
Bima Satria.
Aku lega saat Dena menelfon dan ternyata ada Lily bersamanya. Segera aku bilang untuk menyerahkan hp nya pada Lily. Terdengar suara halus Lily dari seberang sana.
"Kamu kemana aja! Aku tunggu kamu dari tadi! Kamu gak tahu apa aku khawatir?!!"
Eh, ko' aku bilang gitu? Tadinya kan aku mau bilang dia buat balik ke kantor aja, kenapa jadi kalimat itu yang aku ucapkan?
'Mas biasa aja dong kalo ngomong. Kuping Lily sakit nih!' suara Lily dari kejauhan sana. Aku jadi kesal sendiri bukan lagi karena Lily belum kembali, tapi karena perkataan yang tidak aku duga sebelumnya. Dalam hati aku merasa lega karena Lily baik-baik saja.
'Maaf mas. Tadi waktu istirahat kami akan makan di kedai bakso tapi Yeni keserempet motor, jadi Lily bawa ke rumah sakit.'
Tutt... Tutt.
Sengaja aku mematikan sambungan telfonku, aku tidak mau lagi salah ucap karena mengkhawatirkannya. Lalu dengan cepat aku mengetik agar dia tidak usah kembali ke kantor saja. Lagipula jam pulang juga sebentar lagi mengingat tempat Dena dan Lily berada sekarang yang jauh dari kantor.
Biarlah mereka berdua bertemu.
__ADS_1
Sore hari aku pulang ke rumah Lily, ini malam terakhir aku menginap disini. Kembali teringat perkataan Rio. Rio adalah seorang psikiater, dia juga salah satu sahabatku yang lain selain ketiga kampret itu. Dia tidak terlau dekat dengan yang lainnya karena dia tidak suka dengan gaya hidup ketiga sahabatku yang bebas. Rio tahu semua permasalahanku. Sedari dulu, sebelum aku bertemu Dena, aku lebih dulu mengenal Rio karena mama memaksaku datang kemari untuk berkonsultasi. Sumpah aku hampir saja gila kardna bayangan Una kecil tangvterus mengganggu fikiranku. Mengganggu tidurku, bahkan saat mata ini terbuka sekalipun.
Usia Rio lima tahun di atasku. Lebih tepatnya, aku juga merasa dia sahabat juga kakakku. Tidak ada rahasia diantara aku dan dia.
"Jangan di lupakan?" lirihku saat Rio mengatakan agar aku tidak melupakan kenangan indah tentang Una.
"Gak mungkin!" ucapku saat mengingat kelanjutan dari yang Rio katakan kemarin. "Gak mungkin aku cinta Lily! Sudah jelas yang aku cinta itu Dena. Tidak! Una. Argghht." Aku bangkit dari tidurku lalu menarik rambutku geram. Bingung.
"Siapa yang aku cinta?" tanyaku pada diri sendiri. Tapi aku juga tak tahu siapa dari jawaban atas pertanyaanku sendiri.
"Una juga punya lesung pipi kayak kamu." ucapku tanpa sengaja membandingkan foto di depanku dengan wajah gadis berumur tujuh tahun dalam ingatanku.
Aku tertawa sendiri mengingat kekonyolanku, membandingkan dua foto yang jelas berbeda.
***
Lily terdiam memandang sebuah kotak berwarna silver yang ada di nakas kamar Bima. Sudah tiga hari ini dia tidur di kamarnya sendiri setelah Bima kembali ke kediaman Dena, berarti juga kamar Bima terkunci selama itu. Niat Lily mau membersihkan kamar Bima.
__ADS_1
"Mbak!" panggil seseorang dari luar. Lily keluar dari kamar Bima.
"Iya bik?" tanya Lily setelah menemui bibik yang setia menunggu di luar.
"Untuk makan malam sudah saya siapkan nanti mbak Lily tinggal hangatkan kalau mau makan malam." ucapnya sopan. Lily mengangguk.
"Saya permisi pulang ya mbak." pamit bibik yang berusia empat puluhan itu.
"Tunggu sebentar bik. Tolong ini di bawa ya." Ucap Lily seraya pergi ke arah dapur, sedangkan bibik mengikuti di belakang.
Lily mengeluarkan beberapa kantong makanan ringan yang sempat ia beli saat mampir ke mini mart.
"Ini buat Rano. Dan ini tolong kasih pak Dani ya." ucapnya sambil memberikan dua bungkusan makanan itu pada bik Ela untuk anaknya yang masih kecil.
"Trimakasih mbak. Wah Rano pasti senang ini. Trimakasih." ucap bibik sekali lagi lalu kembali pamit untuk pulang setelah seharian ini beres-beres di rumah Lily.
Lily kembali ke dalam kamar Bima. Dia penasaran dengan kotak silver di kamarnya.
__ADS_1