
"Ini rumah kamu?" tanya Adit saat mereka sudah sampai di depan rumah. Lily mengangguk.
"Rumah sodara sih, mas. Lily cuma nungguin aja daripada kosong." dusta Lily. Adit manggut-manggut.
"Mas, maaf nih ya. Lily gak nawarin mas Adit masuk gak pa-pa kan! Soalnya Lily cuma sendiri. Gak enak sama tetangga kalau masukin tamu pria. Apalagi ini udah malam." ucap Lily, yang sebenarnya adalah Lily takut jika Bima ada di rumah.
Adit kecewa, pasalnya ini masih kurang dari jam tujuh, tapi dia mengangguk dan kemudian tersenyum.
"Oke. Enggak pa-pa, asal lain kali kita bisa jalan keluar lagi kayak tadi."
"Selamat!" ucap Lily dalam hati.
Lily hendak membuka pintu, tapi terhenti karena tangannya di tahan Adit.
"Tunggu, Ly!"
"Iya, mas?"
Adit mengambil beberapa tas karton dari kursi belakang dan menyerahkannya pada Lily.
"Ini buat kamu!"
__ADS_1
"Loh, ini kan buat pacar Mas Adit?!" Kening Lily mengkerut.
"Emang tadi aku bilang mau kasih ini sama pacar aku?" tanya Adit lagi. Lily terdiam.
"Aku beliin kamu, koq."
"Eh, mas. Gak usah mas."
"Trus yang mau pakai ini siapa? Masa aku yang harus pakai baju ini?!" tanya Adit dengan wajah yang berpura-pura bingung.
"Ya mas Adit kasih buat yang lain aja. Adik mungkin, atau sahabat mas Adit?" ucap Lily.
"Aku gak punya adik perempuan. Sahabat aku juga laki semua kan?"
"Aku maunya kamu yang pakai. Aku beli ini kan sengaja buat kamu."
"Tapi mas..."
"Kamu nolak, aku akan maksa masuk ke dalam buat nyimpan semua ini ke kamar kamu! Dan aku gak bisa jamin kalau malam ini aku mau pulang kalau udah ada di dalam sana!" tegas Adit sembari akan membuka pintu mobilnya, membuat Lily tersentak kaget. Sebenarnya Adit tidak serius, tapi dia ingin Lily menerima barang pemberiannya.
"Iya deh. Aku ambil semua. Trimakasih, tapi mas Adit janji gak akan kasih aku hadiah lagi lain kali." ucap Lily sambil merebut tas karton dari tangan Adit. Adit tersenyum menang.
__ADS_1
"Gak janji!" ucap Adit sambil tersenyum dan mengacak rambut Lily lagi. Ya ampun entah berapa puluh kali Lily harus merapikan rambutnya karena perlakuan Adit seharian ini. Eh tidak! Setengah hari!
Lily keluar dari mobil dengan beberapa tambahan tas karton di tangannya. Dia melambaikan tangannya saat mobil Adit akan pergi. Lily menunggu hingga mobil Adit sudah tidak terlihat lagi.
"Untung aja, mas Adit gak maksa buat masuk. Bisa gawat kalau sampe ketemu sama mas Bima disini." batin Lily, Lily segera berbalik untuk masuk ke dalam gerbang, tapi dia terkejut saat melihat sosok pria yang tengah berdiri di belakang nya sambil menyender di pagar dengan kedua tangan di lipat di depan dada. Matanya tajam menatap Lily, kemudian beralih pada barang belanjaan di tangan Lily, dan yang di tatapnya pun hanya menunduk tidak berani melihat ke arah Bima.
"Kenapa Adit antar kamu pulang?" tanya Bima datar.
"Tadi gak sengaja ketemu di bioskop."
"Trus kalian jalan bareng?" masih dengan nada datar.
"I-iya."
"Kamu masih ingat dengan perjanjian kita kan?"
Ya ampun perjanjian lagi!😒😒
"Bagaimana kalau Adit sampai tahu tentang kita, huh?!" bentak Bima dengan nada yang tinggi, Lily terkejut. Bukan salahnya kalau hari ini dia ketemu Adit lagipula mereka juga tidak janjian, mereka hanya kebetulan ketemu. Bukankah disini yang salah Bima? Kenapa juga dia tidak datang? Kenapa juga Bima ingkar janji? Kalau saja Bima tidak ingkar janji, pasti Lily tidak akan kena marah kan? Lily enggak salah! Pokoknya Lily enggak salah!!
"Yang salah disini tuh Mas Bima! Coba kalau mas Bima datang. Aku gak akan nunggu kayak orang ***** sendirian. Aku gak akan nonton sendirian sedangkan yang lain berpasangan atau sama temennya. Dan aku gak akan jalan sama mas Adit. Kita cuma kebetulan ketemu!" teriak Lily tidak terima, lalu pergi meninggalkan Bima dengan keadaan marah. Terserah jika Bima akan semakin marah. Pokonya yang salah disini adalah Bima!
__ADS_1
Bima terdiam melihat punggung Lily yang baru saja masuk ke dalam rumah. Baru kali ini ia melihat kemarahan Lily.