Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 102


__ADS_3

Bima Satria.


Aku terbangun karena silaunya sinar matahari yang menerpa wajahku. Oh sialan!! Tidak bisakah matahari tidur lagi?!


Kepalaku terasa pusing dan berat, Ah ya ampun. Aku ingin tidur. Aku ingin tidur!!! racauku dalam hati, tapi aku tetap juga harus bangun kan? Matahari juga tidak akan pergi meski semua orang di dunia protes akan kehadirannya, waktu terus berputar dengan tetap, tidak ada yang berubah. Lihatlah matahari dan bulan sangat disiplin dengan tugasnya. Sedangkan para manusia yang notabene makhluk pemalas, ralat, banyak yang malas, termasuk aku sekarang ini! Aku masih ingin tidur...


Sialan!! Gagalnya kerjasama dengan mr. Hendrik membuat aku jadi frustasi dan akhirnya minuman keras yang menemaniku. Padahal rasanya aku tidak terlalu banyak minum, ya hanya beberapa botol saja. Tapi kenapa aku bisa sampai mabuk? Dan siapa yang bawa aku kemari, apakah Lily? Ya mungkin saja. Karena kalau Dena yang membawaku atau para sahabatku yang kampret itu pastilah aku tidak akan ada disini. Di kamarku. Di rumah Lily.


Aku mencoba duduk, selimut melorot hingga ke pinggangku. Loh, bajuku? Mana bajuku? dada ini rasanya tidak karuan berdentum dengan keras, tiba-tiba fikiran yang tidak aku inginkan terlintas lewat begitu saja tanpa bisa di skip. OMG!


Apa mungkin aku... Lily... Ohhh 😱😱😱 .


Aku memukul kepalaku sendiri saat bayangan yang aku fikirkan tidak juga pergi. Lalu mencoba berfikir keras. Ah tidak! aku mencoba untuk mengenyahkan segala pikiranku. Setengah takut aku membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh bagian bawahku. Selamat. Masih tertutupi. Aku mengelus dadaku. Dan semoga saja memang di antara kami tidak terjadi apa-apa.


Aku butuh air dingin sekarang!

__ADS_1


Aku beranjak dari kasur ku menuju dapur. Apa Lily belum bangun ya? Tumben dia belum masak. Padahal aku lapar sekarang! Sudahlah!


Aku membuka kulkas dan mengambil air dingin dari botol lalu menenggaknya dengan rakus.


Aaahhh segaaarrr!!!


Eh ada kue. Tapi tinggal sepotong. Apa Lily akan marah kalau aku makan ini. Seperti kue ulangtahun keliatannya. Ah biarlah. Aku lapar. Akan aku ganti kue ini nanti sore.


Enak. Tapi sayang aku masih lapar.


"Hei si boss sudah bangun rupanya!" Suara seseorang membuatku terkejut, hingga krim dari mulutku membuncah keluar saat aku terbatuk.


Aku kembali menenggak minumku, rasanya kue ini menyangkut dan tidak mau turun dari tenggorokan. Sial.


"Elo ngapain disini?!" seruku. Terkejut karena si kampret ini ada disini. Eh? Apa dia semalam yang bawa aku kesini? tapi ini kan rumah Lily, apa mungkin Lily minta bantuan Adit?

__ADS_1


"Napa? Kaget lo?" ucapnya sambil tersenyum miring lalu berjalan melewatiku dan sengaja menyenggol bahuku. Dia membuka kulkas dan mengeluarkan jus jeruk dari dalam sana.


Aku masih terdiam saat dia dengan santainya menenggak minuman jus nya.


"Elo..."


"Gue udah tau kok!" ucapnya santai lalu mendaratkan bokongnya di kursi, kembali menenggak jus di gelasnya hingga tandas.


"Gue udah tau soal elo sama Lily."


"Elo yang bawa gue semalam?" tanyaku memastikan, masih penasaran sebenarnya.


"Cihh. Lily yang bawa elo pulang. Hebat dia badan kecil kayak gitu bisa bawa badan gede elo yang kayak kingkong selamat sampe rumah." mukanya terlihat kesal. Aku mendekat dan duduk di depan Adit.


"Terus kalo Lily yang bawa gue kenapa elo bisa ada disini?"

__ADS_1


"Gue gak sengaja lihat elo dan Lily waktu keluar dari klub, gue ikutin deh. Dan akhirnya gue tahu alesan elo suka marah kalau gue ajak Lily keluar." Ucap Adit dengan kekehan. Bima mendecih sebal.


"Mas Bima udah bangun?!" Suara lembut yang aku kenal bertanya dari belakang. Adit tersenyum menyambut kedatangan Lily yang ternyata sudah siap dengan baju kerjanya.


__ADS_2