Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 271


__ADS_3

Tahun ajaran baru di mulai. Syifa masuk kelas satu Sd, meninggalkan si kembar di tk B.


Santi yang bertugas mengantar Syifa dan Yumna karena mereka satu sekolahan, di antarkan oleh supir. Sedangkan si kembar, Lily yang mengantar sekolah.


Syifa terlihat malu saat akan masuk ke kelasnya. Dia juga takut. Santi merasa khawatir, sifat Syifa memang berbeda dari ketiga lainnya. Selain pemalu, Syifa juga sedikit penakut dan cengeng, maka dari itu dia selalu jadi bulan-bulanan kedua adiknya.


Syifa terus memegangi tangan Santi. Beberapa kali menoleh pada ibu asuhnya berharap untuk pulang.


"Syifa, kamu harus sekolah sayang. Biar pintar." bujuk Santi.


"Tapi Syifa takut." Santi menjadi bingung.


"Syifa masuk ke dalam kelas. Ibu tunggu di sini ya. Ibu lihat Syifa di jendela sana, oke?!" Syifa menggelengkan kepalanya memegangi baju Santi erat.


"Maaf, ini ruangan kelas satu...A?" tanya seseorang yang kemudian tertegun melihat Santi. Begitu juga dengan Santi yang terdiam melihat pria di depannya.


Seorang pria dengan gagah terbalut kemeja biru navy, di sampingnya berdiri seorang anak perempuan dengan rambut di ikat dua tampak malu-malu.


"Santi?" Santi terdiam melihat pria itu.


Ridho?!


Jelas, Santi kenal dengannya.


Akhirnya dengan segala bujukan Syifa mau masuk ke dalam kelas bersama Ameera, putri dari Ridho. Beruntung Ameera berani dan cepat akrab dengan Syifa.


Sinta dan Ridho sedang duduk di bangku taman sekolah agak berjauhan.

__ADS_1


"Apa kabar kamu?" tanya Ridho setelah hampir dua puluh menit mereka terdiam.


"Baik." jawab Santi singkat, jauh di dalam lubuk hatinya masih dia simpan rasa itu. Rasa yang tidak mungkin untuk di sampaikan pada pria disampingnya ini.


Ridho dan Santi bersahabat saat SMP, mereka satu kampung dulu. Mereka suka satu sama lain, tapi juga sama-sama tidak berani menyatakan perasaan mereka. Hingga akhirnya Ridho harus ikut dengan sang paman ke kota, Ridho akan melanjutkan SMA sambil bekerja di toko milik pamannya. Santi merasa sedih tapi dia juga tidak bisa melarang Ridho untuk menggapai cita-citanya. Biarlah cinta itu di tanggung olehnya sendiri.


"Kita udah lama gak ketemu."


"Iya." jawab Santi canggung.


"Aku selesai SMA pulang kampung dulu. Tapi kamu udah..." ucap Ridho terhenti.


"Iya. Aku nikah sama teman kita." ucap Santi pada akhirnya karena Ridho tidak kunjung juga bicara.


"Aku tahu. Aku bersyukur kamu nikah sama dia, dia baik dan bisa sayang kamu." Santi terdiam, merasakan sakit hatinya. Kembali ingat dengan apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu.


"Dia apa kabar?"


"Baik."


Santi mengangguk. Tidak berniat untuk mengelak dengan sebutan Syifa adalah putrinya. Memang benar kan, Yumna, Syifa, Arkhan dan Azkhan adalah putra-putrinya juga sedari dulu.


"Kamu antar Ameera sendirian?" tanya Santi.


"Iya. Pengasuhnya lagi pulang, anaknya sakit."


"Kamu gak kerja? Kenapa istri kamu gak antar Ameera?"

__ADS_1


Ridho terdiam menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Mama Ameera, sudah meninggal sesaat setelah Ameera di lahirkan."


Santi tidak menyangka jawaban itu yang akan ia dapat. Bisa Santi lihat wajah Ridho berubah sendu.


"Maaf." cicit Santi penuh sesal.


"Gak pa-pa. Memang sudah seharusnya. Tuhan lebih sayang sama dia, daripada dia hidup dalam kesakitan." Ridho mencoba tersenyum.


Karena ini adalah hari pertama sekolah. Jam pelajaran belum di berlakukan, hanya sesi perkenalan antara murid dengan guru dan sesama teman sekelasnya.


Syifa dan Ameera keluar dari dalam kelas dan mendapati Ridho dan Santi di taman. Mereka pun berlari kesana.


"Ibu, Lihat Syifa dapat ini!" Syifa menunjuk kertas berbentuk buah apel berwarna merah di baju bagian kirinya, disana bertuliskan nama Assyifa.


"Aku juga!" Ameera pada sang ayah menunjuk pada kertas dengan berbentuk anggur berwarna ungu.


Santi dan Ridho sama-sama senang melihat mereka.


"Ibu, ayo pulang!" Syifa menarik tangan Santi.


"Eh iya, harus telfon dulu pak Nar sayang." ucap Santi mengingatkan.


"Oh iya, Syifa lupa!" ucap Syifa sambil menepuk jidatnya.


Ridho terus menatap Santi yang bahagia. Hatinya tenang dan ikut senang dengan kebahagiaan Santi.

__ADS_1


Ridho menemani Santi sampai jemputan mereka datang, sementara itu anak-anak sedang bermain di dekat mereka.


Pak Naryo datang, dan menelfon Santi mengabarkan dia sudah ada di gerbang. Santi pamit pada Ridho dan Ameera untuk segera pulang.


__ADS_2