Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 41


__ADS_3

Pintu terbuka, Adit dan Roman masuk dan duduk tanpa meminta persetujuan dariku seperti biasanya. Dan Yoga seperti biasanya juga dia akan sedikit terlambat.


"Kenapa lo?" tanya Roman saat melihat tanganku yang bergurat merah.


"Kena pukul. Gue di kira maling sama L... orang!" fiuh hampir aja keceplosan!


"Haha, elo pasti godain anak tetangga kayaknya." Roman tertawa puas, begitu juga dengan Adit. Sialan!


"Sialan!" umpatku.


"Koq bisa sih, Bim?" Adit bertanya masih terkikik.


"Au ah. Gue males bahas!" ucapku sambil menutupi kembali luka lebam dengan lengan kemeja ku.


Pintu terbuka membuat kami bertiga menoleh. Yoga diikuti oleh Lily di belakangnya. Yoga dengan cengiran khasnya ketika terlambat. Basi!


Yoga mengambil sebuah kursi yang lain lalu menyeretnya ke dekat mejaku. Sedangkan Lily sudah berada di sampingku untuk menunjukan berkas-berkas yang akan di bahas saat meeting nanti.


Aku mengangguk, pekerjaan Lily sangat memuaskan dan tidak pernah mengecewakan selama ini. Bukan karena dia itu istriku yaaa, tapi memang dia benar-benar bisa bekerja dengan baik.


"Sssttt." Aku menoleh mencari asal suara itu.

__ADS_1


"Sssttt. Honey." Adit! Dasar mata keranjang! Beraninya memanggil istri... maksudku Lily dengan sebutan itu di depanku!


"Ekhemmm." Aku berdehem membuat Lily kembali fokus pada berkas-berkas nya.


"Oke, kembali ke meja kamu. Dan tolong telfon OB buatkan minuman untuk kami berempat."


"Siap pak!"


Aku lega saat Lily sudah menghilang di balik pintu. Rasanya ingin sekali aku merekatkan mata Adit dengan menggunakan lakban supaya dia gak berani menatap wanita dengan tatapan mesum seperti itu!


"Bim. Lily makin cantik aja!"


"Hooh." Roman menanggapi.


Pintu kembali terbuka. Syukurlah bukan Lily yang masuk. Eh, tapi kan tadi aku memang minta OB yang antarkan!


"Silahkan Mas." Lalu OB itu undur diri setelah menyimpan minuman kami di atas meja.


Tanpa banyak basa-basi aku mengajak ketiga sahabatku ini untuk membahas soal meeting yang akan di lakukan sebentar lagi.


Rasanya badan ini pegal sekali, setelah seharian bekerja, meeting dan meninjau pembangunan proyek mall membuat badanku seakan terasa remuk.

__ADS_1


Aaahhh. Aku membaringkan diri di sofa. Meskipun ada kamar di dalam kantorku ini tapi rasanya sangat malas untuk pergi kesana. Apalagi jam pulang kantor masih satu jam lagi. Meskipun aku bos disini tapi aku juga tidak boleh seenaknya datang dan pergi, aku ingin semua karyawan ku disiplin, maka aku juga harus memberikan contoh yang baik pada mereka.


Tok. Tok.


Ah siapa lagi yang mengganggu. Aku hanya ingin memejamkan mata sekarang, setidaknya sepuluh menit saja.


Tok. Tok.


"Masuk!"


Pintu terbuka menampilkan sosok yang sebenarnya tidak mau sering aku temui. Tapi apalah daya, justru kami sering bertemu karena dia adalah sekretarisku.


"Um pak. Boleh saya masuk?"


"Hemmm." Aku berdehem, tapi tidak mengubah posisi ku yang masih berbaring nyaman di atas sofa. Lily mendekat dengan perlahan lalu berdiri di dekat kakiku.


"Pak Wayan dari perusahaan XX minta bertemu pada jam tujuh malam nanti, pak."


"Emmm." ucapku sambil memejamkan mata. "Apa lagi?" tanya ku malas.


"Hanya itu, Pak. Ini mengenai proyek hotel di Bali yang waktu itu...."

__ADS_1


Lalu kemudian suara Lily menjadi samar, dan tak lama setelah itu menghilang entah kemana.


__ADS_2