
Akhirnya Lily dan Bima pergi juga ke menara Eiffel setelah sebelumnya mereka berbelanja baju yang pantas untuk Lily dan beberapa jaket tebal karena udara sangat dingin disana.
Lily menatap takjub, walaupun dari kamarnya sudah sering melihat Eiffel saat malam ataupun siang tapi tetap saja melihatnya secara langsung sangat indah dan berbeda menurutnya.
"Kamu senang?" Tanya Bima mengeratkan pelukannya di pinggang Lily.
"Senang mas, trimakasih. Ini seperti mimpi." Lily melabuhkan kepalanya di dada Bima.
"Tapi kamu lagi gak mimpi sayang!"
"Iya aku tahu, ini bukan mimpi. Bisa gak sih kamu iya-in aja. Gak romantis banget!" cecar Lily kesal.
Bima hanya tertawa pelan. Bingung sebenarnya maunya wanita itu apa sih? Di kasih real malah di bilang mimpi!
Bima dan Lily menikmati waktu sore mereka hingga malam disana, berjalan-jalan dan berfoto ria. Mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran tak jauh dari sana. Bima dan Lily menikmati makan malam romantis mereka.
Hari berikutnya mereka habiskan untuk berjalan-jalan ke Museum Louvre, dan berlanjut ke Sungai Seine pada saat sore menjelang, dan Disneyland pada hari berikutnya.
Bima sedikit manyun karena tidak bisa iya-iya seperti keinginannya, Lily mengancam akan pisah kamar kalau tidak di turuti jalan-jalan. Dan lihat saja Lily seharian ini dia sibuk memilih barang-barang yang akan di jadikan buah tangan untuk orang di rumah, termasuk Pak Dani dan asisten di rumah.
"Yang belum selesai?" Tanya Bima saat Lily memilih sebuah gelang cantik.
"Belum, masih banyak yang belum di beli mas!" Lily tidak menghiraukan Bima yang sudah mulai bosan dengan aktifitas belanja.
"Pulang yuk." Lily mengalihkan pandangan saat mendengar nada suara Bima lalu tersenyum mendapati suaminya itu mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa sih?" tanya Lily satu tangannya mengelus rahang tegas Bima.
"Bosen! Pengen..."
__ADS_1
"Ih mas!" pekik Lily saat mendengar Bima berbisik padanya.
"Ya ampun, mas! Kamu itu ya!" Lily melotot marah ke arah suaminya. Bima memasang wajah memelas.
"Sakit yang!" akhirnya karena tidak mau mendengar rengekan Bima lagi mereka memutuskan untuk pulang dengan syarat acara belanja akan di lanjutkan lagi nanti saat sore.
Lily dan Bima merebahkan badannya setelah seharian lelah berburu di luar, dan juga di buru Bima di atas ranjang. Keduanya lalu tertidur hingga pagi menjelang. Acara belanja tertunda karena lelah.
Dua hari terakhir mereka habiskan di dalam kamar. Hanya keluar untuk mencari makan, selain dari itu sangat rajin berolahraga bersama bergelung dengan selimut.
*
Lily dan Bima baru saja turun dari pesawat. Bima mengelus pergelangan tangannya. Lecet seperti biasa. Ulah sang istri! Sepertinya dia harus membeli pesawat pribadi dan harus sering membawa Lily pergi ke luar pulau sekedar untuk membiasakan istrinya dengan pesawat.
Supir yang menjemput mereka sudah datang. Beberapa koper di naikan ke dalam bagasi. Bima dan Lily masuk ke dalam mobil. Mobilpun menuju tempat kediaman mereka. Bima menarik kepala Lily ke dadanya dan mengelus kepala Lily, sesekali mencium puncak kepalanya.
Hampir satu jam di perjalanan akhirnya mobilpun sampai. Dua penjaga membukakan pintu gerbang rumah. Lily terheran karena mobil masuk ke sebuah rumah yang nampak asing.
"Iya, aku ada perlu."
Mobil berhenti tepat di depan rumah. Bima sudah membuka pintu.
"Umm, mas aku pulang aja ya, aku capek dan kangen Yumna."
"Ikut aku turun. Kamu pasti akan senang bertemu dengan orang-orang di dalam!"
"Siapa?"
"Ikut saja!"
__ADS_1
Lily pun menurut kata suaminya, dia turun. Bima menautkan tangannya pada jemari Lily dan sedikit menarik Lily ke dalam rumah.
Seorang maid berdiri di depan pintu besar menunduk hormat saat Bima dan Lily berjalan ke arahnya. Dia membukakan pintu untuk keduanya.
Seketika terlihat dengan jelas bagaimana bentuk rumah ini. Ruangan yang luas dengan lampu hias besar menggantung di atas langit-langit. Beberapa lemari kaca menghias di sudut-sudut ruangan. Tangga berbentuk spiral menghubungkan lantai atas dan lantai bawah. Dan dapur terbuka terlihat juga dari tempat Lily berdiri.
"Ini rumah siapa mas?" tanya Lily takjub.
"Rumah kita!"
Lily menutup mulutnya tak percaya, ini sangat indah.
"Aku sudah siapkan ini sedari lama. Aku sadar kalau suatu saat kita ketemu lagi aku gak mungkin bawa kamu ke rumah lama kita. Aku mau menjalani semua mulai dari awal lagi. Gak ada kenangan buruk, yang akan ganggu kita. Aku cuma mau jalanin hidup kita dengan anak-anak kita dengan baik dan penuh kebahagiaan." Bima memutar Lily menghadap ke arahnya.
"Maaf kalau mungkin kamu gak suka dengan rumah ini. Aku akan renovasi sesuai dengan yang kamu suka." Lily menggeleng.
"Aku suka mas. Sangat suka." ucap Lily lalu tanpa sadar memeluk Bima. Bima senang dengan perlakuan Lily.
Lily mendongakkan kepalanya.
"Aku suka. Makasih. Tapi memang rumahnya terlalu besar untuk kita bertiga." ucap Lily.
"Ini malah kecil sayang, keluarga kita juga akan besar nantinya, karena aku mau punya lima lagi selain Yumna."
"Ha?"
Bima tersenyum melihat wajah pucat Lily. Bima menarik tengkuk Lily dan mendekatkan wajahnya.
"Mamaaaa. Papaaa...." suara teriakan Yumna membuat dua sejoli itu menjauhkan dirinya masing-masing. Yumna berlari kencang ke arah kedua orangtuanya. Sedangkan mama Ratih hanya menggeleng melihat kelakuan kedua anaknya.
__ADS_1
Benar-benar tidak tahu tempat! batin Ratih antara kesal dan bahagia.