
"Eh, inget mbak yu mu itu sudah berumah tangga, dia harus pulang!" suara budhe Nani mengingatkan anaknya di sela keramaian terminal itu. Padahal dalam hatinya, ia sendiri juga tidak rela dengan kepergian Lily.
"Pindah aja kesini toh mbak, biar kita bisa sama-sama. Iya kan bu?" Mentari tidak putus asa mencari dukungan dari sang ibu, lalu menatap sang ayah. Tapi ayahnya hanya diam, tidak bereaksi.
"Huss kamu ini. Jangan begitu!"
"Iya mbak, gak usah pulang, ya mbak! Nanti yang nemenin Bulan belajar siapa?" Bulan memberengut membuat Lily tidak tega.
"Kan ada mbak Mentari." usap Lily di kepala Bulan.
"Ah mbak Mentari gak seru. Enakan belajar sama mbak Una!" protesnya.
Akhirnya perdebatan alot mereka di sudahi dengan sang ayah yang angkat bicara.
"Ya sudah nduk. Kamu yang ati-ati ya. Maaf pakdhe gak bisa nunggu kamu sampai bis kamu berangkat. Pakdhe ada urusan."
__ADS_1
"Iya pakdhe gak pa-pa. Makasih pakdhe udah nganter Una sampai terminal. Makasih juga oleh-olehnya budhe." ucap Lily sembari memeluk budhe kesayangannya. Airmatanya jatuh berderai tapi segera di hapus oleh tangan halus budhe Nani.
"Sama-sama nduk. Udah jangan nangis lagi. Kamu yang sehat disana ya. Jangan lupa sering-sering pulang. Lain kali ajak suamimu. Budhe juga mau ketemu." Lily mengangguk, tapi dalam hati ia tidak bisa berjanji.
Mentari dan Bulan sama sedihnya juga, mereka harus merelakan Lily pergi.
"Mbak bawa foto aku yang wisuda kan?" tanya Mentari. Lily mengangguk dan menepuk kopernya.
"Sering pulang ya mbak. Biar Tari bisa curhat lagi sama mbak Una."
"Iya mbak. Bulan juga akan metik buah mangga mentah yang banyak biar tiap hari mbak Una bisa makan rujak." Bulan mulai menangis tersedu membuat Lily terharu.
Lily masih menunggu kini ia seorang diri. Lily mengambil hpnya lalu menyalin nomor-nomor penting ke dalam memori hpnya. Kemudian ia membuka simcard serta memorinya dan membuangnya ke tempat sampah.
Suara speker kembali terdengar, mengumumkan bahwa bis akan berangkat. Lily bersiap, dengan bantuan seorang porter ia menuju sebuah bis dengan corak berwarna merah. Lily menenteng tas tangan dan tas kecil, sedangkan porter membawakan koper dan sebuah tas berisi oleh-oleh yang di berikan budhe Nani.
__ADS_1
Bis pun pergi, bukan untuk mengantar Lily pulang ke rumah, tapi ke tempat tujuan Lily yang baru.
***
Bima dan ke tiga sahabatnya sedang duduk di restoran untuk makan siang. Keempat pengusaha muda itu sangat serius membahas soal pencarian Lily.
Adit yang masih marah pada Bima hanya menatap sang sahabat dengan tatapan tajam. Sedangkan Bima tak hentinya menatap ponsel yang ada di tangannya. Kembali melihat medsos atau sesekali menghubungi nomor Lily yang sudah lama tidak aktif.
Keadaan Bima sangat kacau sekarang. Terlihat sangat kurus dengan bulu halus yang agak panjang pada dagu dan bawah hidungnya. Lingkaran hitam di mata yang terlihat jelas menandakan bahwa pria itu tidak cukup tidur dan tidak mengurus dirinya sendiri dengan baik.
Roman dan Yoga pulang terlebih dahulu. Meninggalkan Bima dan Adit yang duduk berdua disana.
"Nyesel lo sekarang? Elo udah sia-siain wanita baik kayak Lily. Tau elo bakal lukain dia gue gak akan mundur dulu! Wanita baik kayak Lily gak pantes dapetin cowok brengsek kayak elo!" Adit berdiri lalu meninggalkan Bima yang terdiam karena perkataan Adit.
'Benar. Gue emang brengsek!'umpat Bima dalam hati.
__ADS_1
Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Tapi kalimat itu sudah terlambat untuk Bima bukan?
***