Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 115


__ADS_3

Lily terdiam menatap hpnya. Perkataan Bima soal program kehamilan itu membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak dua malam ini. Ingin Lily menelfon dan protes, tapi dia takut yang mengangkat adalah Dena.


Ya sudahlah, besok juga ketemu di kantor kan. Lily akan protes keras besok!


Lily menganggukan kepalanya dengan mantap, hingga poninya bergoyang lalu dia merebahkan dirinya di kasur Bima yang nyaman.


"Ah,,, kenapa rasanya gak mau pindah ke atas ya!" lirih Lily pada dirinya sendiri. Dia menghisap aroma selimut yang sudah hampir lima hari ini Bima tinggalkan. Lima hari.


Lily tersenyum sendiri. 'Itu berarti lusa mas Bima akan pulang kesini kan?' batinnya.


"Eh biarin aja. Kenapa juga kalau mas Bima pulang kesini? Ini juga rumah dia kan. Lagian juga gak ada ngaruhnya mau pulang mau enggak. Tetep tidur sendiri juga!" racau Lily kesal.


"Eh?" Lily malu sendiri karena tiba-tiba memikirkan sesuatu yang 'tidak-tidak'? 'iya-iya' maksudnya. 'iya-iya' yang tidak mungkin akan terjadi diantara mereka.


"Aaahhh. Apa sih, ni isi otak kok jadi mesum?" ucap Lily sambil menendang-nendangkan kakinya udara hingga selimutnya melorot ke bawah kakinya.


"Gak boleh gini! Gak boleh gini!" ucap Lily sambil memukul kedua pipinya sedikit keras.

__ADS_1


Setelah perjuangan Lily yang berguling kesana kemari di dalam kamar, akhirnya Lily bisa tidur juga di ruang tv di atas sofa dengan tv yang menyala.


***


Bima memandang hpnya, bimbang. Perkataannya malam itu membuatnya merasa tidak tenang. Dena sudah terlelap dua jam yang lalu. Sedangkan dirinya sekarang berdiri di tepi kolam renang.


Jam sudah menunjuk angka sebelas malam. Bima sudah mondar-mandir disana selama hampir satu setengah jam. Dia bingung seharusnya kemarin malam dia langsung menelfon Lily tapi karena bayangan gadis kecil itu membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


Bima menyimpan hpnya di atas meja kayu tidak jauh dari sana, lalu membuka baju tidurnya yang berbentuk kimono ke atas kursi hingga menyisakan celana bokser yang melekat di tubuh seksinya.


Air kolam yang tenang seketika bergelombang ke tepian bersamaan dengan tubuh Bima yang ia jatuhkan dengan merentangkan tangannya dengan punggung yang lebih dulu mencium air.


Bima tidak bergerak, dia menenggelamkan dirinya ke dasar kolam dan menahan nafasnya selama mungkin.


'Bagaimana aku bisa mengatakan soal program hamil pada Dena? Harusnya aku mengatakan alasan lain. Bukannya mengungkung Lily lebih lama lagi dengan permainan ini. Harus nya aku berusaha untuk menjauh dari Lily kan. Tapi... kenapa rasanya aneh... kenapa rasanya... tidak rela..?'


Bima mengerjapkan kedua matanya lalu dengan satu hentakan kaki ke dasar kolam dia berusaha berenang ke permukaan. Bima menarik nafas kuat dan rakus saat oksigen di paru-paru nya menciut. Dadanya kembang kempis merasakan kembalinya oksigen mengisi paru-parunya.

__ADS_1


Bima berenang ke tepi kolam, Dena sudah berjongkok disana dengan sebuah handuk di tangannya.


"Kamu gak tidur?" tanya Bima masih di dalam air.


"Aku kebangun, mas gak ada di kamar!" senyum Dena.


"Kenapa renang tengah malam? Nanti kamu sakit loh!" Bima hanya terdiam, masih enggan keluar dari dalam air.


"Dia datang lagi?" tanya Dena lagi. Bima menggeleng.


'Bukan Una. Tapi Lily!' batin Bima.


Dena mengulurkan satu tangannya. Berharap Bima mau menerima uluran tangan darinya dan keluar dari dalam kolam yang dingin. Tapi Bima masih diam di tempatnya.


"Mas mau tetap disana atau Na yang akan lompat ke air?" tegas Dena memerintah Bima segera mengambil tangan Dena dan keluar dari kolam. Dena tersenyum sambil melingkarkan handuk ke tubuh suaminya yang kini sudah duduk di tepi kolam.


"Na siapin air hangat." tanpa menunggu persetujuan, Dena pergi ke dalam kamarnya, meninggalkan Bima yang duduk mematung dengan kedua kaki masih di dalam air.

__ADS_1


__ADS_2