Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 213


__ADS_3

Lily mengantarkan Bima kembali ke mobilnya. Bima akan kembali ke kantor. Sebelum pergi Bima mengecup kening Lily dengan sayang.


"Jangan nakal di rumah ya!"


Kening Lily mengernyit.


"Kamu yang gak boleh nakal waktu kerja!" Lily meninju dada Bima. Bima pura-pura kesakitan lalu terkekeh. Mencubit hidung Lily pelan. Mereka saling berbalasan.


"Bima! Ini masih jam kantor kan?!" suara dari belakang membuat mereka jadi terdiam dan salah tingkah. Ratih memperhatikan mereka sedari tadi sambil tersenyum senang. Tapi dia pura-pura menampilkan wajah garangnya. Kalau tidak begitu Bima pasti akan betah di rumah.


"Hehe. Iya, ma. Bima akan pergi sekarang. Jagain belahan hati Bima ya ma. Jangan sampai dilirik bahkan sama semut atau nyamuk!" Ish dasar Bima lebay!!


Lily melotot pada Bima, calon suaminya itu sangat berlebihan menurutnya. Sedangkan Ratih tertawa pelan mendengar sifat posesif sang anak.


Bima melambaikan tangannya saat berada di dalam mobil dan langsung meluncur ke jalanan.


"Ayo Na. Masuk." ajak Ratih. Lily mengangguk dan mengiringi langkah Ratih masuk ke dalam rumah.


Ratih senang dengan adanya Lily di rumah. Selain Lily adalah putri dari sahabatnya, Lily juga mantan menantu yang akan menjadi menantunya lagi. Memang takdir Lily bersama Bima.


Teringat dulu sewaktu masih di Jogja, saat mereka piknik bersama ke pantai. Melihat Lily kecil yang kembali dengan hidung mengucur darah karena menabrak pohon kelapa. Adi dan Deri, papa Lily, mereka saling berbisik untuk manyatukan kedua anak mereka di kala dewasa. Dan sekarang walaupun jalan ceritanya lain, Ratih merasa bahagia karena janji itu akan segera terwujud kembali!


Takdir siapa yang tahu kan!

__ADS_1


***


Bima dan Lily sedang berada di ruang keluarga sedang berkumpul bersama. Mama Ratih membawakan contoh undangan yang akan di cetak. Bima dan Lily sampai bingung dengan banyaknya contoh undangan di atas meja.


"Yang ini gimana?" tunjuk Bima pada undangan berwarna maroon. Lily hanya menggelengkan kepala.


"Enggak! Itu terlalu mewah!" tolak Lily. "Aku maunya yang sederhana tapi terlihat elegan." ucap Lily.


Bima kembali membuka satu persatu. Padahal ini pernikahan ketiganya kan? Tapi sebelumnya Bima tidak pernah ikut campur dengan masalah seperti ini.


"Ini gimana?" Lily mengangkat satu undangan di tangannya.


"Gak ah, norak!" ucap Bima. Lily menggembungkan pipinya kesal sudah hampir satu jam dan mereka belum menemukan undangan yang cocok. Malah mereka berdebat untuk urusan seperti ini.


"Enggak, Bima! Jangan yang itu ih!" Seru Lily tidak suka, sedangkan Bima tetap keukeuh dengan keinginannya.


"Tapi yang ini bagus, aku suka!"


"Gak mau!" Lily merebut contoh undangan itu dari tangan Bima dan menyimpannya kembali ke atas meja.


"Yang ini aja!" Lily mengacungkan undangan berwarna hijau.


"Ih apa ijo gitu warnanya! Gak. Aku gak suka! Kayak lumut!"

__ADS_1


Dan mereka meneruskan perdebatan mereka tanpa peduli dengan Ratih dan Adi yang masih tenang menyesap teh hangat di tangannya.


"Masa bodo, ah!" ucap Lily kesal sambil membalikan tubuhnya membelakangi Bima. Tangannya ia lipat di depan dada. Bibirnya mengerucut, pipinya mengembung, dada Lily naik turun.


Persis seperti Yumna kalau lagi ngambek. Dasar mama Yumna! Batin Bima


"Jangan marah, dong!" bujuk Bima yang melihat Lily dengan sikap seperti itu.


"Gak!" ucap Lily. Padahal kan iya!


"Una, sayang! Jangan marah dong, gak malu apa di lihatin mama sama papa?!"


Wajah Lily merah malu karena mendengar Bima memanggilnya sayang, tapi Lily juga tidak mau begitu saja kalah dari Bima.


"Kamu yang harusnya malu, gak mau ngalah!" cecar Lily. Bima menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Lily kalau dalam mode ngambek bisa bahaya, gak bisa peluk nanti kalau Bima mau pulang, dan Bima gak akan bisa tidur malam nanti.


"Ya udah, terserah kamu mau yang mana aku nurut aja." Akhirnya Bima mengalah. Lily tersenyum senang dan membalikan tubuhnya. Mengambil undangan yang ia mau.


"Yang ini, tapi warnanya ganti. Pink sama biru."


Bima mengusap wajahnya, sedari tadi berdebat untuk hal yang tidak penting. Kenapa gak dari tadi saja bilang seperti itu?

__ADS_1


Ratih dan Adi menahan tawa melihat wajah Bima yang kesal.


__ADS_2