
Bima menatap kesal pada dua sosok yang duduk tepat di depannya. Sofie hanya cuek sambil memakan beef steak dengan elegan. Sedangkan Adit juga sama, dia lebih suka mengalihkan pandangan ke arah lain dan terlihat menahan tawanya. Dan Lily? Oh jangan tanya, wajah Lily lebih merah daripada kepiting rebus yang sekarang ada didalam piringnya.
Sekarang mereka sedang makan bersama di meja makan besar. Selain Bily dan kedua orantuanya, keluarga pakdhe Yudha, Sofie dan Edward, Adit dan Celia, Melati dan Hadi, dan juga mama Puspa. Baru kali ini rumah begitu ramai dan mereka menjadi keluarga yang sangat besar.
Bima makan dengan berisik, sendok dan garpu terdengar jelas di telinga, dia masih sangat kesal! Anggota yang lain memaklumi, menahan tawa dan mengulum senyum.
Dasar! Mereka kan tahu aku pengantin baru, gak bisa gitu gak ganggu! Kayak gak pernah ngalamin aja! Bima.
Ya ampun. Aku malu! Gimana bisa kami hampir melakukan itu, padahal di rumah ini sudah jelas masih banyak orang. Ah gara-gara mas Bima. Awas kamu, mas! Lily.
Hampir semua memperhatikan Bima dan Lily tapi mereka tetap diam tidak ingin membuat keduanya tambah malu dan gugup.
Memang seharusnya mereka biarkan saja pengantin itu di kamar! Tapi acara nanti malam akan terasa sangat panjang dan pastinya akan melelahkan untuk mereka. Ratih dan Adi tidak mau Lily sampai pingsan kalau sampai tidak cukup makan dan istirahat karena perbuatan mesum anaknya.
"Bima. Makan itu yang tenang dong!" Adi mengingatkan. Bima tidak bereaksi apa-apa hanya sekarang lebih memelankan suara dentingan di piringnya. Dia masih kesal.
__ADS_1
"Kamu gak lihat gitu wajah kamu sekarang? Jelek, hihi." Ratih menimpali, membuat beberapa orang menahan tawanya. Dan Bima semakin kesal semakin melotot pada Adit dan Sofie. Kedua orang yang sudah membuat dirinya kesal.
"Aku udah selesai." Ucap Adit lalu menyenggol lengan Celia untuk mengikutinya.
"Loh kok udah selesai, Dit. Kamu makan baru sedikit." ucap Ratih heran.
"Enggak ah ma." Adit juga memanggil Ratih dengan sebutan Mama sudah sejak lama.
"Takut. Ada SINGA LAPAR!" ucap Adit penuh penekanan dan melirik pada Bima.
"Apa sih lo Dit?!" sarkas Bima tidak suka.
"Hehe. Slow man. Peace!" ucapnya dengan tanda perdamaian dengan membentuk huruf V.
"Adit permisi ke kamar dulu semuanya." ucap Adit lalu menggenggam tangan Celia dan meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Ish kamu apaan sih sayang, kan gak sopan ninggalin meja makan!" bisik Celia sambil mengikuti langkah Adit.
"Aku masih lapar!"
"Ya kenapa gak nambah tadi?"
"Mau minta nambah sama kamu! hehe" ucap Adit sambil membawa Celia ke kamar atas.
"Dasar, mesum!!" ucap Celia tapi kemudian lebih cepat berjalan mendahului Adit dan kini bergantian dirinya yang menarik tangan suaminya dengan bibir tersenyum lebar.
Celia segera membuka pintu kamar yang di tujukan untuk mereka jika berkunjung ke rumah itu. Setelah menutup pintu, dia mendorong suaminya, menjepit Adit diantara dirinya dan pintu, lalu menangkup pipi Adit dengan kedua tangannya, sedikit berjinjit dia meraup bibir Adit dengan rakus. Tidak lupa dengan tangan Adit yang mulai tidak mau diam merambah kesana kemari bermain di tubuh istrinya.
Semua orang beristirahat untuk acara yang akan di adakan nanti malam. Karena keterbatasan ruangan di rumah itu, terpaksa keluarga Pakdhe Yudha pulang ke rumah Bima sopir yang mengantarkan, dan nanti malam kembali akan di jemput untuk ke hotel.
Bima dan Lily kembali ke lantai atas untuk beristirahat. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum mereka bersiap-siap.
__ADS_1
"Mas, ada gempa ya?" tanya Lily panik.