Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 175


__ADS_3

"Saya perlu tahu, Ly. Karena saya sayang sama kamu!" ucap Azka akhirnya.


Tidak mengejutkan untuk Lily karena Nila sedari lama juga memberitahunya.


"Maaf, pak. Lily cuma ingin fokus untuk hidup Lily dengan Yumna. Lily belum..."


"Tidak apa. Saya akan menunggu kamu sampai kamu mau sama saya! Kita bisa coba pelan-pelan kan?"


Ya ampun. Lily di hadapkan lagi dengan orang yang keras kepala.


***


Tiga tahun kemudian.


Perayaan ulangtahun kecil-kecilan di rumah itu hanya di hadiri oleh beberapa orang dewasa dan anak-anak, tidak banyak memang tapi cukup untuk membuat sang anak tersenyum lebar, bahagia.


Semakin bertambah usianya Yumna semakin terlihat cantik dan menggemaskan. Wajahnya persis dengan Lily, garis hidung dan bibirnya juga, hanya saja mata Yumna lebih mirip pada Bima.


"Selamat ulangtahun, Yumna." Lily mengecup kening sang putri dengan sayang, lalu bergantian dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Ma, papa mana?" tanya Yumna saat tak melihat sosok lelaki di samping Lily.


"Papa terlambat sayang. Nanti pasti datang. Sana ketemu sama temen-temen, kasih mereka kue, oke?" Hibur Lily sang putri yang sedikit kecewa akhirnya mengangguk dan berlari ke arah yang lain.


Lily gelisah, berkali-kali melihat ke arah pintu tapi yang di tunggu tidak datang juga. Jika ia yang kecewa tidak apa-apa, itu sudah biasa, tapi Yumna, tidak dengan dia!


Telfon tidak di angkat, Lily bergerak gelisah, berputar-putar seperti strikaan uap yang sedang mengepulkan asap.


"Kenapa, Na?" tanya mama Puspa.


"Mas Azka belum datang ma, padahal udah janji sama Yumna."


"Kalau sibuk kenapa juga harus janjiin datang kan?" Puspa mengangguk faham.


"Ya sudah mendingan kamu temenin Yumna aja." Lily mengangguk kemudian berlalu dari sana.


Satu persatu orang-orang sudah meninggalkan pesta kecil itu. Lily kecewa karna Azka masih belum terlihat batang hidungnya. Awas aja kalau datang, gak bakalan Lily kasih dia masuk! Lily menggeram dalam hati, karena sedari tadi terus menenangkan Yumna yang menanyakan papa-nya.


Adit datang dengan membawakan sesuatu di tangannya. Khusus hari ulangtahun Yumna Adit selalu berusaha menyempatkan diri untuk hadir meski harus lelah pulang pergi Jakarta-Surabaya.

__ADS_1


"Kenapa Yumna?"


"Mas Azka belum datang. Yumna nyariin dari tadi."


"Dasar kampret! Awas aja kalau sampai Yumna nangis, mas Adit jadiin dendeng sapi, dia!" ucapnya dengan geram, tak lupa tangannya yang mengepal dalam genggamannya yang lain.


Satu jam, dan yang di tunggu benar-benar belum datang. Yumna sudah merengek merindukan sosok sang papa, hingga Lily dan Adit kewalahan. Akhirnya mama Puspa turun tangan, dan Yumna mau menurut.


"Kejutaaann!!" seru seseorang di balik puluhan balon yang di bawanya.


"Papaa!!" Yumna berseru dan berlari saat suara orang yang di tunggunya datang juga, langsung memeluk kaki Azka dengan penuh rindu.


"Selamat ulang tahun Yumna." Azka berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan anak kesayangannya. Lalu memberikan sebuah kotak dengan ukuran cukup besar pada Yumna. Tak lupa mencium pipi anak itu dengan gemas. Yumna balik mencium pipi sang papa, lalu kembali berlari ke arah Lily yang kini cemberut menatap Azka.


"Maaf terlambat!" Azka menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. 'Gawat, Lily marah, pasti sebentar lagi di usir gak boleh deket-deket! Huffttt'.


Tuh kan Lily udah melipat kedua tangannya di depan dada. Dan jangan lupakan tatapan elang Adit yang seakan ingin menyambarnya dari ketinggian.


"Maafkan hambamu ini tuan putri. Silahkan tuan putri berikan hamba hukuman, apapun akan hamba terima atas kesalahan hamba!" Azka layaknya seorang abdi yang sedang bersiap menerima hukuman dari permaisuri. Tidak lupa dengan melipat kan tangannya di depan perut dan sedikit membungkukan badannya.

__ADS_1


__ADS_2