Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 142


__ADS_3

Lily tertegun saat melihat sebuket bunga di tangan Adit, lalu dengan ragu mengambilnya. Adit tersenyum senang. Rencananya hari ini Adit akan mengajak Lily menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Makan malam romantis yang sudah lama Adit rencanakan. Sekalian Adit juga akan menyatakan perasaannya meskipun Lily sudah tahu, toh Adit belum pernah menyatakannya secara khusus.


Sampai di tempat yang di tuju. Lily terkagum dengan pemandangan di depannya sangat indah dengan lampu kelap kelip saat malam. Apalagi cuaca sangat mendukung, langit cerah dengan sedikit awan di ketinggian. Angin bersemilir perlahan.


Adit tak hentinya mengagumi kecantikan Lily yang hanya berpoleskan make up tipis. Dress hitam sederhana setinggi lutut membuat Lily semakin terlihat elegan. Tidak sedetikpun dia melepaskan tangan Lily sedari turun dari mobil tadi.


"Gimana tempatnya? suka?" Lily mengangguk.


"Suka. Cantik."


Adit menarik kursi untuk Lily duduk, mereka makan bersama dalam diam. Sesekali Lily melihat keluar, tersenyum lalu kembali lagi fokus pada makanannya. Sedangkan Adit tak hentinya menatap gadis di depannya ini dengan penuh kekaguman.


"Ly."


"Ya."


"Mas Adit boleh ngomong sesuatu gak?"


"Apa?"


Mereka sudah selesai makan malam, kini sedang berdiri di balkon gedung restoran hotel yang berada di lantai dua belas.


Lily Aruna.


"Kamu tahu kan Mas Adit selama ini suka sama kamu." Aku terdiam mendengar penuturan pria di depanku ini. Sepertinya aku tahu alasan dia membawaku makan malam romantis ke tempat ini. Apalagi sedari tadi aku sudah curiga karena di tempat ini hanya ada kursi dan meja kosong. Hanya ada satu meja dengan dua kursi yang sudah tersedia hidangan lezat dengan lilin yang menyala indah, ruangan juga di buat seromantis mungkin. Kurasa. Suasana di luar cerah dengan bulan yang bersinar temaram. It's perfect. Romantic!


"Mas Adit pengen kita resmikan hubungan kita. Apa kamu punya perasaan yang sama kayak mas Adit rasain sama kamu?" Aku terdiam, mencoba untuk menggali perasaanku padanya. Aku sendiri tidak tahu seperti apa, tapi aku nyaman ada di dekatnya


Dia memegang kedua bahuku lalu memutarnya hingga kami saling berhadapan. Sinar matanya semakin indah karena cahaya bulan yang menerpa kami. Begitu juga dia yang sepertinya terkesima melihatku. Matanya hampir tidak berkedip menatap semua yang bisa ia lihat di wajahku.


Dia menyusuri tanganku dari pundak lalu ke bawah hingga sampai lah kedua tangan itu di pergelangan tanganku. Mengambil jemari tangan ku dengan kedua tangannya, lalu mengangkatnya perlahan hingga di tepat di depan wajahnya. Dia mencium kedua punggung tangan ku dengan khidmat. Kedua matanya tertutup seakan mencoba menghirup aroma mawar dari kulit tubuhku. Seketika mataku berkaca-kaca, entah kenapa.


"Mas." Dia membuka matanya lalu tersenyum.


"Kamu mau jadi pacar mas Adit?" Aku belum menjawab, masih mencoba menggali dan menggali, mencari tahu bagaimana perasaanku pada lelaki di hadapanku ini.


Mas Adit melepaskan tanganku lalu sebelah tangannya merengkuh pinggang rampingku lalu sedikit menariknya lebih dekat lagi, hingga diantara kami tidak ada jarak sama sekali. Hangat rasanya. Tatapan Adit sangat menyejukan seakan membuatku terhipnotis tidak bisa melepaskan diri dari pria ini. Senyumannya selalu membuat aku suka sedari dulu.


Mas Adit semakin tersenyum lebar saat tidak mendapat penolakan dariku. Aku tersenyum menatap sorot matanya yang selalu menyejukan.

__ADS_1


Naluri seorang lelaki membuat Mas Adit mencondongkan wajahnya ke arah ku. Aku mengerti maksudnya. Dadaku berdebar kencang, perasaan ku tidak karuan saat ini. Entah kenapa aku juga memejamkan mataku. Tapi sekelebat bayangan terlintas di otak ku. Aku merasa sedang memeluk orang lain, bukan Adit, tapi dia! Seseorang yang sudah mengetahui perasaanku malam itu. Mas Bima.


OMG.


Ada apa denganku ini? Ku kira aku sudah bisa melupakan dia, tapi kenapa saat ini yang harusnya menjadi momen kebahagiaan untukku malah dia datang mengganggu! Apa yang sebenarnya aku rasakan?


Hatiku... Ya ampun. Apa aku harus mengganti hatiku dengan cara transplantasi organ hati, Jantungku dan otakku juga!


Aku membuka mata. Hampir saja, mungkin lima senti lagi maka bibir kami akan semakin dekat dan beradu.


Mas Adit membuka mata saat yang di rasakan di bibirnya adalah telapak tangan kananku. Keningnya seketika mengernyit, tapi sedetik kemudian dia mengambil tanganku yang masih menempel di bibirnya dan menjauhkannya. Bibirnya mengulas senyum walau bisa ku lihat dari sorot matanya dia kecewa, lalu kembali mendekatkannya dan menciumi telapak tanganku beberapa kali.


"Maaf." Sesalku. Aku menarik tanganku darinya dan menjauhkan diriku selangkah ke belakang, membuat jarak diantara kami. Mas Adit menatapku tidak mengerti, sedangkan aku hanya bisa menunduk dalam tidak berani menatapnya.


"Kamu gak suka sama aku?" tanya Adit dia tetap bergeming di tempatnya.


"Lily suka, tapi..."


"Kamu lebih suka sama Bima kan?" potongnya. Entahlah. Aku memang suka sama Mas Bima, tapi itu dulu. Bukankah aku harus mengubur perasaan ini karena Mas Bima juga tidak pernah mencintaiku kan?


"Lily gak tahu." ucapku bohong. "Lily ngerasa ini salah. Status Lily masih istri Mas Bima." lirihku.


"Tapi tetap saja. Pernikahan kami sah di mata hukum dan agama."


Mas Adit melangkah mendekat, namun masih tetap menjaga jarak di antara kami. Sepertinya dia tahu bagaimana suasana hatiku saat ini.


"Maaf, mas. Maafin Lily." Sekali lagi dia mengambil kedua tanganku lalu mendekapnya di dalam dadanya.


"Mas Adit gak peduli. Mas Adit akan tunggu kamu sampai kamu siap. Mas akan tunggu sampai waktu itu tiba."


*


Mobil berjalan perlahan. Waktu semakin malam saat kami memutuskan untuk pulang.


Sejauh perjalanan yang kami tempuh haya di temani keheningan semata. Mas Adit yang biasanya ceria dan cerewet kali ini hanya diam, menekuri jalanan yang mulai sepi. Sedangkan aku hanya memandang trotoar dan pepohonan yang kini mulai tertinggal degan cepat.


Kami sudah sampai di depan rumah. Masih tidak ada yang mau berbicara.


"Mas Adit."

__ADS_1


"Lily."


Tiba-tiba kami bicara serempak walau tanpa komando. Mas Adit menggaruk tengkuk lehernya walaupun aku yakin tidak gatal, sedangkan aku merasa kursi yang ku duduki semakin lama semakin tidak nyaman.


"Mas Adit duluan."


"Oke. Kali ini gak ada Ladies first." ucapnya lalu tersenyum garing. Membuatku lega karena ternyata dia masih bisa bercanda di saat seperti ini.


"Selamat malam, Lily. Iya cuma itu yang mau aku bilang." ucapnya.


"Selamat malam juga. Umm, maafin Lily mas Adit. Lily gak bisa seperti harapan mas Adit." Mas Adit mengangguk lalu mengisyaratkan agar aku tetap di kursiku. Lalu dia keluar dan memutar ke depan mobil, membukakan pintu mobil yang selama ini menjadi keinginannya karena aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk sekedar ingin romantisan.


Aku menyambut uluran tangan mas Adit, lalu keluar dari mobil. Mas Adit menutup pintu mobil. Lalu mengusap pipiku perlahan. Ya ampun aku sudah membuat anak orang patah hati. Bukan hal yang mudah tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Bukankah akan semakin menyakitkan jika aku menerimanya tapi hatiku untuk orang lain?


"A friend's hug?" tawarnya sambil membuka kedua tangannya dengan lebar, selebar senyum di bibirnya. Aku mengangguk.


"Friend's hug!" ucapku menirukannya lalu mendekat ke arahnya. Merasakan hangat tubuhnya sama seperti tadi. Aku lebih nyaman sekarang. Tidak ada lagi bayangan yang muncul mengganggu kali ini. Ku rasakan kepalaku di hujani kecupan bertubi-tubi. Oke cukup!


Aku melepaskan diriku dari pelukannya. Mas Adit hanya tersenyum kikuk sadar akan perlakuannya tadi saat melihatku melotot padanya.


"Hehe. Mumpung kan!"


"Ya udah cepetan pulang sana! Nanti keburu malam gak bisa lewat lagi!" usirku kali ini.


"Ya kalau gak bisa pulang nginep lagi, bisa kan?" senyum jahilnya mulai keluar lagi.


"Tidur sama pak Dani di pos!" ucapku membuat bahu pria itu merosot ke bawah dengan ekspresi muka yang sangat lucu.


Aku melambaikan tanganku saat dia mulai menyalakan mobilnya, dia membalas lambaian tanganku sebelum kemudian menjalankan mobilnya keluar dari area perumahan ini.


Aku melangkahkan kaki ke dalam rumah. Mas Bima sedang menekuri laptopnya di depan tv yang menyala. Sangat serius sepertinya.


"Baru pulang?" tanya nya. Dan ku jawab dengan 'iya' di sertai senyuman, tapi percuma karena dia tidak menoleh sedikitpun. Merasa tidak ada pertanyaan lagi aku segera naik ke kamarku. Membaringkan diriku di atas kasur. Mencari posisi ternyaman untuk tulang punggungku.


Masih dengan gaun yang belum aku lepas. Aku menatap langit kamar dengan hiasan lampu yang menggantung indah disana. Teringat ucapan mas Adit yang membuat aku terharu.


"Aku gak akan paksa kamu untuk cinta sama aku, kamu juga berhak bahagia. Tapi satu yang mas minta dari kamu, jangan pernah sia-siain air mata kamu buat dia. Aku tahu kamu kuat karena kamu punya orang-orang yang sayang sama kamu. Dan kamu juga sayang sama mereka. Tapi please kalau sampai dia buat kamu menangis atau terluka, mas akan pastikan akan bawa kamu pergi."


Kami sudah sepakat, tidak akan ada kisah yang lebih di antara kami selain seorang adik dan kakak. Karena semakin dalam aku menggali hatiku, yang aku rasakan hanyalah kenyamanan darinya, perlindungan, dan perhatian. Tidak ada cinta karena kurasa sudah ada yang membuat aku kehabisan rasa itu untuk orang lain.

__ADS_1


__ADS_2