Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 196


__ADS_3

Bima kembali ke rumah sakit untuk terakhir kalinya, ia akan pamit pada Lily sekarang. Nanti sore dia akan kembali ke Jakarta.


Sudah hampir satu jam Bima hanya menatap sedih pada sosok Lily, tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya terlalu sakit untuk kembali berpisah dengan Lily.


"Kamu udah selesai, kan?" Celia sudah berdiri di belakang Bima. Bima hanya mengangguk. Lalu berbalik. Bisa Celia lihat, mata Bima yang memerah dengan sorot mata sedih. Celia menghela nafas berat.


"Hahhh, aku gak tau ya Bim. Gimana jadinya nanti saat kamu jadi suami aku." Bima hanya terdiam, tidak mengerti.


"Kamu masih suka sama Lily?"


Bicara jujur bisa sangat menyakitkan untuk Celia, maka Bima hanya diam.


"Aku gak mau ya punya suami tapi gak cinta sama aku! Aku ini wanita, ingin di cintai juga." Celia menatap mata Bima. Memang tidak pernah ada cinta untuknya di dalam sana. Setiap kali Bima memandang dirinya, dia hanya melihat kekosongan, tidak ada senyum saat mereka bersama.


"Aku akan coba buat cinta sama kamu." Bima pada akhirnya.


"Percuma, Bim. Kita udah lama tunangan, harusnya kamu udah mulai belajar cinta sama aku dari dulu kan? Aku juga tahu, kamu jalanin pertunangan ini karena perusahaan kamu. Tapi kamu mikir gak sih perasaan aku kayak gimana?" Lagi Bima terdiam. Memang benar semua yang Celia bicarakan. Bima tidak bisa lagi mengelak.

__ADS_1


"Ya sudah lah. Aku muak sama hubungan ini! Lebih baik kita batalkan saja semuanya." ucapan Celia membuat Bima bingung.


"Cel, aku minta maaf. Aku memang salah selama ini." Bima mencoba meraih tangan Celia, Celia mundur satu langkah dan mengangkat satu tangannya. Bima terdiam melihat penolakan dari Celia.


"Nyatanya yang kamu cinta selama ini Lily kan? Ibu dari anak kamu! Mungkin kalau dia juga gak punya anak, kamu akan tetap cinta sama dia. Karena dia orang yang kamu cari selama ini!" Celia menutup matanya sejenak, menghela nafas dan membuangnya kasar, saat teringat dengan banyaknya origami di dalam kamar Bima.


"Lebih baik kita batalkan pernikahan kita."


"Cel..."


"Tenang aja. Aku akan minta papa untuk gak cabut semua saham dari perusahaan kamu. Aku akan pastikan itu, Bim."


"Keputusan aku udah bulat Bima. Aku gak bisa nikah sama orang yang gak cinta sama aku!"


"Biar papa jadi urusan aku. Lebih baik kamu tunggu saja Lily bangun, dan jangan lepaskan dia lagi. Kamu dan dia berhak bahagia bersama anak kalian." tidak di sangka selama dalam hidupnya Celia baru kali ini melepaskan sesuatu yang sudah menjadi obsesinya.


"Cel. Aku benar-benar minta maaf. Trimakasih kamu sudah bisa mengerti aku. Maaf kalau aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu harapkan."

__ADS_1


Mereka terdiam beberapa saat lamanya.


"Ya sudah aku akan pulang ke Jakarta. Percuma juga lama-lama disini. Bisa-bisa aku tidak tahan dan akan paksa kamu untuk pulang kesana."


"Lalu gimana soal pernikahan kita. Undangan sudah di sebar kan?"


Celia mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Jangan khawatir, aku yang akan mengurusnya."


"Cel..."


"Udah jangan banyak omong sebelum aku berubah fikiran dan benar-benar akan seret kamu pulang." Celia tersenyum kecut.


"Aku cuma pengen peluk kamu untuk terakhir kalinya sebagai permintaan maafku dan juga rasa terimakasihku."


Celia mendekat dan memeluk Bima, rasa yang selama ini ada untuk Bima harus ia kubur dalam-dalam. Dan mengikhlaskan perasaan Bima hanya untuk Lily dan Yumna.


Dan baru kali ini Celia merasakan detak jantung Bima berbeda dari biasanya, dia lebih terdengar hidup dan berdetak lebih indah dari biasanya.

__ADS_1


"Trimakasih!" ucap Bima.


__ADS_2