Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 236


__ADS_3

Lily, Celia dan Yumna kini berada di dapur. Mereka sedang menyiapkan makan siang. Yumna ikut membantu, katanya. Padahal Yumna hanya mau makan tempe mentah. Salah satu makanan kesukaannya, Lily merasa heran dengan kesukaan sang putri yang diam-diam suka mengambil tempe mentah dan melahapnya. (Padahal ini kesukaan author juga😅). Untung saja Yumna tidak punya alergi seprti Lily.


"Istri elo parah ngidamnya Dit!" ujar Bima sambil menghapus riasan di wajahnya, dia sudah mengganti baju dengan kaos longgar.


"Emang. Ini sih gak seberapa." ucap Adit santai, sambil memasukan kripik ke dalam mulutnya.


"Gak seberapa gimana? Coba kalau elo yang tadi joget, emang elo bisa bilang gak seberapa?" tanya Bima kesal.


"Elo tahu gak Bim, yang menurut gue ngidam Celia yang paling parah sampai saat ini?!"


"Apa? Ngelus pala botak? Minta di bawain kepala kereta?" tebak Bima.


"Yups!!" Bima menoleh pada sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Coba elu bayangin. Gue udah seneng Celia bilang mau ke Surabaya naik kereta. Gue udah batalin janji temu sama klien, udah ngepak barang dalam koper, pesen tiket, plus beli oleh-oleh buat mama. Eehh ternyata, waktu kereta datang Celia cuma pengen cubit hidung masinisnya aja. Kesel gue!" Ucap Adit kesal saat mengingat peristiwa tiga minggu yang lalu.


Bima terbahak mendengar ngidam Celia yang parah menurutnya. Adit semakin kesal.


"Gue doain kualat entar lu ya. Lihat aja kalau Lily hamil dan mulai ngidam. Baru deh elu ngerasa salah udah ngetawain gue!" Adit melempar kripik ke arah Bima yang kemudian menghindar.


Setelah masakan selesai mereka pun makan siang bersama di selingi canda tawa dan cibiran untuk Bima yang tadi berubah menjadi Beyonce dadakan.


Beberapa hari kemudian Celia datang lagi ke rumah Lily. Dia di antar sopir karena Adit sedang keluar kota.


Bima baru saja pulang dari kantor.


"Eh Cel. Kamu disini?"


"Heem. Mau nginep boleh kan?" tanya Celia.


"Terserah!" ucap Bima lalu masuk ke dalam kamar dan mandi. Setelah selesai membersihkan dirinya Bima ikut bergabung bersama istri dan iparnya. Yumna sedang asyik main sendiri dengan balok-balok yang susunnya tinggi.


"Adit kemana? Tumben gak ikut?!" tanya Bima.


"Lagi ke Palembang!" ucap Celia.


"Oh ada kerjaan?"

__ADS_1


"Heem."


"Kerjaan apa?"


"Kuliner."


"Wahh hebat dia, sekarang merambah bisnis kuliner. Boleh dong kalau kita ke Palembang di kasih gratisan!" ucap Bima berharap.


"Bukan bisnis kuliner. Tapi nyari kuliner. Gue lagi pengen empek-empek!" ucap Celia membenarkan.


"Hahh?? Maksudnya..." Bima melongo.


"Gue pengen empek-empek asli dari Palembang!" potong Celia cepat. Rahang Bima semakin jatuh ke bawah, hingga kini mulutnya terbuka sangat lebar. Celia yang melihatnya hanya terkikik geli melihat wajah Bima.


"Napa sih? Heran?" tanya Celia. Lily mengatupkan dagu Bima dengan tangannya.


"Ngidam separah itu?" Tanya Bima akhirnya.


"Namanya juga ngidam mas. Orang ngidam mah apa juga boleh kali!" seru Lily.


Bima mengalihkan pandangan pada istrinya.


"Enggak. Mungkin karena ngerti keadaan aku. Jadi saat hamil Yumna gak banyak minta." Bima tertegun.


Benar. Pastilah Una juga bingung kalau ngidam yang aneh-aneh karena gak ada yang bisa turutin. Sampai dia juga minta sama Adit.


"Maaf!" lirih Bima membuat lily menoleh padanya.


"Saat kamu hamil, aku gak ada. Maaf." ucapnya sekali lagi. Lily hanya tersenyum.


"Aku janji nanti kalau kamu ngidam apapun aku akan turutin!" ucap Bima bersemangat kemudian. Lily tersenyum senang.


"Beneran?" Bima mengangguk.


"Kalau aku minta menara Eiffel di pindah ke halaman rumah kita emang kamu bisa?" tanya Lily.


"Eh bisa di penjara mas Bimbim yang, Mas Bimbim akan buatkan replika nya aja ya!" Lily memutar bola mata malas.

__ADS_1


Huhh katanya bisa?! monolog Lily.


Jam sepuluh malam bel berbunyi nyaring. Mbak Santi, salah satu asisten Lily membuka pintu. Tampak Adit dengan keadaan lusuh dan terlihat lelah.


"Loh mas Adit katanya ke Palembang!" tanya Mbak Santi heran.


"Udah, dapet ini langsung pulang lagi." tunjuk Adit pada apa yang di bawa di tangannya.


"Celia mana?"


"Nona Celia di kamar atas sama Yumna."


Adit segera masuk ke dalam rumah. Tampak Celia yang berlari menuruni tangga.


"Yang jangan lari dong!" teriak Adit khawatir. Celia mendekat. Adit merentangkan tangannya sembari tersenyum lebar. Senyum Adit seketika menghilang karena ternyata Celia berlari hanya untuk mengambil kantong plastik di tangannya.


"Aku gak di peluk yang?" tanya Adit cemberut.


"Gak. Kamu bau! Mandi dulu sana!" usir Celia membawa kantong plastik tersebut. Celia lalu meninggalkan suaminya.


"Yang kok gitu sih?!" teriak Adit.


Lily dan Bima keluar dari kamar karena mendengar kegaduhan di luar sana.


"Eh, elu dah balik?" tanya Bima terlihat masih mengantuk.


"Iya, udah dapet empek-empek langsung gue pulang lagi."


Adit berjalan ke dekat sang istri. Tapi Celia beringsut menjauh.


"Kamu bau. Mandi dulu gih!"


"Nanti lah yang, bang Adit capek nih!"


Bima dan Lily ikut duduk di kursi sofa. Celia memakan empek-empek yang di bawa Adit dengan lahap. Tanpa bumbu dan sambal.


"Makasih sayang. Udah, aku kenyang!" ucap Celia setelah memakan satu buah empek-empek di tangannya dan menyimpan yang lainnya atas meja.

__ADS_1


"Udah? Yang di makan cuma satu doang?!" Celia mengangguk senang sambil mengusap perutnya yang masih rata. Adit mengusap wajahnya dengan kasar dan merebahkan dirinya pada sandaran kursi.


Ya Lord, kenapa ngurusin istri yang lagi hamil gini amat sih? monolog Adit dalam hati.


__ADS_2