Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 254


__ADS_3

Lily sangat bahagia dengan kehadiran baby Syifa. Bima selalu ada, membantu Lily di saat dia kesusahan.


Seperti malam ini, Bima tengah menggendong Syifa yang sedari tadi tidak mau tidur. Terlihat wajah lelah Bima, setelah seharian bekerja dia juga membantu mengurus Syifa pada saat malam hari. Menggantikan popoknya dan menimangnya saat dia tidur.


Bima terduduk bersandar di kepala ranjang, dia menggendong Syifa di pangkuannya dengan beralaskan bantal di bawah tubuh mungil Syifa. Mata Bima terpejam, walaupun tidak sepenuhnya dia tidur. Bima akan terbangun dan sesekali menepuk paha sang putri jika terdengar tangisan.


"Mas." panggil Lily. Bima membuka matanya .


"Sini, bawa Syifa kesini. Mas tidur saja." titah Lily. Bima beringsut ke tengah dan membaringkan Syifa disana. Lily menggantikan Bima menepuk paha sang putri.


"Tidur saja. Mas besok kerja kan?"


"Aku temenin kamu."


Suara telfon berbunyi Bima berbalik melihat ke arah nakas dimana hpnya berada. Mama Melati.


Bima bangkit dari tempat tidur dan menjauh dari Lily. Mengangkat panggilan di hpnya. Matanya membulat saat Melati selesai bicara. Telfon di tutup. Bima kembali ke tempat tidur.


"Siapa mas?" tanya Lily.


"Mama Melati."


"Tumben mama telfon tengah malam! Ada apa?"


"Sasha..." ucapan Bima terhenti.


"Sasha? Siapa?" tanya Lily lagi penasaran.

__ADS_1


"Dia mantan Azka. Yang tabrak kamu dulu." Bima menoleh pada Lily, takut Lily syok sebenarnya.


Lily terdiam tidak bisa berkata apa-apa, hanya terlihat matanya berkaca-kaca.


"Sasha sudah tertangkap. Sebenarnya waktu aku ke Surabaya, aku ketemu dia."


"Apa dia di hukum berat?" tanya Lily akhirnya. Bima menggeleng.


"Dia menjadi gila. Dia di rawat di rumah sakit jiwa selama ini. Dan sekarang dia meninggal. Dia di keroyok oleh sesama pasien karena selalu histeris. Perawat bilang dari rekaman CCTV, dia mengamuk dan berteriak hingga memancing kemarahan pasien lain. Dan dia di keroyok oleh beberapa orang, sampai terluka dan tidak selamat saat di bawa ke rumah sakit. Pasien lain yang melihat kejadian itu bilang dia selalu berteriak dan meminta maaf pada Azka. Dia bilang Sasha selalu menyebut Azka selalu mengikutinya setiap saat. Mungkin karena Sasha merasa bersalah dan sangat terobsesi pada Azka.


Air mata Lily menetes. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi gila.


Bima mengelus kepala Lily dengan sayang.


"Nanti kalau baby Syifa sudah agak besar kita ziarah ke makan Azka dan Sasha. Kamu mau?"


***


Hari dan bulan berganti. Kini baby Syifa berusia empat bulan. Dia tumbuh dengan baik bahkan sangat baik. Di usianya yang sekarang, baby Syifa sudah bisa tengkurap dan mengangkat tubuh belakangnya, sepertinya sebentar lagi dia akan bisa merangkak.


Bima selalu menyempatkan pulang pada saat jam makan siang, sekedar untuk melihat kembang tumbuh putri kecilnya, Kalau bisa Bima ingin bekerja dari rumah saja. Rasanya tidak rela jika melewatkan waktu bersama anak istrinya.


"Putri papa!!!" seru Bima lalu duduk di atas karpet untuk mengangkat tubuh Syifa. Syifa tertawa keras saat tubuhnya di angkat ke atas lalu perutnya di ciumi oleh sang papa beberapa kali.


"Mas. Kamu ini kebiasaan. Kalau baru masuk rumah cuci tangan dulu sebelum gendong Syifa!!" Lily meradang. Bima hanya terkekeh.


"Aku kangen Syifa! Yumna belum pulang?" tanya Bima.

__ADS_1


"Belum mas, sebentar lagi. Santi sama pak Naryo yang jemput." Bima mengangguk lalu kembali pada Syifa, menggoda anak itu hingga kembali tergelak.


Tak lama suara mobil berhenti di depan rumah. Yumna baru saja turun dari mobil dan segera berlari ke dalam rumah dengan berteriak.


"Syiiifaaaa!!!" Yumna langsung mendekat dan menciumi adiknya yang ada di pangkuan Bima.


"Yumna cuci tangan dulu!" titah Lily, Yumna hanya menyengir ria. Lily menggelengkan kepalanya.


Ayah dan anak sama aja! batin Lily.


"Yumna kangen Syifa, ma!" ucap Yumna lalu kembali menggoda sang adik.


Yumna sudah bersekolah semenjak beberapa minggu yang lalu. Sempat protes karena tidak ingin jauh dari Syifa, tapi kemudian setelah di bujuk dan melihat banyak anak sebayanya, akhirnya Yumna mau bersekolah.


Santi masuk ke dalam rumah, lalu ke arah dapur. Mencuci tangan dan kembali ke ruangan dimana Lily dan semuanya berkumpul. Mengajak Yumna untuk mandi dan mengganti baju. Yumna menurut walaupun dengan bibir yangg mengerucut, tanda protes.


Setelah selesai memandikan dan mengganti baju Yumna, kini giliran Syifa yang ia pegang. Lily ke dapur untuk menyiapkan makan siang, dan Bima ke kamar karena ingin mandi.


Meja makan telah siap. Lily menyusul Bima ke kamar. Bima mandi dengan cepat dan baru saja keluar dari kamar mandi. Dia masih memakai handuk dan sedang menyemprotkan minyak wangi pada tubuhnya.


Lily melihat punggung putih Bima, rasanya ia sangat tergoda. Lily mulai memikirkan benda di balik handuk itu. Lalu menggeleng cepat.


Apa yang aku fikirkan? Batin Lily.


"Cepat mas. Kita makan." Lily mendekat dan ingin memeluk Bima, tapi seketika bau parfum Bima yang sangat menusuk membuat perut Lily serasa di aduk. Lily merasa mual, dia menutup mulutnya dengan tangan.


Lily tidak tahan, dia segera berlari ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Hoooekkk.


__ADS_2