Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 238


__ADS_3

Bima sampai di kantor. Dia langsung mengerjakan pekerjaannya yang selalu menumpuk.


Haahh, kalau aja Una yang jadi sekretaris aku pasti ini beres semua. batin Bima dengan senyuman. Bukan berarti sekretarisnya tidak ahli dan cekatan. Tapi dulu Lily termasuk salah satu mood booster walau tanpa Bima sadari.


Bima merasa lapar, dia memanggil seseorang lewat interkom. Tak lama seorang OB pria datang ke kantor Bima. Umurnya jauh di bawah Bima.


"Tolong carikan saya siomay ya. Bumbu kacangnya yang banyak, sambelnya juga. Jangan lama-lama saya mau yang masih panas." ucap Bima sambil mengeluarkan selembar uang berwarna merah.


OB itu segera pamit sambil menerima uang dari Bima.


Bima merebahkan dirinya pada sandaran kursi. Jari telunjuknya ia ketuk-ketuk di atas lututnya.


Siomay.


Siomay.


Siomay!!!


Ahh laper!!! Siomay... Lama...


Hampir sepuluh menit pintu di ketuk dari luar.


"Masuk!"


OB yang tadi masuk lagi dengan sebuah kantong plastik di tangannya. Bima tersenyum senang. OB itu menyerahkan uang kembalian pada Bima. Bima menolak dan memberikannya pada OB itu. Seneng dong ya, dapet rejeki nomplok. OB itu berterima kasih pada Bima.


Bima segera membuka bungkusan plastik itu. Seketika wangi bumbu kacang dan aroma ikan tercium di ruangan saat Bima membuka sterofoam berisi siomay. Air liurnya hampir saja menetes. Terlihat bintang-bintang di atas siomay, dan asap yang mengepul dari sana menari-nari di depannya. Dasar Bima lebay!


Bima menikmati makanannya hingga tandas tak bersisa.


Bima kembali bekerja dengan semangat empat lima setelah perutnya terisi dengan siomay tadi.


Bima membuka berkas di tangannya, membaca isinya, lalu tersenyum sendiri. Bukan karena hal yang lucu yang sedang di bacanya, tapi karena mengingat dirinya sangat ingin siomay tadi, padahal seingatnya dulu sekali saat zaman kuliah terakhir kalinya ia makan siomay.

__ADS_1


Tumben! ucap Bima dalam hati. Lalu kembali pada pekerjaannya.


Suara hpnya berdering. Bima melihat layar di hpnya. Dari Sinta, asisten di rumah.


"Iya mbak?"


"Lily pingsan?!" seru Bima terlonjak bangun dari kursinya hingga kursi itu terdorong ke belakang.


"Saya segera pulang! tolong jaga Lily."


Tutt. Tutt.


Hp di matikan. Bima dengan segera menyambar jas dan tas kerjanya. Lalu keluar dari ruangan.


"Batalkan pertemuan hari ini. Nanti saya hubungi lagi." ucap Bima pada sekretarisnya.


"Tapi pak..." ucapan sekretaris tak dihiraukan Bima. Sekretaris yang melihat Bima pergi hanya mendumel dalam hati. Pasalnya orang dari perusahaan XX sangat disiplin dalam menggunakan waktu mereka. Dan akan sangat sulit untuk meminta janji temu kembali.


Namun yang ada dalam fikiran Bima adalah Lily. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Terakhir kali Lily pingsan saat merasakan sakit kepalanya dulu waktu masih amnesia.


Bima setengah berlari ke arah mobilnya.


Ada apa dengan Una? Apa kepalanya sakit lagi?


Mobil segera melaju ke jalanan yang ramai. Wajah Bima panik. Hingga dia melajukan mobilnya sedikit cepat.


Una kenapa kamu?


Mobil berhenti saat lampu merah menyala. Bima memukul kemudi dengan keras tidak peduli dengan rasa sakit di tangannya.


Tidak sampai setengah jam Bima sudah sampai di rumah. Yumna terlihat sembab wajahnya, pastilah dia tadi menangis.


"Dimana Lily?" tanya Bima pada Santi yang menyambutnya di pintu.

__ADS_1


"Di kamar pak. Dokter Hendra sedang periksa mbak Lily!"


"Papa... mama...hikss... mama sakit... hwaaa.." Yumna mengulurkan kedua tangannya. Bima mengambil alih Yumna dari gendongan Santi. Lily sedang di periksa oleh Om Hendra dokter keluarga mereka. Bima mengelus punggung Yumna pelan.


"Mama akan sembuh sayang. Kan opa dokter lagi periksa mama." bujuk Bima pada Yumna. Yumna mengalungkan lengannya pada leher Bima.


"Tadi mbak Lily pingsan waktu di taman belakang, pak." Santi memberi keterangan.


Bima berjalan ke arah kamar. Terlihat Lily sudah sadar dari pingsannya.


"Om. Bagaimana keadaan Una?" Tanya Bima saat dokter selesai memeriksa Lily di dalam kamarnya.


"Lebih baik kamu bawa Una ke rumah sakit." ucap pria yang berusia lebih dari setengah abad itu.


"Apa Una sakit parah? Dia sakit apa? Apa kepalanya sakit lagi? Bagaimana..." Bima panik.


"Bukan. Untuk lebih memastikan bawa dia menemui Linda. Om kira Una pingsan karena sebab lain!"


"Sebab lain? apa?" tanya Bima bingung dan juga panik.


"Kemungkinan Una sedang mengandung."


Bima tertegun mendengar apa yang di katakan om Hendra.


Bima segera tersadar dan kemudian mendekat ke arah tempat tidur. Lily sudah duduk di tepi tempat tidur, tersenyum saat melihat Bima dan Yumna meski wajahnya terlihat pucat.


"Sayang!" panggil Bima.


"Mas." Bima dan Lily tidak bisa berkata apa-apa. Bahagia sudah pasti dirasakan keduanya. Sedangkan Yumna masih bingung dengan keadaan sekitarnya.


"Segera ke rumah sakit, untuk memastikan! Aku pulang dulu." pamit Hendra. Santi mengantarkan dokter Hendra sampai ke mobilnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Bima. Lily mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2