Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 214


__ADS_3

Gaun pengantin sudah siap. Undangan juga sudah di sebarkan. Tinggal menunggu beberapa hari lagi menyambut hari kebahagiaan mereka berdua.


Hari ini Lily pergi ke kantor Bima, selain untuk makan siang Lily juga ingin di antarkan pada suatu tempat. Yumna bersama mama Ratih entah pergi kemana sejak tadi pagi. Yumna selalu lengket pada sosok neneknya.


Sopir mengantar Lily sampai ke tempat tujuan.


"Bapak pulang aja. Nanti aku pulang sama Bima." ucap Lily di jawab dengan anggukan kepala dari sang sopir.


Lily segera naik ke dalam lift langsung menuju lantai dimana kantor Bima berada. Tersenyum pada beberapa orang yang melewatinya, tidak lupa juga ada Yeni. Lily menyerahkan undangan secara langsung pada sahabatnya itu. Bima bilang begitu hubungan Lily dengan Yeni, sahabat. Yeni berjingkrak senang mendapati Lily akan menikah kembali dengan Bima.


Lily meneruskan langkahnya ke kantor Bima, sekretaris menganggukan kepalanya saat Lily lewat.


Lily membuka pintu. Matanya membulat, dadanya terasa panas, hatinya terasa remuk. Jatungnya seakan di paksa untuk di copot dari tempatnya, sakit.


Pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya saat ia datang kesini. Bima sedang merengkuh pinggang seorang wanita seksi. Dan tangan wanita itu yang mengalung di leher Bima. Mereka saling tersenyum.


*


Lily Aruna.


"Aku benci Lily, dan aku menyesal sangat mencintainya!"


Degg!!!


Bisa kalian rasakan apa yang kurasakan sekarang? Melihat calon suamiku bermesaraan dengan seorang wanita di kantornya, merengkuh pinggang wanita seksi itu posesif, saling tersenyum, bertatapan mata, dan mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan begitu lancar!


Dasar laki-laki, br*ngs*k!! Aku kembali menutup pintu, tidak mau melihat pemandangan yang lebih dari itu, cukup sudah!


Cukup sudah Bima! Kau bawa aku terbang tinggi, melayang dengan segala keindahan, tapi hanya satu detik kau buat aku terhempas ke dalam kerak bumi!


Setengah berlari aku keluar dari kantor Bima, tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatku dengan aneh.


Menghentikan laju taksi yang kosong, segera aku sebutkan sebuah alamat. Rumah lamaku dengan Bima. Aku tidak tahu lagi harus kemana. Kalau pulang ke rumah, mama pasti akan memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Untungnya aku mencatat alamat rumah di dalam hp yang Bima belikan beberapa bulan yang lalu.


Sepanjang perjalanan aku tidak bisa menghentikan laju air mataku. Terlalu sakit rasanya, sesak!


Taksi sudah sampai di alamat tujuan. Aku menghapus air mataku lalu memberikan uang pada sopir taksi tersebut.

__ADS_1


Satpam keluar dari dalam pos saat melihatku baru saja turun, menyambut kedatanganku dengan senyuman khasnya.


"Sendiri aja mbak? Pak Bima kemana?" tanya satpam itu sambil membuka pintu pagar.


"Bima masih kerja. Saya masuk dulu ya pak." Satpam Itu mengangguk, wajahnya terlihat sedikit heran saat melihatku, dia seperti ingin bertanya tapi urung di lakukan.


Masuk ke dalam rumah, rupanya pintu tidak di kunci, seseorang sedang membersihkan rumah. Entah siapa.


"Eh mbak Lily?" Dia berseru saat melihat aku berjalan memasuki rumah.


"Mbak sehat? Ada apa kesini? Ada yang bisa saya bantu?"


Aku menggelengkan kepalaku.


"Enggak, cuma mau disini aja sebentar, boleh?"


"Tentu boleh, mbak. Ini juga kan rumah mbak!" serunya dengan senyuman. "Mau saya buatkan makanan?"


"Gak usah. Saya minta teh panas pake lemon, ada?"


"Siap mbak!" serunya lalu pergi ke arah dapur.


Dasar br*ngs*k!


Kembali aku mengumpat dalam hati saat mengingat mesranya mereka tadi. Padahal aku berharap di rumah ini tidak ada orang supaya aku bisa berteriak sepuas mungkin.


Ku langkahkan kakiku ke arah tangga, lantai atas dimana menjadi kamarku selama ini.


Kehidupan pernikahan ku dengan Bima rumit, dia bilang. Kami menikah tapi dengan perjanjian, dan Bima memperlihatkan kertas itu padaku saat bercerita tempo hari. Plus dengan tanda tanganku. Aku dan dia dalam satu rumah tapi di kamar yang berbeda. Miris sekali kisah hidup ku bukan? Aku menikah menjadi yang kedua, dengan perjanjian, dan sekarang aku menikah dengan orang yang sama, dan dia menghancurkan hatiku untuk kedua kali?


Aku bodoh! Kenapa aku harus amnesia?!


Melihat ke sekeliling kamar bercat soft pink. Warna kesukaanku. Foto di dinding kamar. Benar ini fotoku! Argghhh. Kenapa aku gak bisa ingat semua!


Turun ke lantai bawah, melihat keadaan dapur. Kepalaku pusing, aku seperti melihat dua orang di sana selain asisten yang sedang membersihkan meja, seperti aku dan Bima? Sedang memasak? Bima mengangkat pisau besar untuk memotong daging.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, bayangan itu hilang.

__ADS_1


Masuk ke dalam sebuah kamar. Bima bilang ini kamarnya dulu. Warna putih dan abu-abu, warna khas lelaki sepertinya.


Aku merebahkan diriku disana. Membungkus diriku dengan selimut. Rasanya sangat menyakitkan, hati ini seperti di remas-remas.


"Aku benci Lily, dan aku menyesal sangat mencintainya!" terngiang kalimat yang keluar dari mulutnya tadi.


Bima apa yang sudah kamu lakukan? Kalau kamu tidak cinta aku kenapa kamu buat aku jatuh cinta sama kamu? Apa kamu dendam karena aku sudah meninggalkan kamu dulu? Tapi kamu bilang itu semua kesalahan kamu bukan?


Ku usap air mataku.


Kalau kamu punya kekasih lain, kenapa kamu gak bilang? Apa mungkin karena Yumna? Kamu gak perlu bertanggung jawab karena adanya Yumna. Lalu untuk apa gaun dan cincin yang kita pesan kemarin?


Aku terisak meremas dadaku yang sakit.


Pernikahan kita BATAL!!


Aku meringis, kepalaku berdenyut hebat, sakit. Sekuat apapun aku menekan kepalaku dengan kedua tangan tapi percuma, rasa sakit itu tetap mendominasi. Bayangan demi bayangan tiada henti datang silih bergantian.


"Tolong." hanya bisa berkata lirih tenaga ku seperti hilang entah kemana. Aku tidak bisa berteriak.


Aku bangun dari pembaringanku, mencoba untuk mencari pertolongan.


Rasanya semakin sakit.


'JANGAN PERNAH MENGATAKAN CINTA PADAKU, KARENA AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCINTAI ORANG LAIN SELAIN DENA ISTRIKU!!'


Apa ini?


Lalu bayangan lain saat Bima menghancurkan foto pernikahan kami.


"Lily, maaf kan aku. Harusnya kita tidak melakukan ini. Ini semua salah!"


"Maaf, karena aku sudah melakukan ini, Lily. Maaf. Aku akan urus surat perceraian kita secepatnya. Dan aku juga akan memberi konpensasi untuk kamu atas kekhilafanku!"


Aku menutup mata dan telingaku berharap tidak mendengar suara dan tidak melihat bayangan-bayangan itu lagi. Tapi sulit!


Dan bayangan yang lainnya datang silih berganti. Sakit. Kepalaku terasa mau pecah!

__ADS_1


"Akhhh. Tolooong...!" Aku terjatuh dari tempat tidur, mau berdiri rasanya aku tak kuat, hanya merangkak dengan sebelah tanganku di kepala. Sakit. Tolong. Tolong aku. Siapapun . Tolong. Semua gelap.


***


__ADS_2