Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 217


__ADS_3

"Pergi!" ucap Lily tiba-tiba.


"Na?"


"Pergi aku bilang!" Lily bangun dari tidurnya. Bima hendak membantu Lily untuk duduk tapi tangan Bima di tepis Lily. Ratih dan Adi mendekat ke arah ranjang Lily.


"Una kamu udah sadar?"


"Tolong suruh dia pergi ma!" ucap Lily dingin.


"Una, kamu salah faham sayang, dia..."


"Lebih baik kamu menikah saja sama dia. Biar Yumna aku bawa ke Surabaya!"


"Una tapi dia..."


"Pergi Bima... PERGIII. Aakkhh!!." Lily kembali merasa sakit di kepalanya. Ratih panik sedangkan Adi menekan tombol untuk memanggil dokter. Dan Bima hanya terpaku karena Lily mengusirnya.

__ADS_1


Dokter datang dengan satu perawat. Bima dan yang lainnya keluar dari ruangan sana.


Aku gak tahu kamu bakal kayak gini sayang, maafin aku. Kamu salah faham.


*


Bima menunggui Lily di rumah sakit. Ratih dan Adi pulang untuk menemani Yumna di rumah. Kepala pelayan menelfon tadi, Yumna menangis dan tidak mau diam meski di bujuk.


"Eughh." Lily terbangun dan mendapati kepalanya yang masih berdenyut.


"Una sayang, kamu gak pa-pa?" Lily kembali menepis tangan Bima yang akan menyentuhnya.


"Maaf, kamu jadi seperti ini. Maaf." Bima terisak. Memang ia salah dan tidak pernah mendengar apa yang di katakan mamanya. Baginya sikapnya pada Sofie adalah bentuk kasih sayang antar sepupu. Apalagi Sofie di besarkan di luar negeri dan itu hal yang biasa.


"Aku mau pulang!" Lily bangkit dari ranjang. Tapi Bima tahan. Dokter belum memutuskan apakah Lily bisa pulang atau masih harus tinggal.


"Lepas Bima!" Lily berontak dalam dekapan Bima. Tapi Bima tidak lepaskan malah semakin erat memeluk Lily sembari terisak di belakang pundak Lily.

__ADS_1


"Maaf, Una. Maafkan aku. Aku janji, aku gak bakal kayak gitu lagi. Aku bersumpah dia cuma sepupu aku!"


"Cuma kamu yang aku sayang. I swear. Akan aku berikan semuanya sama kamu, akan aku lakukan apapun agar kamu mau maafin aku. Bahkan kalau kamu minta aku lompat dari jendela kantor ku. Aku akan lompat. Please jangan tinggalin aku sayang, jangan usir aku."


"Aku gak mau, kamu pergi lagi. Aku gak mau jauh sama kamu sama Yumna, aku bisa gila, sayang. Cuma kamu yang aku sayang, cuma kamu yang aku cinta. Kamu segalanya buat aku, Una." Bima membiarkan air matanya mengalir. Dia tidak peduli dengan rasa malu. Yang dia pedulikan sekarang adalah wanita yang berada di dalam dekapannya ini.


Lily tersenyum tipis. Bima jelas merasa bersalah dan sangat menyesal. Terdengar jelas di dada Bima gemuruh dan detak jantung yang tidak beraturan. Isak tangis Bima yang tengah memeluknya.


"Aku bersumpah dengan nyawaku. Kalau aku membuat kamu terluka lagi, bunuh saja aku... Aku pria brengsek yang gak pernah bisa bahagiakan kamu. Tapi aku mohon sayang, beri aku kesempatan untuk membayar semua kesalahan aku, aku janji aku akan coba bahagiakan kamu. Kamu boleh hukum aku setiap hari, aku mau belajar masak. Aku mau beres-beres rumah. Aku yang nyuci, ngepel. Aku akan bawakan kamu lobster dan kepiting setiap hari kalau kamu mau. Aku..."


"KAMU MAU BIKIN AKU GENDUT?" Bima melepas pelukannya, saat Lily berteriak. Bima menatap Lily yang memasang wajah cemberut.


Apa Lily sudah tidak marah?


"Sayang, maafin aku. Maaf." ucap Bima mengambil tangan Lily dan menciuminya berkali-kali. Membuat Lily tersenyum tapi tak sampai terlihat.


"Bima." Bima terdiam saat Lily memanggilnya. Berharap-harap cemas dengan apa yang akan Lily sampaikan.

__ADS_1


"Aku lapar!"


Bima melongo. Hatinya sudah ia persiapan sekuat benteng buatan Belanda dan Lily hanya bilang lapar!


__ADS_2