
Ratih sedang berada di rumah Lily. Tadi pagi dia baru saja kembali dari Bandung dan membawakan oleh-oleh untuk Lily dan Yumna.
"Nenek. Yuma mau punya dedek." seru Yumna entah sudah berapa kali Yumna memberi tahu neneknya setiap kali sang nenek atau kakeknya datang berkunjung.
"Iya, Yumna mau dedek cewek apa cowok?"
"Hmmm..." Yumna terlihat berfikir.
"Kayak dedek Ali, Nek!" seru Yumna. Ratih dan Lily saling berpandangan.
"Yumna. Kalau dedeknya kayak Keysha, Yumna mau? Kan biar ada temennya main boneka." Yumna mengangguk.
"Dedek laki-laki atau perempuan sama aja kan ya?" tanya Ratih. Sebenarnya Ratih tidak mau Yumna kecewa, apapun jenis kelaminnya nanti manusia tidak bisa menentukan, bukan?
"Gak pa-pa deh, yang penting Yuma punya dedek!" Ratih dan Lily tersenyum senang mendengar Yumna.
Brakk!!
Suara pintu terbuka dengan keras. Ratih, Lily dan Yumna menoleh bersamaan ke arah pintu. Terlihat Bima masuk dengan buru-buru ke arah kamar.
"Kamu udah pulang mas?!" Ratih dan Lily saling berpandangan. Tidak biasanya Bima seperti itu, tidak pernah melewatkan untuk menyapa, apalagi ada sang mama disana.
"Aku masuk dulu ya ma!" pamit Lily. Ratih mengangguk dan mengajak Yumna untuk lanjut bermain.
"Mas!" Lily terheran karena Bima sedang memasukkan bajunya ke dalam koper.
"Kamu mau kemana?"
"Paris!"
"Kamu ada kerjaan disana?"
"Enggak." ucap Bima tanpa menoleh pada istrinya.
"Terus kenapa kamu mau kesana?" Lily menyentuh tangan Bima, barulah Bima berhenti dan menatap Lily.
"Aku sangat ingin Beef Burguignon!"
"Hahh?" Lily bingung, dia sangat asing dengan yang Bima sebutkan barusan.
Bima kembali memasukan bajunya dengan asal, lalu beranjak ke lemari untuk mengambil baju Lily.
"Eh mas..."
"Bersiaplah, kita berangkat sekarang! Lusa kita udah pulang lagi."
"Tapi mas..."
"Cepat, aku tunggu di mobil!" ucap Bima yang tidak ingin mendengar bantahan, lalu keluar dari kamar membawa kopernya.
__ADS_1
Lily ikut keluar, terlihat mama Ratih yang sedang bingung dari tempatnya. Lily menatap Ratih dan hanya mengangkat bahunya.
Bima kembali ke dalam.
"Kenapa kamu belum siap-siap?! Siapkan juga baju Yumna!" ucap Bima. Lalu kembali masuk ke dalam kamar, mengambil satu koper berisi pakaian Lily.
"Pak Naryo!!!" teriak Bima saat keluar dari dalam kamar dengan menenteng koper berukuran sedang.
"Iya pak!" Pak Naryo tukang kebun plus sopir Lily datang dengan setengah berlari.
"Antar kami ke bandara!"
"Iya pak, saya ganti baju dulu."
"Cepat!" teriak Bima, Pak Naryo segera berlari ke belakang.
"Mas. Kamu ini kenapa?"
"Iya Bima! Kamu kenapa?"
"Maaf ma, tapi aku harus ke Paris. Bima sedang ingin makan Beef Burguignon!" Bima melanjutkan langkahnya ke arah luar dengan menyeret koper.
"Pak Naryoooo!!! Ya ampun lama banget sih!" Bima sudah masuk lagi ke dalam dengan berteriak memanggil sopir. Tangannya mengacak rambutnya frustasi.
"Ya ampun Bima!!! Cuma makanan itu dan kamu akan langsung ke Paris? Kamu gak sadar bagaimana kondisi Una dan Yumna?" Teriak Mama Ratih frustasi menghadapi mengidam Bima yang sangat terlalu. Menempuh perjalanan udara hampir dua puluh jam dan hanya untuk makanan itu. Mama Ratih menggelengkan kepalanya.
"Disini juga ada restoran Prancis Bima!" teriak Ratih gemas.
"Pak Naryoooo. Cepaaaat!!" teriak Bima suaranya menggelegar ke seluruh ruangan.
Ratih dan Lily hanya menggeleng melihat tingkah laku Bima.
Santi masuk ke dalam rumah, dia heran melihat dua koper di teras dan juga majikannya yang sedang terlihat berdebat di depan pintu. Maksud hati ingin bertanya, tapi urung karena melihat wajah Bima yang terlihat seram dan tidak enak dipandang!
"Permisi, pak, mbak, Nyonya." Santi menundukan badannya saat melewati ketiga orang itu.
Seketika Bima mencium sesuatu yang lain, yang membuat air liurnya menetes.
"Mbak Santi!" Panggil Bima. Santi yang di panggilpun menoleh.
"Iya pak?"
"Itu apa?" Tunjuk Bima pada apa yang di bawanya.
"Ini. Bakso Malang pak!"
"Kamu belinya di Malang?"
"Eh bukan, cuma namanya aja bakso Malang, saya belinya di depan, tuh orangnya juga masih ada di sana!" tunjuk Santi ke arah luar dimana gerobak bakso masih ada.
__ADS_1
"Buat saya boleh?! Mbak Santi beli yang baru lagi!" ucap Bima sambil merebut kantong plastik di tangan Santi dan mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya. Santi hanya melongo.
"Tapi itu..."
"Udah, sana. Borong semua baksonya. Biar mbak Santi gak kurus!" ucap Bima lalu berjalan ke arah dapur dengan bakso di tangannya.
Santi hanya bingung di tempatnya, mencerna apa yang Bima katakan tadi. Menyinggung soal tubuhnya, padahal tubuh Santi sudah tidak kurus lagi semenjak dirinya kerja di rumah ini, berat badannya berangsur naik.
Ratih dan Lily menghela nafas lega.
"Untung ada mbak Santi!" ucap Lily menoleh pada Ratih, Ratih mengangguk sedangkan Santi masih bengong di tempatnya.
Pak Naryo datang setelah memakai baju dinasnya.
"Pak saya sudah siap." ucapnya saat melihat Bima yang berjalan ke arah dapur.
"Gak jadi pak."
"Gak jadi? Tapi tadi..."
"Eh Pak Naryo!" panggil Lily saat Pak Naryo hendak menyusul Bima.
"Iya mbak?"
"Lebih baik bapak kembali ke taman!"
"Gak jadi berangkat mbak?" tanya pak Naryo heran.
"Enggak jadi! Bapak ke taman aja ya. Tolong urusin mawar-mawar saya aja!"
"Baik, mbak" ucap pak Naryo masih bingung lalu berlalu kembali ke kamarnya dahulu sebelum ke taman di belakang rumah.
Lily dan Ratih menghela nafas lega. Bisa gawat kalau pak Naryo menyusul Bima. Bisa-bisa Bima kembali ingin berangkat ke Paris!
"Ma, dulu mama ngidamnya parah gitu gak sih?" tanya Lily pada Ratih.
"Enggak! Tapi papa yang ngidam, cuma ngidamnya Bima keterlaluan banget ini!" ucap Ratih. Lily menelan ludahnya dengan susah payah.
"Sabar ya Na!" usap Ratih di pundak Lily.
Bima keluar dari dapur dan duduk di depan tv, menikmati bakso yang sudah ia pindahkan ke dalam mangkok dengan sangat perlahan. Wajahnya terlihat sangat menikmati, saat menyeruput kuah bakso pedas itu. Lily dan Ratih menelan ludahnya.
"Kayaknya seger tuh!" ucap Ratih.
"He-em!"
"Kamu mau?" tanya Ratih lagi.
"Emang masih ada di luar gitu ma?"
__ADS_1
"Gak tahu. Siapa tahu aja masih ada!" ucap Ratih. Mereka lalu keluar rumah dan mencari gerobak bakso malang tersebut. Beruntung masih ada tak jauh dari sana.