
Bima dan Lily membereskan kekacauan yang mereka buat sambil menunggu kue matang dari dalam oven.
Lily mencuci wadah kotor sementara Bima menyapu lantai, lalu mengepel. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing hingga selesai dan kue pun matang.
Bima duduk di lantai bersandar pada meja pantry. Nafasnya terengah, tidak ia sangka hanya membereskan kekacauan di dapur bisa membuatnya lelah. Tangannya juga terasa pegal.
"Capek ya?" tanya Lily yang ikut duduk di samping Bima.
"He-em. Gak nyangka ternyata cuma kayak gini tapi bikin capek juga." Lily terkekeh lalu mengelap peluh di kening Bima. Bima terpaku dengan perlakuan Lily.
"Kamu kan gak pernah bantuin beres-beres rumah. Jadi wajar kalau cuma kayak gini capek!"
Bima tertegun mendengar Lily memang benar apa yang Lily katakan.
"Kamu dah inget semuanya?" tanya Bima.
"Inget apa?"
"Aku gak pernah beresin rumah."
"Emang Iya kan? Selama aku disini kamu gak pernah bantu beresin rumah. Pulang kerja langsung tidur!"
Bima merasa lesu mendengarnya. Ia kira Lily sudah ingat akan masa lalu mereka.
Lily mengambil tisu basah dari meja lalu mengelap pipi Bima yang tadi ia beri adonan coklat, sudah mengering.
"Maaf ya." ucap Lily.
"Maaf apa?"
"Wajah kamu jadi belepotan, hihi." Lily terkikik masih mengelap pipi dan kening Bima. Bima memegangi tangan Lily.
"Nikah yuk. Biar gak ada yang gangguin kita lagi!" ajak Bima. Lily memiringkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Yakin mau ajak aku nikah? Aku gak ingat siapa kamu loh!"
"Aku gak peduli kamu mau inget atau enggak. Kamu adalah ibu dari anakku. Dan aku mau kamu selalu ada di setiap hari-hari aku, Ly. Gak ada kamu rasanya aku sepi, aku gak bisa tidur sebelum ketemu kamu."
__ADS_1
"Kamu gak lagi telfonan sama Adit kan?" tanya Lily.
"Enggak lah! Kenapa gitu?" Tanya Bima heran.
"Kata-kata kamu."
"Apa?"
"Lebay. Hehe..."
"Ish dasar, aku udah bisa romantis kan?"
Lily menggelengkan kepalanya.
"Aku suka pria romantis. Tapi kalau kamu jadi romantis kok rasanya aneh ya? hehe!" Lily terkikik geli.
"Ish dasar kamu ini!" Bima menarik Lily dan mendudukan tubuh Lily ke atas pangkuannya. Kaki Lily melingkar di pinggang Bima. Bima mengambil kedua tangan Lily untuk melingkar ke belakang lehernya. Bima menautkan keningnya pada kening Lily Hidung mancung mereka saling bertemu.
"Kamu tahu kan selama ini aku cari kamu kayak gimana? Aku hampir gila waktu gak bisa nemuin kamu. Aku hancur Ly. Ini akibat aku yang sakitin perasaan kamu. Aku gak kenal diri aku sendiri. Aku sangat nyesel, bahkan sampe sekarang aku dah ketemu kamu juga..."
"Kamu nyesel ketemu aku lagi?" Lily menjauhkan kepalanya dari Bima, wajahnya cemberut.
"Tadi sampai mana? Aku lupa!"
"Sampe kamu nyesel ketemu aku!" wajah Lily masih sebal.
"Ah ya. Aku nyesel ketemu sama kamu karena aku masih ingat perlakuan aku dulu. Kamu pasti juga sama tersiksa kan sama kayak aku, apalagi kamu hamil Yumna sendirian! Rasanya meskipun aku mati juga aku gak bakalan bisa menghilangkan rasa penyesalan ini. Aku Hembbb..." Lily menjauhkan wajahnya dan menutup mulut Bima dengan telapak tangannya.
"Aku gak mau kamu bilang kayak gitu lagi!"
"Kamu gak akan mati sebelum bahagiain aku. Kamu gak akan mati sampai kamu nikahin aku. Kita akan tua sama-sama. TITIK!!"
Bima melepaskan tangan Lily dari mulutnya. Tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi kamu mau nikah sama aku?"
"Ha?"
__ADS_1
"Itu tadi kamu bilang aku jangan mati kalau belum nikah sama kamu? Berarti kamu mau kan nikah sama aku?"
"Ih, aku..."
"Udah, gak usah ngelak juga. Aku tahu kamu mau kok. Iya kan?" Bima menarik tengkuk Lily tapi Lily menahan tangannya di dada Bima.
"Belum muhrim! Sah kan dulu!" ucap Lily membuat Bima memanyunkan bibirnya kesal. Lily tertawa kecil melihat wajah menggemaskan Bima.
Cup.
Mata Bima melotot saat Lily mengecup bibirnya singkat. Seketika wajahnya memerah, panas, Bima tersenyum malu. Lalu menenggelamkan Lily ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala Lily berkali-kali.
"Bima, udah!" seru Lily melepaskan dirinya dari lingkaran tangan Bima. Bima menatap Lily intens.
"Awas, aku mau pergi."
"Kok pergi?"
"Pergi ah, takut!"
"Takut apa?" kening Bima mengkerut.
"Itu kamu, bangun!" Ucap Lily saat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah bokongnya. Bima segera melepas Lily yang wajahnya sudah memerah.
Lily berdiri di susul dengan Bima, dan alangkah terkejutnya mereka berdua saat mendapati Ratih dan Adi sedang duduk berdua menikmati kue yang mereka buat tadi di meja pantry.
"Eh, mama, papa. Udah lama? Gimana kuenya? Enak?" tanya Lily kikuk. Wajahnya semakin merah saat melihat Ratih dan Adi saling berpandangan dan tersenyum. Rasanya Lily ingin menenggelamkan diri saja ke dalam tanah. Jangan sampai mereka berdua mendengar obrolannya dengan Bima tadi. Lily bisa malu kan?
"Aku permisi dulu. Takut Yumna sudah bangun." ucap Lily lalu pergi dari sana setengah berlari, tidak peduli dengan celemek yang masih melilit di tubuhnya.
Sedangkan Bima hanya menyengir kuda saat melihat tatapan tajam sang mama. Menggaruk tengkuknya yang jelas tidak gatal.
"Hehe, ma, pa..."
"Awas kamu kalau sampai bertindak jauh dari pada itu. Mama nikahkan kamu di pos satpam!" ancam Ratih sambil menunjuk tepat ke wajah Bima.
"Eh jangan dong ma! Masa nikah di pos satpam sih?" rutuk Bima.
__ADS_1
Adi hanya diam menahan tawa sambil terus mengunyah kue di tangannya.