Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
ban 165


__ADS_3

Lily dan Nila kembali ke area perkantoran, kali ini Lily memilih menjadi karyawan biasa saja bukan sebagai sekretaris seperti sebelumnya. Ia cukup menikmati pekerjaannya disana, tidak terlalu berat menurutnya karena kemampuan Lily jauh di atas itu. Bahkan sang bos menyesalkan keputusan Lily yang hanya menjadi karyawan biasa.


"Ly, kapan kamu cuti lahiran?" tanya Nila saat dia sudah duduk di kursinya.


"Masih lama, mbak. Nanti seminggu dari perkiraan dokter." Lily menyalakan kembali layar komputernya, menunggu sebentar hingga siap di gunakan.


"Rumah sakit mana?" tiba-tiba seorang pria menarik kursi yang lain dan duduk di antara keduanya. Lily dan Nila tidak terkejut sama sekali. Tidak aneh, karena kehadiran pria ini seperti bayangan yang menghilang saat gelap, lalu bayangan itu terlihat ketika lampu menyala.


"Rumah sakit XX, pak." senyum Lily, Danu, manajer keuangan yang selalu gencar mendekati Lily.


"Nanti kalau anak kamu lahir, ijinkan saya untuk mengadani anak kamu, oke?" Danu memang tipe pria yang to the point. Lily hanya tersenyum.


"Ekhemm!!" semua terdiam lalu menunduk saat sang bos lewat. Ekor matanya menatap Lily dengan senyum tipis di bibirnya.


***


Lili Aruna.

__ADS_1


Aku membaringkan tubuhku di atas kasur, lelah sudah pasti, apalagi semakin lama perutku ini semakin besar membatasi ruang gerakku.


Aku memang memutuskan untuk membenci Mas Bima saat itu juga, tapi tidak dengan anakku!


Beruntung saat aku pergi dulu aku tidak tahu jika di dalam rahimku ini sedang tumbuh sebuah kehidupan. Kalau mungkin aku tahu. Entah lah. Mungkin aku akan mengalah lagi dan mencoba akan tetap kuat tinggal bersama orang yang jelas tidak mencintaiku? Ah tidak! Aku bisa kuat terbukti selama ini, tapi anakku? Apakah dia akan kuat seperti ibunya?


"Ini anakku. Hanya anakku!" ucap ku sambil mengusap lembut perutku yang sedari tadi aktif bergerak. Banyak single parents yang bisa membesarkan anaknya sendirian, lalu kenapa aku tidak?


Di tempatku yang baru ini, orang-orang mengenal ku adalah seorang janda yang di cerai suami saat hamil. Memang itu kenyataannya kan? Meskipun sampai saat ini aku belum mengurus surat perceraian karena terlalu sibuk bekerja untuk menyambut kelahiran buah hati ku.


Tok. tok.


Aku memanggilnya mama seperti yang dia minta, beliau punya seorang anak laki-laki. Dia sangat lucu tapi itu fotonya sewaktu berumur delapan tahun. Mama di tinggalkan sang suami yang memilih pergi dengan wanita lain dengan membawa serta sang putra, Tyo. Semenjak saat itu mama hanya sesekali bertemu dengannya, itupun harus mama yang datang ke Jakarta.


Tapi saat dia dewasa, Tyo yang lebih sering datang kesini. Usianya tiga tahun lebih tua daripada aku. Aku penasaran bagaimana rupanya sekarang, pasti dia tampan, dengan mata sipit yang menurun dari ayahnya. Kata mama Mas Tyo sibuk dan belum bisa berkunjung. Foto mas Tyo ada di dalam kamar mama, katanya supaya mama bisa melepas penat sambil memandang foto anak satu-satunya itu. Sayang, aku tidak pernah berani untuk masuk ke dalam sana. Bagi mama kamarnya adalah privasi-nya.


"Ada apa, ma?"

__ADS_1


Mama mendekat dengan membawa sebuah mangkok di tangannya.


"Mama dapat rujak dari tetangga. Mau?" seketika wajahku berbinar. Rujak selalu membuat moodku kembali membaik.


Aku mengubah duduk menjadi tegak lalu mengulurkan tangan menerima mangkok bening dengan isian warna warni. Aku tahu itu adalah rujak acara tujuh bulanan tetanggaku.


Mama duduk di sampingku, memperhatikan aku yang mulai menyuapkan rujak dengan tujuh aneka macam buah.


"Kamu mau adain acara tujuh bulanan?" tanya mama.


Aku menatap mata mama, ada sebuah kesedihan di dalam sorot matanya.


"Gak usah ma, lagi pula itu cuma tradisi, gak wajib kan? Lagipula..." aku ragu. "Lebih baik di kumpulkan buat persalinan kan?" aku tersenyum, mama juga ikut tertular senyumku lalu beliau mengusap lembut pipiku sebelum meninggalkan kamar.


Bukan itu yang sebenarnya mau aku katakan. Acara tujuh bulan yang sering aku lihat, berkumpulnya dua keluarga besar, bahagia, dengan adanya suami yang mencocokan tujuh kain batik pada sang istri. Ah sudahlah. Membayangkannya saja sudah merasa sesak!


Aku kembali menekuri rujak buah di dalam mangkok hingga habis, lalu menyimpannya di atas nakas.

__ADS_1


Kembali menyandarkan diriku pada kepala ranjang, kaki aku luruskan, sedikit bengkak. Teringat dalam sinetron yang pernah aku tonton, saat wanita hamil sang suami lebih perhatian padanya, memijit kakinya di saat bengkak, atau pinggangnya di saat dia lelah. Tapi miris dengan keadaanku. Aku yang memutuskan pergi maka aku yang harus mengurus diriku sendiri.


Sekan mengerti dengan kegundahan hatiku, janin yang ada di dalam perutku bergerak kencang, refleks membuat aku mengelus perutku ini. Setiap kali ku usap, aku akan tersenyum bahagia, melupakan semua beban dan pikiran tentang masa laluku. Aku tidak sendirian!


__ADS_2