
"Aku udah baikan kok mas!" serunya. Tapi aku tidak percaya, karena tadi Dena bilang Lily terus mengigau menyebut nama seseorang.
"Ly!" tegasku, tanpa meminta di debat.
Lily turun kembali. Bibirnya mengerucut, wajahnya kesal. Tapi aku merasa terhibur jika melihat Lily seperti ini. Sungguh terlihat perbedaan yang jelas saat Lily di kantor dan di rumah. Lily saat di kantor adalah sosok gadis yang menawan dan berfikiran dewasa, tapi Lily saat di rumah, dia sedikit... bagaimana ya membicarakannya? Dia terlihat manja, tapi tidak terlalu. Dia seperti kanak-kanak, tapi tidak juga! Ah pokoknya dia berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Aku kan udah sembuh!" ucapnya sambil berlalu di depanku dengan langkah kasar, seperti ingin memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja.
Aku tersenyum tipis, momen seperti ini yang mungkin akan aku ingat jika Lily sudah tidak disini.
Aku kembali menekuri hpku. Membuka chat dari ketiga sahabatku di grup. Tidak ada yang menarik. Hanya saja ketiga sahabatku ini sedang hangout di kafe. Aku menolak ajakan mereka karena tidak mungkin juga meninggalkan Lily sendirian dalam keadaan masih demam.
Aku berdiri lalu berjalan ke arah kamar. Ku lihat Lily sedang memainkan hpnya dan tangannya berhenti mengetik saat aku lewat di depannya.
__ADS_1
"Mas mau apa ke kamar?" tanya nya dengan wajah takut.
"Emang salah kalau aku ke kamarku sendiri?" tanyaku, rasanya akan menyenangkan kalau menjahilinya sedikit. Aku berjalan mendekat ke arahnya. Dia mundur seiring dengan aku mendekat padanya.
Lily mengeratkan selimut dan menutupi tubuhnya hungga batas leher.
"Jangan macam-macam mas. Ingat perjanjian kita!" serunya. Aku menampilkan smirk-ku. Dia semakin takut. Wajah paniknya terlihat semakin lucu. Dia sudah tidak bisa mundur lagi karena sudah tersudut ke kepala ranjang. Sorot matanya ketakutan saat melihat sebelah kaki ku naik ke atas ranjang.
"Mas, mau ngapain kamu?" suaranya bergetar, lalu dia menaikan selimutnya hingga menutupi kepalanya.
"Aku cuma mau cek demam kamu!" ucapku dengan kekehan. Ku tempelkan punggung tanganku di dahinya yang masih hangat. Lily membuka matanya. Raut wajahnya berubah dari takut menjadi marah.
"Aww." pekikku saat kedua tangannya melabuhkan pukulan bertubi-tubi di dadaku.
__ADS_1
"Kamu mau bikin aku jantungan!" teriaknya membuat kedua telingaku sakit. Lalu dengan semua tenaga yang dia miliki, Lily mendorongku hingga aku terjengkang ke lantai.
Aku terguling ke bawah. Punggungku sakit karena menghantam lantai, tapi tetap terkekeh karena melihat ekspresi di wajahnya.
Lily bangkit, kedua kakinya sudah menginjak lantai.
"Aku tidur di atas saja. Tidak aman tidur disini!" ucapnya kesal, lalu mulai melangkah.
"Sorry." ucapku sambil menahan tangannya, dia berhenti berjalan. Aku sedikit menarik tangan Lily dan mulai bangkit dari lantai. Mata Lily melotot, sinar matanya sedikit menakutkan.
"Gak boleh tidur di atas!" tegasku. "Atau bilang saja kalau kamu mau tidur satu ranjang sama aku?!" godaku. Wajahnya berubah merah.
"Ih, enggak!" teriaknya lagi. Lalu mendorong dadaku hingga aku keluar dari sana.
__ADS_1
"Kalau aku di suruh tidur disini, Mas Bima tidur di luar!" ucapnya sebelum menutup pintu kamar dengan kencang. Aku melongo di depan pintu karena di usir dari kamarku sendiri. Niatnya tadi mau mengambil bantal dan selimut, malah di usir jadinya.