
Dua bulan Dena dirawat di rumah sakit. Tubuhnya semakin kurus. Berbagai pengobatan sudah di jalani, tapi respon tubuhnya tidak menunjukan ke arah yang baik, membuat Bima lebih sering menghabiskan waktunya antara kantor dan rumah sakit.
Lily menatap ke arah pintu, lalu pandangannya ia alihkan ke tv yang menyala. Meskipun ia tahu tidak akan ada yang datang karena Bima juga lebih sering di rumah sakit. Oke. Fine!
Lily mengerti situasinya sekarang. Lagipula Lily juga tidak perlu berharap banyak kan? Nyata dari dulu memang Bima sangat mencintai istrinya, tanpa Lily tahu hal yang sebenarnya terjadi pada diri Bima.
Suara mobil membuyarkan lamunan Lily. Coklat panas yang ada di tangannya ia simpan di meja. Sedikit binar bahagia terlihat di wajahnya ketika mendengar suara mobil yang terparkir di depan garasi. Bima pulang!
Padahal sudah seharian di kantor Lily bertemu, tapi entah kenapa saat Bima ada di rumah menjadi hal yang lebih membahagiakan untuknya.
Lily menyambut kedatangan Bima. Wajahnya pucat. Tubuhnya seperti tak bertenaga.
"Kamu sakit mas?" tanya Lily yang mengiringi Bima dari teras ke dalam rumah. Lily hanya mendapat gelengan kepala dari Bima sebagai jawabannya.
"Aku pulang cuma buat ganti baju." ucap Bima, lalu berjalan ke arah dapur. Lily mengerti Bima memilih pulang kesini karena jarak dari kantor ke rumah sakit melewati rumahnya.
"Mau aku buatkan makan malam?" Lily menawarkan.
"Gak usah. Nanti saja. Aku harus cepat balik lagi ke rumah sakit." Bima mengambil segelas air lalu menenggaknya perlahan dan kembali menyimpannya di atas meja pantry.
"Tapi kamu pucat gini loh mas. Pasti kurang istirahat deh. Lebih baik malam ini minta mas Rian aja yang nemenin mbak Dena." Bima lagi-lagi menggeleng. Dasar keras kepala. Lily sering merutuki sifat Bima yang satu ini!
Bima hendak melangkah kembali, tapi tiba-tiba tubuhnya limbung dan jatuh tak sadarkan diri membuat Lily terkejut dan berseru, mendekat ke arahnya. "Mas Bima!" tidak ada Jawaban. Bima pingsan.
__ADS_1
Dengan bantuan pak Dani, Bima di bawa ke dalam kamarnya. Lily terpaksa membuka baju Bima karena tidak mungkin meminta bantuan Pak Dani.
Tubuh Bima menggigil, demam melandanya. Mungkin karena Bima terlalu lelah mengurus perusahaan dan juga urusan rumah sakit, hingga dia tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Lily mengganti kompres di kening Bima, terlihat lelaki yang terbaring di hadapannya ini sedikit lebih kurus sekarang, rambut halus di dagu dan di bawah hidungnya sudah mulai terlihat, pastilah Bima tidak pernah mengurusi dirinya dengan baik semenjak tahu Dena sakit.
"Na.." lirih Bima. Suhu tubuhnya sudah agak berkurang sekarang. "Jangan pergi...Na kembali sama aku, Na..." meskipun lirih tapi Lily bisa mendengarnya dengan baik. Hati Lily rasanya sakit, bahkan dalam tidurnya pun Bima menyebutkan nama Dena.
Lily tersenyum kecut menyadari kebodohannya. Tentu saja Bima sangat cinta Dena, dan itu tidak bisa di ragukan lagi!
"Na...jangan...pergi!"
Lily mengambil sapu tangan dari kening Bima dan menyimpannya ke dalam baskom yang airnya sudah dingin. Lalu pergi ke dapur, tanpa Lily tahu saat dia disana Bima menyebut nama Una dengan sangat jelas.
Pagi menjelang, matahari belum bangun, tapi Bima sudah terduduk di atas ranjangnya. Menatap ke arah Lily yang tidur di sampingnya dengan nyaman. Tubuhnya meringkuk di atas selimut yang menyelimuti dirinya. Sapu tangan yang masih terasa dingin menandakan kalau belum lama ini Lily baru saja tidur setelah mengompres dirinya.
Matahari sudah tinggi. Lily mengerjapkan matanya beberapa kali saat sinar surya membelai lembut wajahnya. Lalu terlonjak saat mendapati Bima tidak ada di sana.
Lily berjalan ke arah kamar mandi, mengetuknya perlahan, tidak ada jawaban. Lalu melihat ke arah jam, masih jam setengah tujuh. 'Apa mas Bima sudah berangkat?' batin Lily. Dia memutuskan untuk keluar dan mandi di kamarnya.
Lily urung naik saat melihat Bima berada di dapur dan tersenyum padanya.
"Pagi, Lily!" Lily yang merasa heran dengan sapaan Bima, karena baru kali ini dia menyapa setelah sekian lama mereka bersama. Lily mendekat ke arah meja makan.
__ADS_1
"Kamu udah baikan mas?" Bima hanya mengangguk.
"Sarapan?" tawar Bima dengan dua piring sandwich di depannya membuat Lily heran berkali lipat. Sejak kapan Bima jadi peduli padanya? Biasanya cuek, gak pernah nyapa apalagi ini, dia siapin sarapan?!
"Eh, Lily mandi dulu deh!" Lagi. Bima mengangguk dan membiarkan Lily untuk pergi ke kamarnya.
Lily tersenyum sendiri, merasa tersanjung dengan sapaan dan perhatian dari Bima.
"Eh gak bisa! Ingat jangan sampai jatuh cinta lagi! It's enought, Lily. Stop it!" Lily memperingatkan dirinya sendiri. Lalu melanjutkan acara mandinya. Seketika teringat dengan mimpinya semalam, terasa indah sekali. Bimbim datang lagi dan kali ini di dalam mimpinya Bimbim mencium Lily tepat di bibirnya.
Jantung Lily berdebar, meskipun hanya dalam mimpi tapi ia bahagia, hingga ia merasa panas di kedua pipinya.
*
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Bima yang sedari tadi melihat kelakuan Lily yang mesam-mesem sendiri sambil terus mengunyah sandwich.
"Gak pa-pa!" ucap Lily kikuk, lalu kembali mengunyah makanannya, masih dengan hal yang sama membuat Bima menggelengkan kepalanya dan kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya. Aneh! Fikirnya.
"Masa semalam aku mimpi di cium, mas!" ucap Lily tiba-tiba.
"Uhukk!!" Bima tersedak hingga merasakan perih di tenggorokannya. Lily segera bangun dan menyerahkan minum pada Bima.
"Ati-ati dong mas!" seru Lily sambil menepuk pelan punggung Bima. Bima mengelus lehernya yang terasa perih, sambil menatap Lily yang sudah kembali ke kursinya dengan sorot mata yang entah apa.
__ADS_1
"Apa sih liatin gitu?" tanya Lily heran, karena kelakuan aneh Bima pagi ini. Apa karena demam semalam Bima jadi berubah? Lily kembali menikmati makanannya hingga habis.
'Sampai ke bawa mimpi!" ucap Bima dalam hati. Lalu tersenyum tipis, masih sambil mengusap lehernya pelan.