Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 148


__ADS_3

Spesial Tentang Rian!


"Jangan pergi mama. Jangan pergi! Ian mau sama mama." tangis pilu anak lelaki berusia empat tahun itu tidak juga membuat sang ibu mengurungkan niatnya untuk pergi, berbekal dengan tas berisikan baju yang ia bawa di tangannya ia bergegas melangkahkan kakinya. Tidak ingin dan tidak peduli dengan anak lelaki yang kini ada dalam pelukan sang nenek yang menahan tubuh kecilnya untuk menyusul sang ibu yang akan pergi.


Dengan tekad hati yang kuat Ana pergi. Adrian kecil hanya akan membuat luka di hatinya semakin lebar. Ana tidak bisa terus terpuruk seperti itu. Baginya melihat wajah Adrian sama saja dengan membunuhnya secara perlahan. Terlalu mirip!


*


Ana terbangun dari pingsannya. Dia kembali menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sang suami yang baru saja datang memeluk istrinya dengan sayang. Mengelus rambut Ana perlahan.


"Maafkan aku! Maafkan aku!" racau Ana di dalam pelukan sang suami. Jonathan William hanya terdiam mendengar kata maaf yang terucap dari bibirnya.


Semua ini begitu rumit. Bahkan saat dia baru saja mendengar penjelasan dari sang ibu mertua, hatinya begitu sakit. Bukan karena merasa telah di bohongi. Tapi ternyata selama ini sang istri menyimpan rahasia yang membuat batinnya tersiksa. Percayalah, di balik kebahagiaan sang istri tersimpan gurat kesedihan mendalam yang baru saja ia ketahui penyebabnya.


Naluri seorang ibu. Pantas saja jika ia sering memergoki sang istri sedang menatap sopir Dena dengan pandangan yang sulit di artikan.

__ADS_1


***


Rian terduduk di atas bangku taman. Suasana hening di sekitarnya, hanya terdengar suara cicitan burung yang sesekali terdengar. Angin yang menggoyangkan pepohonan membuat ranting-ranting saling bergesekan menggeliat tepat di atas tubuh Rian yang lelah.


Bukan lelah fisik. Tapi lelah karena fikiran yang selama dua puluh enam tahun ini ia tanggung sendiri.


Kepergian sang ibu membuat hatinya terluka. Berhari-hari ia tidak nyenyak tidur, tidak mau makan, hanya menangis dan berakhir dengan tertidur, karena lelah yang menderanya. Harapannya untuk bertemu sang ibu tidak pernah kunjung juga, bahkan menelfon atau menanyakan kabar pun tidak!


Pernah suatu hari Adrian berlari senang saat mendengar telfon dari sang mama, tapi kemudian kebahagiaan itu sirna saat baru saja dia akan berbicara telfon sudah di matikan.


Salahnya kah jika ia terlahir di dunia ini? Jika boleh memilih lebih baik Adrian terlahir menjadi seekor burung yang terbang tinggi dan akan turun ke tanah saat mencari makan.


Semakin beranjak dewasa balapan liar dan sasana tinju ilegal adalah tempat menumpahkan rasa kesalnya. Hingga Dena datang menemuinya tepat disini. Di bangku taman ini! Dengan sebungkus coklat berisikan kacang kesukaannya.


Semuanya berbeda saat itu! Rian mencoba menjalani kehidupannya dengan lebih baik.

__ADS_1


Teringat kembali perkataan Dena terakhir kalinya.


'Kapan mas Rian akan menikah? Kalau saja ada yang namanya reinkarnasi Dena lebih ingin menjadi pasangan Mas Rian di kehidupan selanjutnya.'


'Kenapa gak jadi pasangan Bima?'


'(Menggeleng) Mas Bima sudah ada Lily.' begitu katanya.


Lalu kemudian.


'Ayo kita bicara sama mama. Mama berhak tahu soal kamu, mas!"


'(Rian menggeleng) Lain kali, aku hanya belum siap jika di tolak untuk kesekian kalinya.'


Rian menenggelamkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya menangis tergugu sendirian. Tidak peduli jika orang lain melihatnya mungkin akan berfikiran cengeng. Memang iya. Ia sangat cengeng sekarang!

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Rian menjadi sopir Dena, pada awalnya ia ingin balas dendam pada sang ibu. Dia menyelinap menjadi orang lain dan mendapatkan pekerjaan menjadi sopir. Entah balas dendam seperti apa yang di rencanakannya. Bahkan Dena pun tidak tahu jika sang kakak bekerja padanya dengan niat terselubung. Dena percaya alasan yang di buat sang kakak, katanya ingin mengenal sosok sang ibu lebih jauh lagi. Dan meminta Dena untuk merahasiakan identitasnya. Takut jika sang ibu menolaknya untuk yang ke sekian kali.


Tapi lebih dari dua tahun lalu keinginannya menguap saat ia tahu Dena sakit. Rasa cinta dan sayang pada adiknya mengalahkan rasa sakit hatinya pada sang mama, Rian lalu fokus dengan pengobatan Dena. Walaupun Dena menolak untuk di rawat.


__ADS_2