Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
extra part. Nyasar


__ADS_3

"Mbak, mas. Bangun!" Seseorang mengguncang bahu Arkhan dan Ameera bergantian.


"Lima menit lagi ma!" ujar Arkhan masih menutup matanya menolehkan kepalanya ke arah kiri.


Ameera yang tersadar terkejut karena bus sudah berhenti di suatu tempat, bus sudah kosong, dan keadaan di luar sudah gelap.


"Ya ampun. Dimana ini?" tanya Ameera panik.


"Ini di garasi bis mbak. Sudah malam. Mbak dan mas mau kemana?" tanya kenek pada Ameera.


"Kami ketiduran pak. Maaf." Ameera tersenyum malu.


"Ar. Bangun!" seru Ameera mengguncang bahu Arkhan.


"Lima menit lagi, Ma. Masih ngantuk!" Arkhan tidak menghiraukan malah semakin asyik tidur.


"Arkhan kita nyasar!!!!" teriak Ameera kencang yang langsung membuat Arkhan terlonjak. Bukan hanya Arkhan tapi kenek yang tadi membangunkan mereka kini sedang memegangi dadanya. Wajahnya terlihat syok.


"A-apa? Dimana kita?" Arkhan celingak-celinguk melihat ke arah luar. Gelap.


"Dimana ini?" tanya Arkhan bingung.


"Kita ada di garasi bis kota. Turunkan kaki kamu!" Tunjuk Ameera pada kaki Arkhan yang sudah naik dua-duanya di atas kursi bis.


Arkhan segera menurunkan kakinya. Dan menatap pak kenek yang tidak bergerak sama sekali.


"Meer, kenapa bapak ini?" tanya Arkhan bingung, tangannya melambai di depan wajah pak kenek, Tapi pak kenek tak bereaksi apa-apa.


"Pak. Bapak tidak apa-apa?" tanya Ameera.

__ADS_1


"Meer, serem deh. Matanya melotot." ucap Arkhan lalu dengan segera menarik tangan Ameera keluar dari bis itu.


"Arkhan itu pak kenek kenapa?"


"Pasti gak pa-pa." ucap Arkhan sambil terus menarik tangan Ameera keluar dari garasi bis. Arkhan tidak berani melihat ke arah belakang.


Di tepi jalan Arkhan melihat ke arah kanan dan kiri begitu juga dengan Ameera. Mereka bingung ada dimana sekarang.


"Dimana ini?" tanya Ameera.


"Mana ku tahu. Kamu tanya aku trus aku tanya siapa?" Arkhan bertanya balik membuat Ameera kesal.


"Ish dasar kamu tuh laki-laki! Tanya orang kek." Ameera memukul lengan Arkhan.


"Gak mau ah takut di culik!" Arkhan sambil mengusap lengannya yang tadi di pukul Ameera.


"Emang siapa yang mau culik cowok tengil kayak kamu!" cecar Ameera kesal.


"Kaki kamu masih sakit gak?" tanya Arkhan.


"Udah enggak!" jawab Ameera.


Arkhan merasakan getaran dari saku celananya. Azkhan.


"Woyy dimana? Cepetan pulang, mama marah!" teriak Azkhan dari ujung telfon.


"Gue nyasar!"


"What? kok bisa nyasar?"

__ADS_1


"Jangan teriak deh, kuping gue sakit woyyy!!!" Arkhan balas meneriaki adiknya.


Ameera sedikit menjauh dari Arkhan merasa malu karena sedari tadi para pejalan kaki memperhatikan mereka berdua.


Setelah mematikan telfon Arkhan celingak-celinguk mencari Ameera. Ameera berdiri di sebelah tiang listrik yang berdiri di dekat trotoar.


Ameera menatap heran pada Arkhan yang mendekat sambil tersenyum.


"Aku lupa."


"Apa?" tanya Ameera.


"Padahal di rumah ada pak Naryo. Kenapa gak kepikiran buat nelfon pak Naryo ya?" Arkhan terkekeh.


"Ish dasar pikun." gumam Ameera yang masih terdengar oleh Arkhan.


"Kamu juga gak inget kan? Jadi bukan cuma aku yang pikun!" Arkhan tertawa, sedangkan Ameera memutar bola mata malas.


Tak berapa lama, mobil hitam berhenti di depan mereka. Pak Naryo segera meluncur setelah menerima telfon dari putra majikannya, dan menerima titik lokasi mereka.


Arkhan dan Ameera masuk ke dalam mobil.


"Ar, gimana nasib bapak tadi ya?" tanya Ameera mengingat bapak kenek di bus tadi.


"Mana ku tahu!" jawab Arkhan cuek lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi di samping pak Naryo, masih dengan kacamata Ameera yang bertengger di atas hidungnya.


"Ish dasar! Aku cuma takut kalau dia jantungan, gimana?" tanya Ameera merasa bersalah.


Tapi yang diajak ngobrol hanya diam saja. Ameera menaikkan kacamata yang di pakai Arkhan.

__ADS_1


Dasar! Pantesan diem, di ajak ngobrol malah tidur!


Hampir satu jam Ameera sudah sampai di rumahnya. Setelah mengucapkan terimakasih pada pak Naryo Ameera pamit masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh Santi yang terlihat khawatir.


__ADS_2