
"Arkhan, turunkan. Aku bisa jalan sendiri!" ucap Ameera.
"Gak mau! Kalau jalan sendiri pasti lama." ucap Arkhan.
"Tapi aku malu!" lirih Ameera menyembunyikan wajahnya di punggung Arkhan karena banyak pasang mata yang melihat dengan tatapan iri.
"Memangnya kenapa harus malu?" tanya Arkhan.
"Banyak yang lihat." Lirih Ameera lagi.
"Biarkan saja!" Arkhan tetap berjalan. "Kalau saja ban mobil ku tidak kempes pasti kita sudah pulang dari tadi."
"Kamu kan belum punya SIM, kok papa Bima bolehin kamu bawa mobil? Emang mama Lily gak marah?" tanya Ameera.
Arkhan hanya menolehkan kepalanya ke samping sambil menyengir, jarak mereka sangat dekat hingga hidung Ameera menempel di pipinya. Arkhan tersenyum jahil semakin memutar kepalanya ke arah wajah Ameera, hingga alhasil bibir Ameera menempel di pipi Arkhan.
"Kalau mau cium bilang-bilang dong! Jangan curi-curi kesempatan."
"Ih Arkhan!!!" teriak Ameera sambil memukul punggung Arkhan. Ameera yang terus bergerak-gerak membuat Ameera semakin terasa berat.
"Jangan gerak Meer. Nanti jatuh!" peringat Arkhan, dan benar saja jika Arkhan tidak sigap maka mereka akan jatuh terjengkang. Untung saja Arkhan sigap hingga mereka tidak jatuh. Ameera yang takut jatuh melingkarkan tangannya di leher Arkhan dengan erat, matanya terpejam.
"Meer...Ameera..." panggi Arkhan dengan suara tercekat. "Lepas, aku...gak bisa nafas! Aku.. bisa.. mati...!"
__ADS_1
Ameera yang mendengar langsung melonggarkan tangannya dari leher Arkhan. Arkhan menarik nafas banyak-banyak.
"Maaf, maaf. Aku takut jatuh tadi." ucap Ameera malu.
"Kalau takut jatuh jangan banyak gerak dong!" Arkhan juga tak kalah malunya, karena sedari tadi dia merasakan dada kenyal milik Ameera di punggungnya. Arkhan menahan nafasnya selama menggendong Ameera tadi, apalagi barusan, waktu Ameera terus bergerak membuatnya semakin gerah.
"Iya, maaf." Ameera mengalihkan kantong belanjaannya ke tangan yang lain karena merasa pegal.
"Tangan kamu pegal?" tanya Arkhan.
"Enggak kok." jawab Ameera malu.
"Sebentar lagi kira sampai halte." ucap Arkhan. Ameera hanya mengangguk. Arkhan kembali melangkah ke kakinya.
"Meer. Ingat gak dulu waktu kamu nangis di taman. Aku juga yang gendong kamu sampai rumah." Arkhan mengingat kejadian saat mereka SD.
"Ish kamu, umur berapa sih udah lupa aja. Aku aja masih ingat. Kamu aku gendong sampe rumah, kamu tidur, dan ingus kamu nempel di baju aku!" Arkhan tertawa, dan membuat Ameera juga ikut tertawa.
"Jangan pura-pura lupa!" ucap Arkhan. Ameera merasa malu dan menyembunyikan wajahnya di pundak Arkhan.
"Eh awas ya jangan sampai ingusnya nempel di baju aku!"
"Arkhannn!!!" gak romantis banget deh!" teriak Ameera lalu dengan refleks menutup mulutnya.
__ADS_1
"Kamu mau yang romantis?" Arkhan tertawa.
"Pacar juga bukan, pengen romantis aja!"
Deg!!
Tiba-tiba hati Ameera merasa seperti gelas yang di jatuhkan dan pecah berserakan di lantai.
Ameera seketika terdiam. Arkhan seakan mengingatkan siapa dia untuknya. Bukan siapa-siapa!
Matanya berkaca-kaca. Ameera menahan air matanya yang siap mengalir.
"Meer? Kamu tidur?!" Ameera tersadar saat Arkhan memanggilnya.
"Enggak!"
"Dari tadi kamu diam aku kira kamu tidur lagi." Ameera mengusap sudut matanya yang basah dengan sebelah tangan.
"Eh itu ada bis!" seru Arkhan lalu berlari sekuat tenaga mengejar bis yang berhenti di halte dengan Ameera yang masih di gendongnya.
Akhirnya Arkhan dan Ameera berhasil memasuki bis tersebut. Ameera duduk di dekat jendela sedangkan Arkhan di sebelahnya. Nafas Arkhan naik turun karena lelah harus berlari dengan beban berat di punggungnya.
"Nanti kalau udah sampai bangunin ya." ucap Arkhan lalu mengambil kacamata hitam milik Ameera dan memakainya, Arkhan menyandarkan kepalanya dan menutup mata, kedua tangannya di lipat di depan dadanya. Arkhan memang agak pusing jika menaiki bis, apalagi jika bisnya penuh sesak.
__ADS_1
Ameera menatap wajah Arkhan. Di tatapnya wajah itu lekat-lekat. Ada perasaan bahagia bisa sedekat ini dengan Arkhan, jarang sekali mereka bisa akur seperti ini. Karena setiap mereka bertemu selalu saja bertengkar meski dengan hal yang kecil sekalipun. Tapi sedetik kemudian Ameera merasakan sakit lagi di hatinya. Ameera bukan siapa-siapa bagi Arkhan, hanya sebatas sahabat kakaknya.
Ameera menyandarkan kepalanya, memutar kembali momen kebersamaan dengan Syifa dan si duo rusuh. Ameera tersenyum sendiri hingga ingatan itu menuntunnya untuk masuk ke dalam mimpi.