Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 212


__ADS_3

Setelah beberapa saat mengukur mereka duduk bersama dan mengobrol di temani secangkir kopi dan biskuit. Yumna dengan senang hati memakan biskuit di tangannya.


Selesai dari tempat Allea, Bima mengantar Lily pulang. Yumna tertidur di pangkuan Lily dengan tangan kiri Lily menjadi bantalan kepala Yumna. Ini sudah memasuki jam tidur siangnya, untung saja tadi mereka sudah mampir untuk makan siang.


"Na."


"Hem?"


"Aku udah gak sabar nunggu hari itu tiba." ucap Bima sambil fokus menyetir. Lily hanya tertawa pelan pasalnya selalu itu yang Bima katakan saat bertemu.


"Kamu ketawa sih?"


"Kamu tiap ketemu yang di bilang itu terus. Bosen! Hari ini udah berapa puluh kali kamu bilang gitu? hihi." Bima menggaruk leher belakangnya sambil meringis menyadari kebodohannya.


"Habisnya, aku emang gak sabar pengen..." wajah Bima bersemu merah pipinya.


"Apa?!" tanya Lily padahal Lily juga tahu apa yang Bima maksud.


"Pengen cepet bulan madu, hehe..."


"Ish dasar, yang dipikirin kayak gituan ya tentu gak sabar dong." ucap Lily, Bima hanya terkekeh, dengan wajah yang semakin memerah.

__ADS_1


"Kamu mau, kita bulan madu kemana?"


"Hmmm, terserah! Percuma juga bulan madu."


"Kok percuma?"


"Emang kalau kita bulan madu kamu yakin kita akan pergi keluar kamar?" tebak Lily, dan tepat sasaran.


"Hehe, tau juga kamu!" Bima terkekeh, sedangkan Lily menggelengkan kepalanya sambil memutar bola mata malas.


Bima menghela nafas nya. Lily menatap Bima heran.


Lily menyunggingkan senyum. Entah sudah berapa ribu kali dirinya mendengar kata maaf dari Bima selama mereka bertemu. Bima benar-benar menyesali perbuatannya dulu.


"Gak usah di fikirin. Itu cuma masa lalu kan? Lagipula aku gak inget apa-apa." Kata Lily.


"Justru itu. Kadang aku takut kalau kamu ingat semuanya, kamu akan benci aku karena sikap aku dulu. Apa lagi terakhir kali kita ketemu. Aku salah."


Lily tersenyum, mengusap tangan Bima yang berada di atas kemudi dengan tangan kanannya.


Bima membalas senyuman Lily yang selalu menyejukkan hatinya.

__ADS_1


"Aku kira aku juga gak pernah adil sama kamu dan Dena."


"Bersikap adil itu sulit. Jadi jangan duakan aku lagi oke?" canda Lily.


"Gak akan, you're the only one." senyum Bima.


Tak terasa percakapan mereka membuat perjalanan terasa singkat. Tak lama mereka sudah sampai di kediaman mama Ratih. Bima membuka pintu dan segera berlari memutari mobilnya, membuka pintu untuk Lily.


Bima mengambil Yumna dari pangkuan Lily. Yumna hanya menggeliat dalam dekapan Bima lalu tidur lagi dengan kedua tangan yang melingkari leher sang papa.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan mendapati Ratih yang sedang berada di ruang tv.


"Sudah selesai?" tanya Ratih saat melihat Bima dan Lily.


"Sudah ma. Kami ke atas dulu." Ratih mengangguk lalu kembali sibuk pada hpnya. Tv hanya sebagai teman agar dia tidak kesepian.


Bima dan Lily naik ke atas. Lily membukakan pintu kamar mempersilahkan Bima masuk terlebih dahulu. Bima menidurkan Yumna di atas kasur kemudian membuka sepatu Yumna satu persatu. Mencium kening Yumna dengan sayang.


Lily tersenyum melihat perlakuan Bima. Betapa sayangnya Bima pada Yumna. Lily menyesali perbuatannya dulu.


Mungkin seandainya saja dia bisa memaafkan Bima dan lebih cepat datang sebelum pertunangan itu pastilah Yumna tidak akan kehilangan sosok ayahnya. Dan tentunya ia tidak akan mengalami kecelakaan yang mambuatnya lupa akan segalanya.

__ADS_1


__ADS_2