
Lily benar-benar geram, selama tiga hari Bima tidak pernah membiarkannya. Hanya berhenti jika saat makan dan tidur karena terlewat lelah. Kadang berfikir apa mungkin Bima mempunyai kelainan hingga tidak puas meski sudah berkali-kali.
Salju turun dengan lebat di luar sana. Tapi di dalam kamar itu udara terasa panas karena aktifitas keduanya. Bercucuran peluh di seluruh tubuh mereka. Bahkan pintu balkon yang terbuat dari kaca pun tak luput dari embun nafas Lily. Ya mereka seprti cicak. Nemplok di dinding kaca menikmati waktu kebersamaan sambil melihat indahnya menara Eiffel dengan lampu kelap kelipnya.
Tak cukup hanya di situ saja. Bima membalikan tubuh Lily dan mengangakatnya. Lily melingkarkan kedua kakinya di pinggang Bima. Kedua tangannya melingkar di leher Bima. Ciuman panas dan menuntut terjadi pada keduanya, saling memagut dan mencecap. Tidak terhitung lagi erangan dan desahan saat Bima menggoda dada Lily dengan sebelah tangannya.
Bima membaringkan Lily dengan hati-hati di atas kasur, lalu kembali menghujamkan miliknya tanpa ampun. Lagi Lily hanya pasrah dengan perlakuan suaminya.
Mereka pun tertidur setelah jam lewat dari tengah malam.
Pagi menjelang. Lily terbangun dan merasakan seluruh tubuhnya sakit akibat ulah suaminya. Rasanya lelah dan remuk seluruh tubuhnya. Tangan Bima melingkar di pinggang Lily.
Bima masih memejamkan matanya. Di pandangnya wajah Bima yang tenang saat tidur. Memperhatikan ketampanan suaminya dari mulai dari mata, hidung, hingga bibirnya. Di usapnya wajah lelah nan bahagia itu.
Cup.
Lily tersenyum sendiri. Ingat waktu pernikahan dengan Bima pertama dulu, dia hanya bisa mencuri ciuman dari bibir suaminya saat mabuk.
Cup.
Tapi kali ini dia bisa mencium suaminya dengan puas bukan? Tidak ada kata mencuri lagi!
Cup.
Mata Lily membulat karena ternyata Bima menahan tengkuknya, m*l*mt bibir Lily dengan ganas. Hingga Lily kehabisan nafas. Lily memukul dada Bima meminta di lepaskan. Bima tersenyum saat Lily menghirup udara dengan rakus.
__ADS_1
"Udah berani curi-curi ciuman ya?" senyum nakal Bima tercetak jelas di wajahnya membuat wajah Lily bersemu merah.
"Kamu udah bangun? aku kira masih tidur." ucap Lily malu.
"Aku udah bangun dari tadi."
"Ih. Dasar jahil!" Lily mencubit gemas hidung mancung Bima. Bima hanya tersenyum melihat wajah malu istrinya.
Lily menyingkirkan tangan Bima dari atas tubuhnya.
"Mau kemana?"
"Mandi."
"Enggak ah. Badan aku lengket. Aku mau berendam di bathub."
"Oke!" ucap Bima sambil bangun lalu mengangkat Lily di depan tubuhnya, Lily hanya bisa mengalungkan tangannya di leher Bima. "Ayo kita mandi!"
Haahh dan aku yakin bukan hanya mandi. batin Lily.
Sambil berjalan ke arah kamar mandi Bima mencium Lily tepat di bibirnya.
Bima menurunkan Lily di dalam bathub dan mengisi tempat itu dengan air hangat, tak lupa menambahkan bubble bath, dan setelah air cukup Bima pun masuk ke dalam sana. Kini tubuh polos mereka tertutup busa dari sabun.
"Mas mau sampai kapan kamu ngurung aku di kamar? Aku bosan, capek. Kalau hanya diam di kamar buat apa kita jauh-jauh kesini? Aku mau jalan-jalan."
__ADS_1
Bima hanya tersenyum melihat wajah Lily yang sedang merajuk, dia mengambil sebelah kaki Lily meletakkannya di atas pundaknya dan satu kaki lagi di depan dadanya. Memijat betis kaki Lily lembut membuat si empunya merasa nyaman.
"Nanti sore, kita ke menara."
"Beneran?" Bima mengangguk. Bima menarik kedua kaki Lily sembari mendekatkan dirinya pada sang istri, tangannya dengan sigap menahan tengkuk Lily agar tidak jatuh dan tenggelam di dalam air. Lily terkejut dengan perlakuan Bima yang tiba-tiba. Bima mendudukan Lily tepat di atas pangkuannya.
Secepat kilat Bima menyambar bibir Lily dan mencecapnya. Lily yang masih terkejut hanya bisa pasrah saat suaminya meng*l*m dan menggigit bibir bawahnya. Menciumi rahangnya dan terus turun ke leher meninggalkan bekas merah disana.
Satu tangannya tidak berhenti menggoda tonjolan yang sudah mengeras di dada Lily.
"Ssshh." Lily menggigit bibir bawahnya saat suara laknat itu hampir saja keluar. Bima tidak peduli dia terus menelusuri tiap senti kulit istrinya hingga tibalah dia di benda kembar yang menjadi favorit nya.
"Ahhhh masss."
"Ya sebut namaku sayang!" kembali Bima melakukan aktifitasnya. Lily mengerang nikmat saat merasakan sesuatu menancap pada miliknya.
Bima menatap wajah Lily yang penuh nikmat dan di penuhi kabut gairah. Perlahan namun pasti Bima mengangkat pinggul Lily dan menurunkannya begitu berulang kali. Lily mencengkeram bahu Bima hingga tak sadar menancapkan kukunya disana.
"Bisa?" tanya Bima, Lily mengangguk dan mulai bergerak perlahan, lalu setelah menguasai pergerakannya semakin cepat. Membuat keduanya menggeram nikmat menyebutkan nama masing-masing.
Satu jam lebih hingga air di dalam bathub pun dingin.
Lily mengeratkan selimut pada tubuhnya. Dia benar-benar kedinginan. Lily kira setelah satu kali sesi permainan akan berakhir tapi dia salah. Bima membuatnya lemas lagi di bawah kucuran air.
Lily menatap kesal suaminya yang hanya nyengir tanpa rasa bersalah.
__ADS_1