Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 46


__ADS_3

Bima Satria Pov.


Dena hanya diam saat berjalan beiringan denganku. Aku merasa bersalah karena tidak jujur pada Dena, harusnya aku jujur bahwa semalam aku bersama Lily.


Sampai di basemen, Dena masih terdiam. Aku sudah tidak tahan jika dia masih seperti ini. Lebih baik dia marah-marah tapi penuh perhatian daripada diam seperti ini.


Kami sudah sampai di mobil yang di pakai Dena.


"Na. Maaf aku gak jujur sama kamu." Tangan Dena terhenti saat akan membuka pintu mobil.


"Gak pa-pa koq mas. Aku seneng kalau mas lebih sering sama Lily." Dena tersenyum, tapi aku merasa sakit mendengar hal itu terucap dari bibir Dena.


"Na aku tidak..."


"Akan lebih baik kalau mas lebih sering sama Lily, mudah-mudahan kita akan cepat di beri anak."


"Aku pulang ya mas." Dena menyentuh wajahku dengan kedua telapak tangannya. Menarik wajahku hingga hidung dan kening kami beradu.


"Aku gak marah koq. Justru aku senang. Pengorbanan aku buat punya keturunan dari kamu semoga akan cepat terlaksana. Aku harap Lily cepat hamil, mas!"

__ADS_1


Deg.


Rasanya jantungku ini tidak bisa lagi berdetak, sebesar itukah keinginan Dena untuk punya anak dariku? Sedangkan aku tidak mampu untuk melakukannya selain dengan Dena.


"Aku harap mas bisa cinta sama Lily." Dena mengecup bibirku singkat dan kemudian menjauhkannya.


Aku mematung saat melihat mobil Dena melewatiku. Dena melambaikan tangannya dari dalam mobil lalu dengan cepat mobil itu menghilang dari pandanganku.


Bima pov end.


***


"Aku harus kuat demi mas Bima. Ini keputusan yang tepat. Mas Bima akan bahagia sama Lily." ucapnya sambil menghapus air mata yang ada di sudut matanya. Dena menelungkupkan kepalanya di kemudi mobil, lalu terisak. Meskipun ia berusaha kuat tapi bayangan Lily yang baru keluar dari dalam kamar Bima sangat mengganggunya. Apalagi rambut Bima dan Lily sama-sama basah! Dan Lily yang memakai bajunya.


"Sudahlah Na. Bukannya itu juga keinginan kamu. Bukankah kamu ingin membuat Bima bahagia?" Dena bermonolog sendiri.


Dena mengambil hp dari dalam tasnya dan menelfon seseorang.


"Aku akan kesana sekarang."

__ADS_1


Dena mematikan telfon dan kembali melajukan mobilnya.


***


Lily merasa gelisah. Ingin sekali dia menelfon Dena dan mengatakan yang sebenarnya. Lily merasa tidak enak hati pada Dena. Apalagi saat Dena pergi, Lily baru tersadar kalau dia memakai baju milik Dena.


Setelah lama berfikir, akhirnya Lily memberanikan diri menelfon Dena. Lily menjelaskan perkara semalam bagaimana dirinya bisa tidur di kantor bersama Bima. Tanpa dia duga Dena terdengar seperti tertawa di kejauhan sana.


'Ya ampun, sayang. Suamiku kan suamimu juga. Aku gak apa-apa koq. Aku lebih suka mas Bima sama kamu daripada dia sama wanita gak jelas di luar sana. Lagian, bagus kan kalau kalian bisa sering sama-sama. Buatkan aku anak yang banyak. Oke! Aku sedang sibuk, Ly. Nanti setelah aku pulang, aku telfon balik ya. Bye sayang.'


Lily menyimpan hpnya di atas meja. Tidak menyangka Dena tidak mempermasalahkan soal semalam. Ralat. Dua malam. Lily semakin tidak enak hati karena Dena sangat baik padanya.


Sore hari. Lily dan Bima pulang bersama ke kediaman mereka.


"Pak. Sebaiknya malam ini bapak pulang ke rumah mbak Dena."


"Kenapa? Apa kamu gak enak hati sama Dena?" Lily haya menunduk terdiam, tidak tahu harus berkata apa.


"Seharusnya sebelum kamu menerima pernikahan ini kamu sudah memikirkan semuanya!" Ucap Bima dingin, lalu mengembalikan kunci mobil ke tangan Lily.

__ADS_1


__ADS_2