Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 183


__ADS_3

(SEBELUM BACA MOHON SIAPKAN TISU!)


Mulai hari ini Lily dan Yumna tinggal di rumah Azka bersama kedua otangtuanya, meskipun mama Puspa sedih, tapi dia harus merelakan Lily dan Yumna karena mereka sudah menjadi bagian dari keluarga Azka.


Lily sudah tidak lagi bekerja, kesehariannya hanya ia habiskan untuk menemani Yumna dan juga Melati di rumah. Melati sangat bahahia akhirnya punya menantu plus cucu. Mama dan papa Azka tidak keberatan dengan status Lily sebelumnya. Yang penting adalah kebahagiaan Azka!


Ini malam ketiga Lily di rumah Azka. Azka sedang tiduran di paha Lily, Lily mengusap lembut rambut Azka. Azka berkeluh kesah tentang kerinduannya pada sosok Lily saat ia di kantor. Biasanya Azka akan beberapa kali lewat ke ruangan Lily hanya sekedar untuk melihat Lily, tapi sekarang Lily tidak di kantor membuat dia rindu setengah mati. Apalagi setelah mereka menikah. Satu hari berasa seribu tahun untuk Azka. Ih dasar Azka lebay!!!


"Maaf, ya. Dua hari ini mas kerja, karena mas ingin besok saat kita bulan madu mas gak kepikiran soal kantor, sementara papa yang akan pegang perusahaan selama kita disana." Lily mengangguk faham. Mereka akan pergi ke Jogja besok.


"Lily juga minta maaf mas. Karena belum bisa kasihin yang mas mau." ucap Lily pipinya bersemu merah karena malu.


"Tamunya belum pergi juga?" Azka mendongak dan mendapati Lily yang semakin merah wajahnya. Lily mengangguk semakin malu karena pertanyaan Azka. Keesokan harinya setelah mereka menikah Lily kedatangan tamu bulanan, membuat Azka harus berpuasa.


"I-iya..."lirih Lily membuang wajahnya yang terasa panas ke samping karena Azka terus menatapnya sambil mengulum senyum. Lelaki ini semakin tampan kalau di lihat secara dekat.


"Kenapa? Kok malu?" tanya Azka kini ia beringsut dari pembaringannya lalu mensejajarkan kepalanya dengan Lily. menatap wajah Lily yang sama memerahnya dengan dirinya.


"Enggak apa-apa."


"Kata mama kalau wanita kedatangan tamu trus kita ummm anuu...itu..." ucap Azka terputus wajahnya sendiri terasa panas, malu untuk meneruskan kalimatnya. Dia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa?" tanya Lily menatap wajah merah Azka.


"Katanya, akan cepet punya anak?" Lily faham maksud tujuan Azka, tapi bertanya pada mama, itu memalukan!


"Ih! Mas Azka cerita sama mama?!" Lily melotot kesal. Azka tersenyum meringis sambil membentuk tangannya ber'piece' ria. "Malu-maluin! Yang kayak gitu gak usah di tanyain juga kali mas!" Lily memukul suaminya dengan bantal.


"Ampun. Ampun!" mohon Azka padahal tidak sakit sama sekali.

__ADS_1


Lily kemudian diam. Lalu, "Gak tahu." ucap Lily. "Emang mas mau punya anak berapa?" tanya Lily.


"Banyak. Mas gak mau cuma satu atau dua, mas mau banyak. Mas mau buat pasukan, kayak keluarga Halilintar itu!" ucap Azka membuat Lily membelalakan matanya dan menelan saliva karena merasa harus berjuang keras untuk menjadi seperti mereka.


"Haha. Tapi mas gak akan maksa kok. Semampunya kamu aja sayang!" Azka tertawa geli melihat wajah sang istri yang tiba-tiba pucat karena permintaannya.


Dia merengkuh Lily ke dalam pelukannya. Mencium pucuk kepala Lily, sayang. Lily melingkarkan tangannya ke pinggang Azka. Merasakan kehangatan dan mendengar detak jantung suaminya yang tidak beraturan.


Azka terus menciumi kepala Lily, lalu turun ke kening, hidung, pipi, dan berakhir di bibir Lily yang terasa manis. Sekarang bibir Lily sudah menjadi candunya. Lily perlahan sudah menerima Azka di dalam hatinya, walaupun sedikit.


"Mamaaaa....." teriakan seorang anak kecil membuat mereka terkejut, mereka segera melepaskan tautan bibir mereka dan menjauhkan diri. Saling melirik kikuk karena terciduk. Salah tingkah. Yumna berlari ke arah mereka, dan langsung melompat ke atas kasur.


"Yuma mau bobo sama mama sama papa." ucapnya menempatkan diri di tengah antara keduanya. Lily dan Azka kembali saling melirik. Lalu Azka tersenyum meringis.


"Mas lupa gak kunci pintu!"


*


Lily dan Azka pergi ke rumah Mama Puspa hanya berdua, sedangkan Yumna di titipkan pada Mama Melati karena masih tidur siang. Selain akan berpamitan pada mama Puspa juga akan bertemu dengan Adit, Lily juga akan mengambil barangnya yang belum sempat di bawa, salah satunya adalah foto orangtua Lily dan foto Bimbim.


Beruntung, Adit masih tiga puluh menit lagi berangkat ke bandara.


Setelah semua selesai Lily pamit pada Adit dan mama Puspa takut jika Yumna sudah bangun karena biasanya Yumna akan bangun pada jam dua siang. Bersamaan dengan Adit pergi ke bandara, Lily dan Azka pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan, entah kenapa Lily terus memandangi suaminya. Ada rasa tidak rela jika sedetik saja ia memalingkan pandangannya. Tangan Lily dan Azka saling bertautan erat.


"Kenapa sih lihatin mas terus? Mas ganteng ya?" Azka tertawa membuat Lily merasa malu.


"Pengen lihatin aja. Gak boleh ya lihatin suami sendiri?"

__ADS_1


"Udah mulai jatuh cinta nih?"


"Gak tahu juga." ucap Lily sambil tersenyum. Entahlah rasanya, aneh sekali. Apa mungkin Lily sudah jatuh cinta pada Azka, tapi Lily rasa perasaannya masih sama, hanya saja kali ini ada perasaan takut yang menggelayutinya, perasaan takut di tinggalkan.


Azka fokus mengendarai mobilnya, sesekali melirik dan menggoda istrinya. Lampu di depan mereka sudah menyala kuning, tidak akan sempat jika Azka terus menginjak pedal gasnya, maka dari itu Azka menginjak rem sebelum lampu berubah berwarna merah. Tepat waktu saat mereka berhenti di garis marka. Azka mengambil tangan Lily untuk di ciumnya. Lily tersenyum senang bercampur malu.


Brakk!!!


Azka terhenyak kaget, melihat ke arah Lily yang kini keningnya terbentur dashboard, ia pun sama, dadanya terhentak keras pada kemudi hingga ia merasakan ada sesuatu yang mendesak keluar asin bercampur amis di dalam mulutnya.


Mobil mereka di tabrak dengan keras dari belakang hingga mobil terpental beberapa meter ke depan, suara teriakan orang-orang riuh terdengar dari luar mobil. Tapi Azka dan Lily tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Lily!" lirih Azka, dadanya terasa sangat sakit, darah dari mulutnya menyembur sampai ke kaca dan ke tangannya.


"Mas." tangan Lily menggapai mencari tangan Azka, keningnya masih berdenyut karena rasa nyeri, darah sudah mengucur deras dari keningnya. Beberapa detik Lily baru bisa melihat dengan jelas ke arah Azka.


Azka tersenyum melihat Lily baik-baik saja, setidaknya dia masih sadar.


"Mas, AWAAAAASSSSS!!!!"


BRUKKK!!!!


Mobil yang di kendarai Lily dan Azka di tabrak dari sisi kanan, terpental beberapa meter, berguling beberapa kali hingga berhenti setelah menabrak pagar pembatas jalanan.


Sejenak Lily masih tersadar, kepala nya pusing, entah kenapa tangannya terjulur ke atas tidak bisa ia turunkan, rasanya seperti dia di lemparkan ke ruang angkasa, sesak, tidak ada oksigen. Tidak! Mobil mereka terbalik. Lily mencoba meraih tangan Azka yang terjulur ke atap mobil. Lalu mengguncangnya perlahan.


"Mas... Mas Azka...!" panggil Lily lirih, tidak ada jawaban.


"Mas, bangun. Aku pusing, keluarkan aku dari sini." Lily mencoba tetap bersuara tapi tetap tidak ada jawaban dari Azka. Hingga Lily melihat derap langkah kaki dan suara riuh mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Apa aku akan mati? batin Lily dia sudah tidak kuat lagi, hingga saat terdengar suara sirene yang ia kenal ia tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya.


__ADS_2