Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 251


__ADS_3

Lili menunduk. Sadar dengan ucapan mama Ratih barusan. Pastilah maksud Ratih waktu kelahiran Yumna dulu.


Ratih terdiam melihat Lily yang menunduk, seketika dia sadar dengan ucapannya.


"Maksud mama. Mama ingin mendampingi Una. Mama ingin di repotkan dengan kelahiran cucu mama." Ratih membawa Lily ke dalam pelukannya.


"Akhhh.." Lily memekik kesakitan. Serasa ada air yang sedikit demi sedikit keluar dari area bawahnya. Ratih melepaskan pelukan ya.


"Ketuban kamu pecah, sayang. Bima kursi roda, cepat!!" Ratih panik tapi masih bisa berfikir dengan cepat.


Segera Bima memindahkan Lily dari kursi tunggu ke atas kursi roda dan segera membawa Lily ke ruangannya. Santi dengan sigap memanggil dokter. Tak lama dokter sudah berada di ruangan Lily. Melakukan hal yang sama seperti tadi.


"Sudah siap. Kita bawa pasien ke ruang bersalin!" ucap dokter pada perawat. Lily segera di bawa ke ruangan bersalin.


Bima ikut masuk ke dalam ruangan setelah memakai baju khusus dan penutup kepala.


Ratih dan Adi di luar tidak bisa duduk diam, mereka berjalan mondar mandir berlawanan arah hingga sesekali mereka hampir bertabrakan. Rasa khawatir menyelimuti mereka berdua.


"Ih papa. Duduk diam napa sih pa?" Ratih terlihat emosi karena pergerakannya di halangi.


"Mama juga gak mau diam!" Adi tak kalah sengit.


"Aku khawatir dengan keadaan Una dan cucuku pa!"


"Cucuku juga ma!" protes Adi.

__ADS_1


Mereka tidak sadar perdebatan mereka menjadi tontonan langka untuk Santi.


Lily menarik nafas panjang, keringat sudah mulai keluar dari keningnya. Berkali-kali Bima mengusapnya dengan tisu.


Lily mulai mengejan dengan kuat. Tangannya mengcengkeram lengan Bima. Baru Bima rasakan atmosfer di dalam sana yang sangat mencekam, menurutnya. Lebih seram dari film horor yang pernah ia tonton, dan juga saat Lily menakutinya dulu sekali.


Keringat Bima bercucuran melewati pipinya. Bima tidak tahan melihat Lily yang kesakitan. Bima menahan nafas saat Lily mengejan, dan ikut menarik nafas saat Lily juga melakukannya. Bima merasakan kuku-kuku Lily menancap kuat pada lengannya tapi tidak dia hiraukan. Sadar dengan kesakitan Lily yang teramat sangat melebihi dirinya, Bima hanya menahan kesakitannya.


"Kamu pasti bisa sayang." Bima memberi semangat pada Lily. Lily tersenyum, dia bahagia dengan adanya Bima di saat situasinya yang seperti ini. Sungguh setelah ini Bima rasa cukup. Dia tidak ingin menambah anak lagi. Cukup ini yang terakhir saja. Bima tidak tega melihat kesakitan istrinya.


Beberapa kali Bima mencium kening Lily yang basah dengan keringat.


"Dokter!" panggil Lily. Dokter mendekat.


"Boleh, saya peluk suami saya?" tanya Lily. Dokter mengangguk. Bima beringsut dari atas kepala Lily.


Bima membungkuk, memposisikan dirinya di samping Lily. Lily melingkarkan tangannya di pundak Bima.


Dengan mengikuti aba-aba dari dokter Lily pun menghirup nafas dalam dan kuat. Lalu bersiap, dia memeluk Bima dengan erat. Kali ini punggung Bima yang jadi korban tancapan kuku Lily.


"Aaarrrggghhhhh!!!" teriak Lily. Bima menggigit bibirnya sendiri hingga rasa amis terasa disana. Pundak Bima sakit, akibat gigitan istrinya. Bima meremas tepi ranjang menahan rasa sakit. Matanya basah. Bukan karena sakit di pundaknya, tapi juga ikut merasakan bagaimana sakitnya Lily yang sedang berjuang. Sakit yang tidak akan pernah bisa di rasakan oleh kaum pria.


"Oweeekkk...Oweeekkkk.."


"Alhamdulillah." semua berucap rasa syukur.

__ADS_1


Lily melepaskan pelukannya pada Bima. Nafas Lily terengah. Lelah yang teramat sangat. Bima mencium kening Lily beberapa kali lalu berdiri dengan tegak saat dokter membawa seorang bayi mungil ke atas pelukan sang ibu.


"Bayinya perempuan, pak." ucap dokter, lalu dokter kembali ke tempatnya semula untuk mengurusi yang lainnya.


"Anak kita, mas." ucap Lily mengalihkan tatapannya dari bayi itu pada Bima. Bima mengangguk.


"Iya, anak kita. The Little Princess!" ucap Bima lalu mencium kepala mungil yang masih berlumur darah itu.


Lily merasa bahagia. Sangat bahagia.


"Trimakasih, sayang. Trimakasih!" ucap Bima, tidak bisa lagi berkata apa-apa.


Dokter membawa bayi itu untuk di bersihkan. Lalu tidak berapa lama memberikan pada Bima untuk segera di adzani.


Bima menangis haru saat putri kecilnya terdiam mendengarkan suaranya.


Dokter dan perawat pun sama merasakan kebahagiaan.


Bayi itu Bima kembalikan pada dokter untuk di urus lebih lanjut. Bima kembali pada istrinya. Lily terlihat tenang, matanya tertutup. Mungkin Lily merasa lelah. Sudah pasti!


"Sayang?" panggil Bima. Tapi Lily tidak merespon.


"Una?!" Bima menepuk pipi Lily, dia mulai panik.


"Dokter! Kenapa Lily? Dokter!!"

__ADS_1


Dokter mendekat ke arah Lily dan memeriksa denyut nadi Lily dengan seksama.


"Suster!! Lakukan CPR!!!"


__ADS_2