
"Gue kesini pengen curhat, kampret!" Bima mengikuti Adit ke kamar dan merebahkan dirinya dengan kasar di samping Adit, hingga Adit terlonjak dalam pembaringannya.
"Besok aja deh. Gue ngantuk ih!" seru Adit sambil melemparkan bantal ke arah Bima di belakangnya. Bima mendengus kesal. Niatnya ingin mencari teman tapi temannya malah meninggalkannya tidur. Dasar tukang molor!
Kebiasaan Adit jika sudah terganggu dia tidak akan mudah lagi untuk kembali tidur, meskipun sekarang matanya sudah coba ia pejamkan tapi kesadarannya masih terjaga sepenuhnya.
"Apa sih lo. Katanya mau curhat tapi diem aja!" Adit mulai kesal karena sedari tadi Bima tetap diam hanya melihat langit-langit kamarnya.
"Gak jadi." Ucap Bima. Adit memutar bola matanya malas. Lalu menarik selimutnya hingga sebatas dada.
"Elo suka sama Lily?" tanya Bima setelah mereka hening beberapa saat. Bima ingin memastikan kalau Adit tidak akan menyakiti Lily.
"Gue cinta sama dia." entah kenapa rasanya hati Bima seperti di cubit ribuan tangan saat mendengarnya. Dan entah kenapa dia jadi bertanya hal ini padahal niatnya kesini cuma ingin curhat soal Dena.
"Lily itu beda dari cewek kebanyakan. Elo juga pasti tahu kan gimana dia?" tanya Adit Bima hanya mengangguk. Hening lagi. Lama.
__ADS_1
"Gue suka bukan karena Lily cantik. Tapi gak tau kenapa dia itu selalu ngangenin." Hati Bima terasa panas.
"Tapi malah elo yag notabene udah punya Dena yang bisa deket selalu sama Lily. Selain di kantor juga jatah kunjungan tiap minggu. Heran gue sama elo pake jurus apa sih?"
Bima Satria.
"Heran gue sama elo pake jurus apa sih?" Tanya Adit. "Punya dua istri, cantik-cantik lagi!" serunya. Aku hanya mendelik.
"Lo juga mau kayak gue punya dua istri?" tayaku heran, Adit hanya mendelik ke arahku dengan satu alis terangkat seakan ingin mengatakan seperti aku bangga punya istri dua. NO!
Cihh. Dasar!!
Aku bangkit dari tidurku, dan berjalan menuju jendela apartemen. Terlihat lampu-lampu berpendar di luar sana. Menghiasi malam yang sudah gelap sedari tadi. Indah. Suara kendaraan yang berlalu lalang samar terdengar karena unit Adit ada di lantai lima belas.
Lapar rasanya, aku belum makan malam. Tapi saat aku akan melangkah aku melihat sesuatu yang membuatku tertegun, sekaligus terkejut. Aku mengambil sebuah hiasan yang terbuat dari kayu. Indah. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatianku, melainkan sebuah gelang dengan warna biru langit dan merah muda terbuat dari beberapa helai benang wol yang sudah mulai kusut, di sana ada hiasan anak kucing berwarna perak, dengan huruf 'u' di sebelahnya. Ini persis seperti gelang yang aku berikan pada Una belasan tahun yang lalu.
__ADS_1
"Elo dapet ini darimana?" tanyaku. Adit memutar tubuhnya ke arahku lalu menempatkan kepalanya di atas bantal persis anak kucing yang sedang meringkuk.
"Oh itu. Gue nemu." ucapnya.
Aku masih terdiam tidak mengerti. Apa Una membuang benda ini? Aku tersenyum sendiri. Betapa bodohnya aku, selama ini, belasan tahun memikirkan dia sedangkan pemberianku saja dia buang, sedangkan aku mati-matian menyimpan pemberiannya hingga secara khusus membuatkan kotak kayu dengan kaca untuk menyimpan origami pemberiannya.
"Gue nemu waktu nyelamatin seorang gadis di Jogja waktu itu, di pantai." ucap Adit.
"Gue sama beberapa temen masa SMA gue lagi liburan ke Jogja, reunian. Dan gue gak sengaja lihat dia waktu ngejar temennya. Kayaknya sih itu yang dia kejar." tunjuknya pada gelang di tanganku.
"Temennya itu keterlaluan. Lari ke dalam ombak lalu setelah itu kembali ke tepi sedangkan gadis itu dia gak ada. Sampe temennya khawatir dan teriak minta tolong. Gue yang paling dekat sama mereka dan gue renang buat cari dia. Dia gak bisa renang ternyata, hampir tenggelam. Untung aja gue gak telat nyelamatin karena ombak juga agak besar hari itu."
Aku masih tertegun mendengar ceritanya. Dalam hati terharu karena ternyata Una bisa saja mati karena mempertahankan pemberianku. Maaf, Una. Aku sempat salah berfikir tentang kamu!
"Jujur gue terkesima saat melihat gadis itu. Dia cantik, tapi sayang gue gak bisa lihat mata dia karena dia pingsan saat gue bawa ke tepian. Gue gak bisa lama-lama lihat dia karena temen-temennya datang dan bawa dia pergi. Gue belum tahu nama dia, tapi sekilas kayak denger 'Na'. Mungkin namanya Nana, atau Nina, kali!"
__ADS_1