
Hoooekkk.
Lily memuntahkan sesuatu dari mulutnya, tapi tidak ada apapun yang keluar, hanya cairan bening yang membuat rasa mulutnya tidak enak.
Bima yang mendengar Lily, segera mendekat ke arahnya. Lily sedang berjongkok di depan closet sambil memegangi rambut panjangnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bima khawatir. Lily mengangkat tangannya dan menggoyangkannya di udara. Mengisyaratkan bahwa dia tidak apa-apa. Tapi seiring Bima mendekat dan bau itu semakin terasa kuat, Lily kembali muntah.
"Kamu sakit?" tanya Bima berusaha memijit tengkuk Lily. Lily menghalau tangan Bima. Dia beralih ke arah kran dan membasuh mulutnya.
"Mas kamu pakai apaan sih? bau!" ucap Lily sambil memijit hidungnya.
"Pake apa?" tanya Bima bingung.
"Kamu ganti parfum?" tanya Lily. Bima menggeleng.
"Enggak. Itu parfum yang biasanya." Ucap Bima.
"Tapi kok bau banget bikin aku mual! Jauh-jauh sana!" usir Lily lagi.
"Kamu masuk angin mungkin dari kemarin gak mau makan, atau...jangan-jangan..." perkataan Bima terhenti saat ia ingat sesuatu. Lily juga sama, Lily ingat dia sudah telat beberapa hari. Mereka satu pemikiran!
"Lebih baik kamu cek dulu." Ucap Bima, mengambil sesuatu dari dalam sebuah kotak. Lily menerima benda itu.
__ADS_1
"Keluar dulu sana!" usir Lily karena Bima tidak juga keluar.
"Aku mau lihat hasilnya." ujar Bima.
"Tapi kamu bau! Aku gak kuat! Yang ada pengen muntah lagi!" Bima pun keluar dengan perasaan kesal.
Wangi gini di bilang bau! batin Bima sambil mencium aroma tubuhnya sendiri.
Tak lama Lily keluar dari kamar mandi. Kedua tangannya tersembunyi di belakang punggungnya. Wajahnya datar, membuat Bima semakin penasaran.
"Bagaimana?" tanya Bima. Perlahan Lily menarik tangannya ke depan dan membuka genggaman tangannya.
Dua garis merah!
Bima melonjak senang. Dan memeluk Lily, menciumi seluruh wajah Lily. Seketika dia lupa dengan permintaan saat Lily melahirkan beberapa bulan yang lalu untuk tidak menambah momongan.
Bima menjauhkan wajahnya dan menatap Lily dengan lamat.
"Kamu gak suka?" tanya Bima.
"Bukan begitu. Syifa masih sangat kecil untuk punya adik!" lirih Lily Perutnya kembali bergejolak. Lily mendorong tubuh Bima dan kembali ke dalam kamar mandi. Bima ikut kembali ke dalam.
"Udah aku bilang, jauh-jauh sana!!" Lily kembali muntah. Bima yang merasa kesal membuka handuknya di belakang Lily dan memutar kran air hingga air dari shower mengucur. Dia mengambil sabun dan menggosok tubuhnya. Tak lupa ia juga keramas.
__ADS_1
Lily terkejut karena mendapati suaminya yang sudah telanjang bulat, Lily menelan salivanya dengan susah payah. Tubuh Bima sangat menggoda! Sungguh indah! Seperti di kelilingi bintang-bintang yang bersinar terang.
"Mas kamu gak kira-kira!"
"Apa?" tanya Bima bingung, tangannya sibuk bergerak menyabuni dadanya.
"Aku belum keluar kamu udah mandi aja!" ucap Lily kesal.
"Memangnya kenapa? kayak enggak biasa aja! Biasanya juga kita lebih dari satu jam mandi bareng!" ucap Bima kalem. Sedangkan Lily merasa malu.
Lily bangkit dari bawah dan hendak keluar dari sana. Dia takut baby Syifa rewel, dan juga takut jika mereka akan mengulangi adegan tadi pagi. Meskipun ingin sebenarnya, tapi sekarang dia harus memikirkan Syifa, jadi Lily tidak bisa seenaknya kan main basah-basahan bersama Bima berlama-lama.
Belum sampai Lily berjalan ke arah pintu, Bima sudah menarik Lily. Baju Lily penuh dengan sabun dari tubuh Bima.
"Mas apa-apaan sih, jangan macam-macan deh!" peringat Lily. Bima hanya tersenyum nakal.
"Gak macam-macam, cuma satu macam." ucap Bima meremas bokong Lily, membuat Lily merasakan semakin panas di tubuhnya.
Bima yang tidak mendapati penolakan semakin tersenyum lebar, dan melancarkan aksinya. M*l*m*t bibir Lily dan melucuti pakaian Lily satu persatu. Bima membawa Lily untuk duduk di atas kloset, mengangkat satu kaki Lily ke pundaknya, dan menenggelamkan kepalanya di antara paha Lily. Lily mencengkeram pundak Bima dengan erat.
Santi membawa Syifa yang tengah tidur ke kamarnya dan menyimpannya di boks bayi.
"Pantas saja lama! Mandinya berdua sih gak akan cukup satu jam!" gumam Santi saat mendengar suara aneh dari arah kamar mandi di kamar majikannya. Kebetulan pintu kamar antara kamar Syifa dan kama Bima terbuka sedikit.
__ADS_1
"Apa mereka gak sadar kalau suaranya kenceng banget?" gumam Santi kemudian cepat berlalu dari sana sebelum dia merasa tidak tahan dan mengakibatkan miliknya basah. Santi melewati Yumna yang sedang menonton kartun kesukaannya dan berlalu menuju rumah belakang!
"Ahh dasar, punya majikan gini amat ya. Bikin orang iri aja. Ijin pulang kampung gitu?" gumam Santi lagi. Efek suara tadi membuatnya gerah. Lalu Santi berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan diri dan menyegarkan fikirannya.