
"Thank's" ucap ku sambil berdiri lalu pergi dari sana. Aku tersenyum tipis saat mendengar dia akan menemuiku lagi esok hari. Aneh rasanya.
Sudah hampir seminggu kami terus bertemu, setiap kali itu juga dia memberiku coklat. Entah itu di taman saat aku ingin menenangkan diri. Menunggu ku di luar klub, atau di tempat biasa aku balapan dengan teman-temanku. Entah apakah dia memang mengikutiku? Aku harus tanyakan ini padanya!
__ADS_1
Seminggu lagi telah berlalu, dia tidak pernah datang lagi. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri. Kemana dia? Apa dia sakit? Bagaimana keadaannya? Atau apakah dia marah karena aku terlalu cuek padanya?
Ahhh... kenapa aku mulai terusik dengan kehadiran dia? Toh siapah dia? Bukan kah dia sama seperti yang lainnya, hanya wanita yang mengagumiku mungkin. Kalau tidak kenapa dia terus mengikuti aku dan memberi aku coklat setiap ketemu?!
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang. Jalanan sedikit ramai. Mungkin karena waktu makan siang dan jam pulang sekolah.
Di sebuah halte pandanganku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk sendirian. Memainkan hpnya, sesekali dia menoleh seperti mencari sesuatu atau seseorang. Aku menghentikan kendaraanku tidak jauh dari sana, dan terus memperhatikan dia yang kembali menekuri hpnya.
Satu jam berlalu, dia masih duduk disana, wajahnya terlihat sangat kesal. Beberapa kali menempelkan hpnya di telinga, lalu menjauhkannya lagi. Dia duduk dengan posisi melengkung menopang kedua sikunya dengan lutut, lalu berdiri di tepi jalan sambil memegang kedua tali tas punggungnya, kembali menoleh dan kecewa karena yang di tunggunya tidak juga datang.
Aku masih memperhatikan tidak ada niatan untuk mendekat dan menawarinya tumpangan.
__ADS_1