Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 191


__ADS_3

Di ruangan itu ramai oleh orang-orang yang keluar masuk bergantian. Keluarga Adit saat pagi dan berganti dengan keluarga Bima di siang hari.


Ratih dan Adi sangat bahagia saat melihat Yumna. Benar, Yumna memang gambaran dari Lily, versi kecilnya. Mata mereka berkaca-kaca saat melihat Yumna, tidak menyangka mereka sudah punya seorang cucu. Ratih dan Adi juga tidak menyalahkan atas kepergian Lily. Memang Bima yang sudah keterlaluan!


"Selamat bro. Gue emang udah curiga dari awal saat pertama melihat Yumna, tapi sayangnya gue gak konek waktu itu." Roman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menyesali keadaannya yang melupakan seseorang gang berwajah mirip dengan Lily.


"Gue seneng Man. Selama ini dia selalu ada dalam mimpi gue. Ternyata anak gue Man!" Roman mengangguk dengan pernyataan Bima.


"Kalau Yumna udah sembuh gue akan susul Lily ke Surabaya. Gue akan minta maaf sama dia."


"Iya. Harus. Gue juga akan nyusul kesana." ucap Roman.


"Makasih, Man. Kalau gak ada kalian yang bantuin gue dan semangatin gue selama ini, gue gak tau lagi mungkin gue udah gila dan jadi salah satu tamu di rumah sakit jiwa."


"Haha, elo lebih dari penghuni rumah sakit jiwa malahan!" ejek Roman dengan kekehan.

__ADS_1


"Tadi si Yoga chat gue, besok dia baru pulang dari luar kota bakalan langsung kesini." tambahnya.


"Iya, tadi gue juga dapet chat dari dia." terang Bima.


"Papa." Yumna, yang sedang ada di gendongan Ratih mengulurkan tangannya ke arah Bima, entah mungkin karena ikatan batin antara anak dan papanya kini Yumna merasa nyaman dengan Bima.


Adit melihat interaksi Bima dan Yumna dengan perasaan bahagia. Entah keputusannya salah atau tidak membawa Yumna pada Bima, tapi melihat Yumna tertawa lebar Adit tidak peduli jika Lily akan marah padanya. Adit akan terima!


***


Bima menatap nanar pada sosok yang tengah berbaring di hadapannya. Entah apa yang akan terjadi kalau Lily tidak di bantu dengan alat penunjang kehidupan selama enam minggu ini.


Lily terlihat kurus, sangat kurus. Bahkan hampir terlihat seperti tulang yang dibungkus kulit yang pucat. Tapi wajahnya masih tetap sama. Tidak! Tapi malah semakin terlihat aura dewasa dan semakin terlihat cantik dari yang terakhir Bima lihat.


Satu minggu lagi Bima akan melangsungkan pernikahan dengan Celia. Undangan sudah di sebarkan. Sebelum itu ia ingin memohon ampun pada Lily, memohon supaya Lily memaafkan semua kesalahannya.

__ADS_1


Bima berada seorang diri di dalam ruangan itu, tidak ada yang mengganggunya. Bahkan Adit memutuskan untuk membawa Yumna pulang dan membiarkan Bima untuk menjaga Lily hari ini.


Bima duduk di kursi di samping Lily. Memegang tangan Lily yang semakin terlihat kecil.


"Una, ini aku mas Bimbim. Masih ingat gak? Aku Bimbim si chubby." Bima membiarkan lelehan hangat melewati pipinya.


"Aku mohon maafkan aku Na. Aku sudah jahat sama kamu. Aku udah sakitin hati kamu. Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf." kali ini Bima menangis tersedu. Tidak tahan melihat wanita yang sangat di cintai dan di rindukannya selama ini terbaring tak berdaya.


"Please Na, bangun. Tolong maafin aku. Aku terlambat menyadari perasaanku sendiri. Dan aku terlambat mengetahui kalau kamu ternyata Una, gadis kecil yang selalu mengganggu selama hidupku! Aku cari kamu selama ini. Maaf aku bodoh gak kenalin kamu selama ini." Air mata Bima kembali deras mengucur, selama empat tahun momen saat-saat yang di tunggu bertemu Lily dan meminta maaf, tapi bukan seperti ini keadaannya.


"Kenapa kamu tega Na? Kamu sembunyikan Yumna dariku. Aku juga ayahnya." Bima mengusap air mata di pipinya. Sadar dan ingat dengan perkataan dokter untuk mengatakan hal-hal yang baik saja.


"Sadarlah Na. Yumna butuh kamu. Anak kita butuh kamu!"


***

__ADS_1


__ADS_2