Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 260


__ADS_3

Usia Syifa sudah satu tahun sekarang, pesta kecil-kecilan di adakan di rumah itu dengan sederhana. Para sahabat Bima datang untuk ikut merayakan.


Acara pesta itu membuat Lily merasa lelah. Selain karena perutnya yang sudah sangat besar karena ada dua nyawa di dalam sana.


Selang beberapa hari Lily masuk ke rumah sakit. Kali ini persalinan di lakukan dengan cessar, karena kondisi Lily yang tiba-tiba menurun pra persalinan dan tidak memungkinkan untuk persalinan normal.


Semua orang berkumpul di depan ruang operasi. Semua gelisah dan khawatir. Yumna masih di sekolah dan Syifa di tinggal saja di rumah bersama Ratna.


Setelah beberapa jam akhirnya dua bayi kembar telah lahir ke dunia, suara tangis pertama mereka terdengar indah.


Pintu ruangan terbuka. Dua orang perawat membawa dua bayi kembar itu keluar menuju ke ruangan inkubator. Untuk kedua kalinya Bima mengadzani putra mereka. Keduanya laki-laki. Bima berucap syukur lengkap sudah kebahagiaan mereka.


Lily masih berada di dalam ruang operasi, tindakan lanjutan sedang di lakukan.


Ratih dan Adi menatap dua bayi mungil dari kaca di depan ruangan inkubator. Mereka menangis bahagia, akhirnya penerus keluarga mereka telah lahir.


Bima masih berada di depan ruang operasi dia berjalan kesana kemari merasa khawatir dengan keadaan Lily.


"Udah Bim. Duduk deh!" ucap Roman yang baru datang tiga puluh menit yang lalu dengan Nila.


"Iya mas. Kita doakan yang terbaik buat Lily."


"Gue masih khawatir. Gak bisa nemenin Una di dalam."


"Percayakan saja sama dokter. Lagian kata dokter proses lahiran juga lancar kan?"


Bima mengangguk tapi fikirannya tetap tidak bisa tenang.


Setelah semua selesai Lily di bawa ke ruangannya. Lily masih dalam pengaruh obat bius. Dia masih lemas, dan tertidur.


Bima mengelus kepala istrinya dengan sayang. Sungguh berat perjuangan seorang wanita. Dari mulai mengandung hingga melahirkan.

__ADS_1


"Trimakasih, sayang. Trimakasih." Bima tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia sangat bersyukur mendapati istri yang bisa membuatnya bahagia yang telah melahirkan anak-anak mereka.


Hari-hari berlalu. Lily dan putra kembar mereka sudah di perbolehkan pulang. Akibat operasi itu Lily tidak bisa bergerak dengan bebas. Area bekas operasinya masih terasa linu.


"Waktunya makan." ucap Bima pada Lily. Bima membantu Lily duduk setengah bersandar dengan menumpuk bantal di bawah punggung Lily.


"Gimana keadaan kamu?"


"Agak gatal di dalam mas."


"Kata dokter itu wajar. Pemulihan dari bekas operasi. Buka mulutnya." Bima menyuapi istrinya dengan telaten.


"Arkhan dan Azkhan mana?" Tanya Lily.


"Lagi sama mama dan mama Melati."


Setelah di beri kabar, Melati datang seorang diri ke Jakarta untuk melihat cucu barunya. Bima senang Melati menyayangi Lily dan anak-anaknya dengan sepenuh hati.


***


Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun.


Si kembar sudah memasuki usia tk, begitu juga dengan Syifa yang berada satu tingkat di atasnya. Si kembar tk A dan Syifa tk B. Sedangkan Yumna kelas lima di tingkat SD.


Tidak terasa hari-hari berlalu begitu cepat.


"Mamaaaa....!!" teriakan Syifa terdengar hingga ke area dapur. Syifa tengah di kelilingi oleh kedua adiknya yang menari-nari sambil berputar-putar. Mata Syifa basah, kedua tangan dan kakinya terikat dengan kain jarik. Syifa mencoba berontak.


Lily yang sedang memasak di dapur berlari ke ruangan bermain diikuti Santi di belakangnya, mereka khawatir pada Syifa yang terus berteriak.


"Ya ampun Arkhan, Azkhan!!! Apa yang kalian lakukan sama Syifa?!!!" teriak Lily terkejut melihat keadaan Syifa. Lily membuka simpul kain jarik yang membelenggu tangan putrinya yang membekas berwarna merah.

__ADS_1


"Kami gak ngapa-ngapain, ma! Kita cuma lagi main polisi dan Syifa jadi penjahatnya. Syifa ke tangkap. Kan kalau penjahat ke tangkap harus di ikat, iya kan Az?" Arkhan menyenggol lengan adiknya, Azkhan mengangguk mengiyakan.


"Iya ma!" jawab Azkhan singkat.


"Tapi kalian gak boleh ikat kakak kalian seperti ini, gak boleh menyakiti yang lain! Lihat Syifa jadi nangis kan?" Tangan dan kaki Syifa sudah terlepas, Syifa berhambur di pelukan Lily.


Arkhan dan Azkhan tertunduk dengan wajah yang bersalah.


Bima baru saja pulang dari kantor dan mendengar suara keributan yang terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Bima. Lily menyerahkan Syifa yang masih menangis pada Santi. Santi membawa Syifa pergi keluar.


"Lihat duo rusuh ini, mas. Mereka ikat Syifa, tadi!"


"Maafin kita mama." ucap Arkhan dan Azkhan bersamaan.


"Arkhan! Azkhan! Pergi ke kamar kalian!" titah Bima yang langsung di angguki keduanya, dan mereka pun naik ke kamar mereka di lantai dua.


Bima mendekat ke arah istrinya yang terlihat lelah, lalu memeluknya.


"Kamu kelihatan capek!" ujar Bima mencium kening Lily.


"Lumayan mas. Duo rusuh itu yang bikin aku pusing dan capek!" Lily mengeratkan pelukannya pada sang suami.


"Nanti malam aku pijitin kamu. Plus bonusnya. Spesial!" ucap Bima lirih.


"Spesial apa?" tanya Lily.


"Umm... apapun yang kamu mau." Bima tersenyum lalu mengecup bibir istrinya.


Lily menarik kepalanya menjauh.

__ADS_1


"Udah, nanti kalau terciduk lagi bisa malu, mas!" Lily mengingatkan tentang beberapa hari yang lalu.


__ADS_2