Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 186


__ADS_3

Sampai saat ini polisi mencari pelaku dari tabrakan. Ada cctv yang menjadi bukti rekaman saat kejadian naas itu, dan hingga sekarang masih melakukan pencarian karena pelaku berhasil melarikan diri.


SATU BULAN KEMUDIAN.


Adit menatap nanar pada sosok mungil yang kini tengah tertidur di samping tubuh Lily, wajahnya sembab dengan sisa air mata yang masih terlihat menggenang di mata indahnya. Menangis meraung-raung setiap hari pun ternyata tidak membuat Lily terbangun.


Ya, satu minggu setelah kecelakaan itu Yumna demam tinggi mungkin karena merindukan sosok sang mama yang tiba-tiba menghilang. Mama Puspa mengajak Yumna untuk bertemu dengan Lily yang hanya bisa terbaring dengan alat pendukung terpasang pada tubuhnya.


Namun hingga satu bulan ini, Yumna hanya mendapati sosok mamanya yang selalu tertidur.


"Maafin Mas Adit, Ly. Mas Adit gak bisa nepatin janji. Setidaknya sebelum terlambat, Yumna harus bertemu dengan ayahnya. Bima akan menikah dua minggu lagi, dan dia akan tinggal jauh dari kita. Yumna juga berhak tahu ayahnya." ucap Adit lalu merengkuh tubuh mungil Yumna untuk di bawa pulang.


"Kalau kamu ingin melarang mas Adit, bangun sekarang juga!" Adit menunggu sebentar, tapi Lily tidak ingin bangun sepertinya.


*


(sedikit flashback dan memperjelas keadaan).


Lily pernah meminta Adit berjanji untuk tidak memberitahukan Bima. Saat dirinya masih dengan ego nya karena masih marah.


Lalu saat Lily sudah luluh dan sadar perasaannya cintanya masih besar untuk Bima, dan ia bersiap untuk bertemu dengan Bima, semua sudah terlambat. Bima sudah bertunangan saat itu. Lagi, Lily meminta Adit berjanji. Jika sampai Bima tahu keberadaan dirinya, pastilah Bima membatalkan pertunangan itu. Dan nasib perusahaan Bima akan kacau. Bagaimana nasib ribuan karyawan yang selama ini bekerja?


Lily tidak ingin menjadi sebab kehancuran Bima untuk yang kedua kalinya, meskipun ini adalah keputusan yang sangat berat. Melihat Bima menikah dengan wanita lain, dan tentunya Yumna yang tidak akan pernah tahu tentang ayah kandungnya.


Saat Yumna masih berusia satu tahun Lily menguruskan surat perceraiannya sendirian, meskipun awalnya sulit karena pihak pengadilan sempat menolak, tapi akhirnya Lily bisa mendapatkannya juga.


Lily mengirimkan surat itu pada Adit, dan Adit melanjutkannya dengan jasa kurir untuk di berikan pada Bima, tanpa di sertakan alamat pengirim tentunya.


Tapi sekarang Adit sudah bertekad untuk membawa Yumna pada Bima. Meskipun belum tentu Adit akan bilang yang sesungguhnya, tapi biarkan Yumna bisa merasakan pelukan dari papanya.


Mama Puspa melepas kepergian Yumna dengan linangan air mata. Dia tidak bisa ikut karena akan menjaga Lily di rumah sakit selama Adit dan Yumna berada di Jakarta.


***


Jakarta.

__ADS_1


Adit dan Yumna baru saja sampai pada siang hari. Adit memutuskan membawa Yumna ke rumah papanya. Akan lebih baik jika Yumna berada di dekat orang banyak, setidaknya Yumna akan ada yang mengajaknya bermain, karena sedari berangkat dari Surabaya dia terus terisak ingat pada sang mama.


"Papi, mama...Yuma mau mama...hiks." Adit sudah membiasakan Yumna dengan sebutan papi semenjak kecil.


"Iya sayang, sebentar ya..." Adit mengambil Yumna ke dalam pangkuannya. "...papi mau cariin dulu hadiah buat mama. Biar mama cepet bangun, Yumna mau kan temanin papi buat cari hadiah buat mama?" wajah Yumna bersinar saat mendengar kata bangun untuk sang mama, dia menganggukan kepalanya hingga rambutnya mengayun.


Papa Adit menatap gadis mungil dalam pangkuan Adit. Sosok Yumna semakin membuatnya ingin Adit segera menikah. Dia juga ingin punya cucu untuk menemani hari tuanya. Tapi entah kenapa Adit selalu menolak saat sang papa akan menjodohkannya dengan gadis pilihan mereka.


***


Adit dan Yumna baru saja keluar dari mall untuk sekedar mencari mainan supaya Yumna bisa tenang. Dan kebetulan sekali yang lain juga akan bertemu untuk sekedar ngopi bareng di kafe.


"Weyyy, gila anak siapa ini lucu banget?" Roman yang baru datang, menoel pipi Yumna dengan gemas, sebelum duduk di kursi kosong dekat Adit. "Elu nyulik anak orang? Atau jangan-jangan ini anak dari pacar elo?" entah bertanya atau mengejek.


Dasar Roman, kalau saja tidak ada Yumna di pangkuannya pastilah Adit akan mengumpati sahabatnya itu. Tidak bisa menjaga lidahnya di depan seorang anak yang masih polos!


"Eh tapi kok kayak mirip siapa gitu!" seru Roman sambil memperhatikan wajah Yumna. Yumna hanya melirik sekilas pada Roman. "Anak cantik sama om, yuk!" ajak Roman kedua tangannya sudah terulur untuk menyambut Yumna. Yumna bergerak takut semakin mendekatkan dirinya pada Adit.


"Haha, muka elo serem, makanya anak gue gak mau." Roman cemberut karena perkataan Adit.


"Muka kayak Lee Min Hoo juga!" cecar Roman tidak terima.


"Apa sih lo berdua ngomongin gue?" Bima baru saja datang saat Adit menyebut namanya.


"Anak elo Dit?" tanya Bima, dia terkejut saat melihat wajah Yumna. garis hidung dan bibir yang mirip dengan seseorang, mengingatkan Bima pada Lily, hanya saja dengan mata yang berbeda.


"Iya ini anak gue. Anak sepupu gue sih!" ucap Adit salah tingkah dia tidak jadi mengatakan yang sejujurnya karena Bima membawa tiga lembar undangan di tangannya.


"Ini undangan pernikahan elo?" tanya Adit, merasa kecewa.


Bima yang masih menatap Yumna mengangguk, menyimpan undangan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Yumna. Adit menatap undangan itu dengan pandangan tidak suka. Bima Satria Mahendra dan Marcelia Adelle Nugraha.


"Gue titip Yumna dulu deh. Pengen ke toilet, dari tadi nahan gak ada yang jagain anak gue." ucap Adit sambil mengalihkan tubuh Yumna ke pangkuan Bima.


"Yumna sama papa Bima dulu ya. Papi pengen ke kamar mandi." Yumna mengangguk, sedangkan Bima merasa serba salah, takut jika anak itu merasa tidak nyaman dalam pangkuannya.

__ADS_1


"Kok gak di kasih ke gue? kan tadi gue yang pengen gendong dia!" Roman protes.


"Udah terlanjur, dah ah gue gak tahan." Adit segera meninggalkan para sahabatnya lalu pergi ke toilet.


"Namanya Yumna ya?" tanya Roman sambil mencubit pelan pipi Yumna. Yumna menolak dengan menepis tangan Roman dari pipinya.


"Sama Om yuk, nanti om beliin permen!" bujuk Roman dengan senyuman yang lebar, tapi Yumna malah merasa takut dengan senyuman Roman yang malah terlihat aneh menurutnya. Dia refleks melingkarkan tangan mungilnya pada leher Bima.


Bima merasa berdebar hati nya, hangat saat tubuh mungil ini memeluknya erat. Seperti sebuah lampu, Yumna menerangi dan menghangatkan hatinya yang sudah lama gelap dan dingin. Entah kenapa, tapi Bima merasa senang.


"Eh cantik, dimana mama kamu, apa mama kamu gak ikut?" tanya Bima. Bima terkejut karena Yumna menjawabnya dengan tangisan.


"Eh elo apain dia? kok nangis?" tanya Roman pada Bima.


"Ih gak tahu gue, elo kan juga lihat gue gak ngapa-ngapain, cuma nanyain emaknya dia!" ucap Bima panik sambil berusaha menenangkan Yumna, beberapa orang pengunjung melihat ke arah mereka.


"Udah sayang, cup. Udah ya." Bima masih berusaha menenangkan Yumna, tapi Yumna malah menangis semakin kencang. "Gimana ini?" tanya Bima pada Roman, Roman hanya mengangkat kedua bahunya.


"Gue juga gak tahu, gue belum pengalaman soal nenangin anak nangis. Kalo cewek yang nangis sih gue bisa nenanginnya." ucap Roman yang di balas pelototan oleh Bima. Jawaban yang tidak membantu sama sekali.


"Eh anak gue kenapa?" tanya Adit lalu mengambil alih Yumna ke dalam gendongannya, tadi Adit setengah berlari saat baru saja keluar dari toilet mendengar suara tangis anak kecil.


"Gak tahu, gue cuma nanyain emaknya dia malah nangis." ucap Bima.


"Ya ampun!" Adit melotot pada Bima.


"Hei gue salah apa?" tanya Bima tidak mengerti.


Adit masih berdiri sambil menepuk-nepuk punggung Yumna dengan sayang hingga anak itu tenang, lalu tidak bersuara lagi. Yumna tertidur dalam buaian Adit.


Adit duduk di bangku dan memposisikan Yumna di pangkuannya dengan tangan kiri Adit sebagai bantal kepala Yumna.


"Gak nyangka lo, dah pinter aja ngurus anak." ucap Roman dengan senyum menyeringainya.


"Dia dari dalam kandungan lebih deket sama gue daripada sama bapaknya!" ucap Adit kesal.

__ADS_1


"Emang bapaknya kemana?" tanya Roman penasaran, sedangkan Bima hanya mendengarkan tapi pandangannya tidak pernah lepas dari Yumna yang sedang tertidur pulas. Benar-benar persis seperti Lily saat sedang tidur. Bima menggelengkan kepalanya.


Wajah anak kecil terkadang masih belum jelas kan? Dan lagi aku juga sedang sangat merindukan Lily.batin Bima.


__ADS_2