Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 73


__ADS_3

Kembali ke waktu semalam di kediaman Lily.


Lily memarkirkan motornya di garasi. Seluruh tubuhnya basah karena hujan deras yang mengguyur tubuhnya selama dalam perjalanan. Dia lupa membawa jas hujan. Kemarin setelah di pakai dia gantungkan di dinding dan pagi tadi lupa untuk di bawanya.


Lily berjalan ke kamarnya di lantai atas. Air berceceran membasahi lantai.


Lily membuka kran air hangat lalu mengisi bathtub hingga setengahnya. Membuka seluruh pakaiannya yang basah dan menyimpannya di keranjang pakaian kotor di sudut kamar mandi.


Air hangat dengan aroma mawar menguar seketika di ruangan itu, rasanya nyaman sekali. Rasa pegal yang melanda karena seharian bekerja berkurang seketika. Lily memejamkan matanya, menarik nafas banyak-banyak, lalu menenggelamkan dirinya di dalam air.


Air tersibak keluar dari bathtub saat Lily mengeluarkan kepalanya dari dalam sana. Lily menarik nafas dengan rakus sambil mengusap air yang ada di wajahnya.

__ADS_1


Bayangan wajah Bima yang terlihat marah masih teringat jelas di otak cantiknya. Lily bisa apa coba? Kalau saja semua orang tahu statusnya dengan Bima mungkin orang lain tidak akan berani mengganggu Lily kan?


Setelah memngeringkan lantai yang basah, Lily makan malam. Sendirian lagi! Karena mulai malam ini hingga seminggu ke depan waktunya Bima bersama Dena. Resiko di madu!


Lily makan dengan tidak bersemangat. Tidak ada teman yang menemaninya. Makanan yang ia makanpun terasa hambar. Padahal ia beli di tempat biasanya yang terkenal dengan rasa enak di semua masakannya. Hufft


Selesai makan Lily menonton tv, dia membungkus dirinya dengan selimut hangat dan tebal yang ia bawa dari kamar Bima. Rasanya nyaman saat aroma maskulin milik Bima masih tercium meskipun samar disana. Di tangannya menggenggam cangkir berisikan coklat panas. Membuat badannya terasa hangat dan perasaannya sedikit rileks.


Tv menyuguhkan acara komedi. Tapi Lily serasa tidak bersemangat. Walaupun kata-katanya lucu, tapi Lily merasa tidak ingin tertawa. Jauh di dalam lubuk hatinya Lily merasa kosong dan kehilangan. Kehilangan sosok yang selama ini ada bersamanya.


Jam sudah menunjuk angka sembilan, tapi Lily belum juga terpejam. Fikirannya melayang ke sebuah tempat.

__ADS_1


'Ah memikirkannya saja rasanya sangat menyakitkan!' ucap Lily dalam hati. Lily tersenyum seandainya saja saat ini dia adalah Dena. Lily merasa malu sendiri, wajahnya terasa panas.


Lily memukul keningnya berkali-kali. Berharap fikiran mesum di dalam otaknya menghilang.


'Kenapa rasanya aku sakit mikirin mereka berdua sedang bermesraan?'fikir Lily.


"Toh, mereka suami istri dan mereka boleh melakukannya!" gumam Lily dengan jelas. Hingga tengah malam Lily masih sibuk dengan fikirannya. Lily melihat hpnya. lebih dari dua puluh panggilan dari Adit dan beberapa pesan juga.


'Kalau saja aku tidak terikat dengan mas Bima tentu aku akan mencoba membuka hati aku untuk orang lain!'


Lily menatap hpnya yang kembali menyala. Beberapa notifikasi dari medsosnya meminta untuk di buka, tapi Lily terlalu malas dan rasa kantuk pun sudah hinggap di matanya.

__ADS_1


Pagi menjelang Lily bangun dengan badan yang sedikit menggigil, wajahnya pucat, kepalanya terasa berat, matanya berkunang-kunang. Lily tetap bangun, dan pergi mandi di kamar Bima dengan menggunakan air hangat. Setelah mandi sebentar Lily membuka lemari di kamar itu. Baju Lily sebagian besar masih berada di sana. Belum sempat ia pindahkan. Nanti saja kalau hari libur, fikirnya.


Lily pergi ke dapur, sarapan dengan roti dan selai coklat, serta susu coklat kesukaannya. Tidak lupa ia meminum obat sebelum berangkat. Lily putuskan untuk memakai taksi karena rasanya tidak memungkinkan untuk mengendarai motor dengan keadaannya yang seperti ini.


__ADS_2