Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 129


__ADS_3

Karena perih di punggungku aku jadi tidur dengan posisi tengkurap. Menyebalkan! Rasanya masih sakit dan ngilu. Ah, ya ampun!! Untungnya ini hari minggu dan aku tidak perlu pergi ke kantor.


Dua kali Lily membuatku babak belur! OMG!


Karena kejadian semalam, aku jadi sangat lapar pagi ini. Bahkan roti dengan selai coklat plus susu tidak habis ku makan karena ulah Lily. Aku lapar!


Jam masih menunjuk angka enam. Apa Lily sudah bangun?


Aku segera bangkit dari tidurku, berjalan ke arah kamar mandi dan menuntaskan hasratku disana. Maksudnya bukan sesuatu yang dalam tanda kutip loh ya. Menggosok gigi, dan membasuh muka. Lalu bergegas mengeringkannya.


Keluar dari kamar mandi aku hanya memakai kaos yang longgar. Warna biru langit kesukaan ku dengan bawahan bokser sebatas paha.


Suara gaduh terdengar dari dapur. Penggorengan yang beradu, lalu seketika wangi harum masakan menyeruak ke seluruh ruangan. Wangi. Seperti biasanya.

__ADS_1


Lily memakai celemek bergambar helo kitty, sedang berkutat dengan pisau dan bawang, sedangkan kompor masih menyala, sesekali dia berbalik untuk mengaduk penggorengan agar tidak gosong. Repot sekali sepertinya.


"Mau aku bantu?" tawarku. Dia tersenyum lalu mengatakan 'boleh'. Aku segera mengambil celemek yang menggantung di dinding.


Rasanya menggelikan sekali. Bahkan aku tidak pernah membantu Dena memasak, tapi ini... dan celemek ini... ya ampun. Ke-gentle-an ku kemana sudah. Celemek hijau bergambar keropi kini bertengger di tubuhku.


"Mas, tolong potong ayam utuh itu. Bisa kan?" tunjuk Lily dengan ujung pisau yang di pegangnya. Dia masih sibuk dengan bawang di tangannya. Terampil sekali.


Lily mengangkat sayur yang sudah matang dari wajan dan memindahkannya ke piring lalu menyimpannya ke atas meja.


"Mas. stop!!" Serunya saat aku akan mengayunkan pisau ke bawah. Hampir saja. Aku menoleh dengan kening mengkerut. Lily datang dengan wajah yang aneh. Entah lah. Dia marah atau apa?


"Mas, Lily maunya makan daging ayam loh, bukan makan daging manusia!" ucapnya. Aku tetap tidak mengerti. Dan sepertinya Lily tahu apa yang ada dalam fikiranku sekarang.

__ADS_1


"Lihat posisi tangan kamu mas! Kamu mau potong ayam atau tangan kamu sendiri?" Aku memperhatikan tanganku yang berada tepat di atas ayam yang ku pegang. Dan memang benar jika Lily tidak mengentikan tadi mungkin yang ada kami malah akan sarapan di rumah sakit!


Aku tersenyum. Sedangkan Lily merebut pisau daging dari tanganku, lalu dengan tubuhnya dia menyenggolku agar sedikit memberikan ruang untuknya, jadilah sekarang Lily ada di tempatku tadi. Aku memperhatikan dia memotong ayam dengan sangat lihai. Tidak lupa dengan sedikit penjelasan ringan soal potong memotong.


"Katanya mau bantu. Tapi kok bengong aja. Sana kupas bawang sama iris. Lily belum selesai tadi."


"Oke." ucapku ringan. Kalau cuma kupas sama iris bawang gak akan sulit kan?


Tapi aku salah. Ini juga sama menyiksanya. Mataku perih dan berair. Lily tergelak karena melihatku berkali-kali mengelap air mataku dengan punggung tangan maupun ujung celemek.


Masakan selesai. Lily membuat ayam rica-rica, tahu goreng, dan juga ada lalapan segar, wortel yang di rebus juga ada. Wahh aku bisa makan banyak sepertinya. Bye-bye perut kotakku!


Meskipun dengan sedikit perih di tangan karena aku lebih banyak mengiris kulit tanganku daripada bawang, tapi rasanya sangat puas sekali. Dan tanpa terasa aku sudah meminta tambah untuk kedua kalinya. Rasanya sangat berbeda, padahal aku juga beberapa kali makan dengan menu seperti ini. Tapi ini lain dari biasanya. Sangat-sangat lezat. Ada yang bisa menjelaskan?

__ADS_1


__ADS_2