
Bima mengendarai mobilnya dengan kasar. Fikirannya tidak tentu arah. Tanpa ia sadar ia sudah melampaui batas kecepatan maksimal. Matanya merah, rahangnya mengeras dengan gigi yang bergemeletuk. Kacau. Bisa di lihat dari penampilannya dengan dasi yang longgar dan rambut yang berantakan.
Bima menghentikan laju kendaraannya di jalanan sepi dengan menginjak rem tanpa mengurangi kecepatannya, hingga tercipta lah dua garis memanjang berwarna hitam di atas jalanan beraspal.
Di bawah lampu jalanan yang remang Bima terdiam. Masih mematung dengan kedua tangan di atas kemudi, dan kakinya yang masih menginjak rem dengan kuat. Perlahan semua itu mengendur seiring dengan flashback nya bayangan tentang yang baru saja terjadi.
Kenapa denganku? Bukannya harusnya aku senang Lily cinta sama aku?Itu berarti dia nggak cinta kan sama Adit?
Bima tertawa sendiri. Lalu bayangan lain, Dena, terlihat di matanya. Seakan kaca mobil di depannya layaknya layar yang menampilkan wajah Dena. Teringat kembali perjuangan Dena untuk membantu mengubah dirinya.
"Gak boleh. Hanya Dena dan Una. Tidak ada Lily! Dena sudah cukup menderita karena Una. Jangan lagi ada yang lain!" Gumam Bima.
"Gak. Lagipula Lily hanya sementara. Hanya Dena! Una... Aaargghhtt!!!" berkali-kali kemudi mobil yang tidak bersalah menjadi pelampiasan Bima.
***
Lily terdiam menatap bingkai foto berukuran besar yang kini teronggok di lantai. Pecahan kaca sudah melukai telapak kakinya, tapi Lily merasa itu tidak berarti, lebih sakit hati Lily sekarang.
Bingkai foto itu hancur terbelah menjadi dua, dan menutupi wajah dirinya. Lily menyingkirkan kerangka foto yang sudah tidak berbentuk hingga kini terlihatlah wajahnya yang mengulas senyum, sementara wajah pria di sampingnya terlihat senyum namun nyata kentara karena terpaksa. Lima bulan yang lalu.
Lily tersenyum kecut. Bagaimana bisa dia kalah. Setelah selama ini selalu memelihara cintanya untuk Bimbim, dan kalah karena permintaan Dena. Tidak bukan karena Dena. Tapi memang karena hatinya yang rapuh. Hatinya yang terlalu rapuh dan tidak bisa bertahan lagi semenjak Bima masuk ke dalam kehidupannya.
***
__ADS_1
Hari-hari berlalu. Masih sama seperti kemarin, mereka bersama tapi masih saling diam. Baik Lily maupun Bima, mereka tetap profesional dalam bekerja meski di dalam hati masing-masing tidak karuan.
"Lily akan minta Mbak Dena buat ijinin Lily pergi." Bima hanya terdiam saat Lily memberikan sebuah berkas padanya.
Lily pergi tanpa menunggu jawaban dari Bima.
Lily sudah bertekad hari ini akan menemui Dena untuk berbicara.
"Halo mbak?"
'Iya, Ly. Ada apa?'
"Bisa kita bertemu?"
"Oh. Lily kira mbak ada di rumah."
'Ada apa? kamu mau bicara sesuatu?' tanya Dena dari seberang telfon. Suara Dena terdengar parau.
"Ah, nanti aja deh kalau mbak udah pulang. Mbak kenapa? Kok suaranya kayak yang lagi sakit?"
'Enggak, suara mbak lagi serak aja. Flu sama batuk. uhukk.. uhukk!'
"Mbak jaga kesehatan dong. Umm mbak...kapan pulang?" tanya Lily sambil menggerakkan jari telunjuknya memutar di atas meja.
__ADS_1
'Paling tiga atau empat hari lagi. Mbak masih sibuk soalnya.'
"Ya udah deh. Semoga cepat sembuh ya mbak. Lily mau lanjut kerja lagi."
Telfon di tutup. Lily terdiam di tempatnya. Lalu bersandar ke sandaran kursi dan menutup matanya sejenak. Tidak berapa lama seseorang memanggilnya. Bima sedang berdiri di depan meja Lily.
"Bisa kita bicara di dalam?" tanya Bima setelah Lily membuka matanya lalu bangkit setelah Bima sudah masuk ke dalam ruangannya.
Lily berdiri. Pandangannya tertunduk dalam. Kedua tangannya saling meremas. Meskipun berusaha untuk tetap tenang, tapi ia tidak bisa. Rasanya ingin menghilang saja sekarang. Pernyataannya malam itu membuat Lily merasa semua jadi berbeda, asing. Tidak ada lagi senyuman di antara mereka.
"Duduk!" Lily menurut duduk di hadapan Bima.
Lama mereka terdiam. Suasana menjadi canggung sekarang.
"Maafin, aku Ly. Harusnya malam itu aku gak bentak kamu. Kamu udah bantu aku dan Dena selama ini. Harusnya aku tahu bagaimana perasaan kamu."
"Lalu sekarang? Setelah mas tahu perasaan Lily?" Bima menggeleng. "Lily udah tahu mas. Jangan pernah salahin diri mas. Biar aja semua Lily yang tanggung. Sudah jelas dalam perjanjian itu Lily yang sudah melanggar." Lily bangkit dari kursinya. "Setelah Lily pamit sama mbak Dena. Lily juga mau resign."
"Kemana?" Lirih Bima. Lily hanya mengangkat bahunya.
"Mungkin kantor mas Adit, bilangnya sih kalau Lily mau kesana, mas Adit mau jadiin Lily sektetaris." kemudian pergi dari sana.
Rasanya sakit sekali. Tapi Bima juga tidak tahu kenapa. Apa karena memikirkan Dena yang akan sedih jika Lily pergi? Atau karena dirinya belum rela dengan perpisahan ini? Apalagi mendengar nama Adit sekali lagi di sebut Lily.
__ADS_1