
Rian masuk ke dalam ruangan. Dena dan Lily saling terdiam dengan fikirannya masing-masing.
Rian memberikan bungkusan plastik berisi makanan pada Lily.
"Belum makan, kan?" Lily mengangguk dan mengucapkan trimakasih pada Rian.
"Ah ya, Ly. Sebenarnya mas Rian ini kakak kandung aku." ucap Dena membuat Lily terkejut.
"Mbak Dena bukannya anak tunggal?" Lily menatap heran pada Dena lalu bergantian pada pria di depannya. Dia hanya tersenyum.
Senyuman manis yang nyatanya sedikit mirip dengan senyum milik Dena terlihat disana. Mata mereka juga sama bulat dengan manik coklat pekat.
"Ibu kami sama, tapi ayah kami berbeda." ucap Dena kemudian. Lily hanya mengangguk tidak mau lagi menuntut cerita tentang masa lalu mereka yang mungkin adalah privasi untuk keduanya. Ya walaupun di dalam hati Lily sangat penasaran. Dan kenapa Mas Rian jadi supir mbak Dena? Dan Mas Bima, kenapa dia tidak pernah cerita? Lalu mama dan papa Dena juga hanya menganggap Rian sopir, dan juga mama dan papa Bima.
Kening Lily mengenyit, memikirkan semua hal yang baru saja terjadi. Rumit. Lily memijit satu pelipisnya, lalu menggeleng dengan cepat berharap semua bayangan yang berusaha ia hubung-hubungkan pergi menjauh. Lily merasa pusing sekarang.
"Kenapa?" tanya Dena saat melihat Lily menggelengkan kepalanya tadi. "Kamu pasti bingung ya?" Lily hanya tersenyum, Dena memang benar. Lily merasa bingung hingga merasa pusing kini menjalar di kepalanya.
"Lain kali mbak akan cerita."
***
__ADS_1
Rian dan Lily berjalan ke parkiran rumah sakit. Lily memilih duduk di kursi depan. Rian lalu menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit. Rian tertegun karena sepertinya Lily ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Ada yang mau kamu tanyakan?" Lily terhenyak karena Rian seperti tahu isi otaknya. Jalanan sudah mulai lengamg karena hari sudah semakin malam.
"Mas Rian. Sejak kapan mbak Dena sakit?"
"Sudah lama. Dan Dena baru sadar dua tahun yang lalu."
"Apa keluarga mbak Dena tahu?" Rian menggeleng lemah wajahnya berubah sendu.
"Dena sangat keras kepala. Dia gak mau semua orang tahu. Hanya kita saja yang tahu soal penyakit Dena." ucapnya lalu menyandarkan tubuhnya dengan lunglai ke sandaran kursi. Kedua tangannya masih setia pada kemudi mobil.
"Gak ada yang bisa kita perbuat selain berdoa memohon yang terbaik buat Dena."
Sepanjang perjalanan mereka berdua terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Mereka sudah sampai di depan rumah Lily. Hampir jam sembilan malam saat Lily masuk ke dalam rumah, sedangkan Rian kembali ke rumah sakit, setelah sebelumnya meminta Lily untuk merahasiakan status Rian dari semua orang. Lagi-lagi membuat Lily bingung hanya mematung di tempatnya, dan berakhir pada usapan lembut pria itu di kepala Lily.
Lily merebahkan tubuhnya di kasur setelah selesai mandi, rasanya segar sekali, tapi fikirannya kusut karena bertambah satu lagi masalah yang akan membuatnya sulit untuk menjauh dari Bima.
Haruskah Lily mematahkan harapan orang yang sedang sekarat? Setidaknya hingga...
__ADS_1
Lily menggelengkan kepalanya. Apa yang dia fikirkan? Dena pasti akan sembuh! kata hati Lily mantap.
Pasti!
Lalu air mata kembali mengalir, entah karena apa.
"Bu. Pak. Lily harus bagaimana?" tanya Lily seraya memandang foto kedua orantuanya hingga akhirnya terlelap karena lelah yang menderanya. Berharap semua jawaban atas permasalahannya akan hadir dalam mimpinya saat bertemu dengan kedua orangtuanya. Lily harap!
***
Bima kembali ke kediamannya. Meringkuk di atas kasur sendirian dengan mata yang basah. Memeluk kedua lututnya dengan tangannya. Penampilan Bima sama kacaunya seperti hatinya. Tidak ada Dena. Tidak ada pelukan. Haruskah dia pergi ke rumah Lily? Tidak Ini sudah malam. Pastilah Lily juga sudah tidur.
Aku gak boleh mikirin Lily, hanya Dena. Una.
Siapa yang aku fikirkan? siapa?
Na dimana kamu? tapi kalimat pertanyaan terakhir itu entah ia tujukan pada siapa. Dena atau Una?!
Bima tertidur setelah lelah yang menderanya dengan teramat sangat. Kembali origami yang selama ini ia simpan tergeletak di lantai dengan kotak yang sudah hancur.
(Apa yang kamu fikirkan BIMA!!Kamu bikin thor gregetan ih. Pengen jitak deh. 👊🏻👊🏻👊🏻😠😠!)
__ADS_1